|
Opini:
Harian Pagi Pedoman Rakyat
Rabu, 18
Desember 2002
Oleh
: M. Zulficar Mochtar
Sulit sekali untuk bisa membantah bahwa masyarakat Sulawesi Selatan
adalah masyarakat maritim. Ditinjau dari segi historis, keberadaan kerajaan
‘maritim’ Gowa ratusan tahun lalu, malang melintangnya kapal phinisi dan sandeq
di berbagai belahan dunia, serta gagah-perkasanya pelaut-pelaut kita sudah cukup
signifikan sebagai indikator. Demikian pula karakteristik wilayah Sulawesi
Selatan yang menaungi ratusan pulau-pulau dan mayoritas kabupaten/kota pesisir,
tak pelak lagi, menyimpan potensi sumber daya alam pesisir dan laut yang begitu
melimpah.
Ironisnya,
masyarakat pesisir dan laut kita justru ‘tertinggal’ jauh hampir di semua
dimensi kehidupan. Coba lihat untuk skala Indonesia maupun Sulawesi Selatan,
dimana kantong kemiskinan terbesar? Dimana tingkat kesehatan dan sanitasi yang
paling buruk? Dimana tingkat dan pelayanan pendidikan yang paling rendah? Dimana
tingkat putus sekolah yang tertinggi? Dimana ketersediaan sarana dan fasilitas
yang paling minim? Dimana tingkat akses pelayanan masyarakat yang paling tidak
memadai? Dimana aspek dan pelayanan hukum yang paling minimum? Dimana alokasi
pembangunan yang paling kecil? Dimana tingkat kunjungan para pejabat yang paling
rendah? Dan ratusan pertanyaan sejenis lainnya bisa
diarahkan. Dan kalau mau jujur,
jawabannya adalah di wilayah pesisir dan utamanya di gugusan kepulauan
Tidak heran apabila berbagai
penelitian menunjukkan bahwa potensi kelautan kita semakin terdegradasi. Kondisi
terumbu karang kita yang bagus, misalnya tinggal 6 % saja. Demikian pula hasil
tangkapan nelayan tradisional kita yang mayoritas semakin berkurang. Ukuran
ikan-ikan yang didapatkanpun semakin lama semakin kecil. Dan para nelayan harus
mengayuh sampan atau perahu motor lebih jauh dan lebih lama dengan biaya yang
lebih besar untuk mendapatkan ikan. Pengembangan Kelautan di Sulawesi
Selatan
Untuk daerah yang
karakteristik lautnya tidak sekental Sulawesi Selatan, barangkali
perangkat pembangunan kelautan saat ini masih cukup relevan. Aspek kelautan
mungkin hanya mereka jadikan sebagai salah satu mata rantai pembangunan yang
perlu dikembangkan. Ketergantungan masyarakat dan prioritas pembangunan belum
menjadi ‘kebutuhan’ yang mendesak. Tentu
saja, kondisi ini berbeda dengan tantangan pembangunan di provinsi Sulawesi
Selatan. Di provinsi ini, aspek kelautan bukan hanya salah satu komponen
pembangunan, melainkan fondasi dan ujung tombak yang dapat melingkupi semua
sektor lainnya. Kelautan menjadi sangat ideal untuk menjadi perekat yang paling
sinergis terhadap semua sektor, yang paling relevan dan realistis untuk mencapai
tujuan-tujuan pembangunan strategis. Dengan mengedepankan pembangunan kelautan,
orientasi ekonomi dapat diarahkan kepada pengembangan dan pemberdayaan
perekonomian masyarakat pesisir secara kolektif yang tidak hanya mengandalkan
perikanan. Pembangunan kesehatan dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan
pelayanan kesehatan dan sanitasi masyarakat pesisir dan kepulauan kita. Format
pengelolaan sistem pendidikan di Sulsel dapat diterjemahkan sebagai upaya untuk
mencerdaskan masyarakat pesisir dan pulau serta untuk memanfaatkan potensi
sumber daya yang ada secara berkelanjutan. Porsi pembangunan sarana dan
prasarana memungkinkan diinisiasi secara selektif dan efektif di kawasan pesisir
sehingga dapat mengakselerasi perkembangan pembangunan yang diinginkan. Demikian
pula kebijakan-kebijakan makro maupun mikro secara politis dapat berakar kepada
kecenderungan menjawab berbagai permasalahan dan kompleksitas masyarakat pesisir
dan pulau kita. Aspek penegakan dan pelayanan hukum potensial untuk
mengembangkan pola yang dapat memperkuat hak-hak dan ketahanan masyarakat
pesisir dan kepulauan kita yang selama ini terpasung. Sementara dibidang
pariwisata, Sulsel diharapkan akan mampu menginisiasi pengembangan pariwisata
berwawasan lingkungan berbasis bahari. Dan seterusnya. Dengan
begitu, di bidang kesehatan Sulawesi Selatan nantinya akan bisa berbicara di
tingkat nasional menjadi pusat pengembangan kesehatan pesisir dan kepulauan.
Demikian pula dibidang pendidikan, Sulsel bisa menjadi pusat pengembangan format
pengembangan pendidikan kawasan pesisir dan kepulauan yang efektif dan mampu
melahirkan sumber daya manusia yang handal. Sulsel juga diharapkan dapat
menjawab berbagai masalah-masalah kebijakan pesisir dan kelautan secara elegan.
Dan yang terpenting, Sulawesi Selatan bisa menjadi pusat pengembangan dan
pemanfaatan potensi kelautan secara berkelanjutan. Integrasi semua sektor dan
bidang tersebut kedalam format pengembangan kelautan idealnya akan dapat
mengangkat pertumbuhan perekonomian maupun komponen lainnya secara paralel.
Sehingga selanjutnya, dengan berbagai keunggulan komparatifnya, provinsi
Sulawesi Selatan bisa menjadi center of excellence atau pusat kebanggaan,
keunggulan dan model pembangunan kelautan Indonesia. Perlunya Dewan Maritim DaerahVisi
pembangunan di atas tentu saja tidak ringan namun bukan tidak mungkin dapat
tercapai. Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah strategis yang efektif, terpadu
dan komprehensif. Dibutuhkan pula rombakan pemikiran dan revolusi arah dan
kebijakan pembangunan yang signifikan di Sulawesi Selatan. Konsensus atas proses
perencanaan dan target pencapaian indikator pembangunan yang realistis di semua
lini dan sektor perlu digalang. Model-model pembelajaran dan cerita sukses
(success story) dari berbagai wilayah perlu diadopsi dengan memasukkan
muatan lokal yang substansial. Nah,
kendaraan paling strategis yang bisa mengantar pada pencapaian misi
merevitalisasi pengembangan kelautan Sulawesi Selatan tersebut adalah dengan
membentuk suatu Dewan Maritim Daerah. Dewan Maritim Daerah ini idealnya
beranggotakan berbagai representasi stakeholders dan komponen masyarakat yang
relevan dengan pencapaian target pembangunan. Berbagai sektor misalnya
pendidikan, perhubungan, pertanian, kesehatan, pariwisata, dan pertahanan
keamanan perlu dilibatkan kesana. Demikian pula peran pengusaha dan lembaga
swadaya masyarakat serta perwakilan masyarakat perlu diakomodir. Format ‘duduk
satu meja’ untuk membahas kompleksitas permasalahan kelautan adalah mekanisme
mutlak yang harus dikembangkan. Dewan
Maritim Daerah inilah yang akan bertugas membahas berbagai isu dan permasalahan
pembangunan kelautan yang ada, mengulas berbagai peluang dan tantangan yang
dihadapi, kemudian memberikan rekomendasi dan pertimbangan rasional kepada
pemerintah untuk menyusun rencana dan strategi implementasi pembangunan yang
terpadu dan indikator yang realistis. Atas dasar inilah, komponen stakeholders
membahas peran, tugas dan tanggung jawab yang perlu dimainkan untuk menjawab
permasalahan tersebut dan mengoptimalkan pencapaian target
pembangunan. Prinsipnya, Dewan Maritim Daerah yang dibentuk diharapkan dapat menjadi sebuah tim yang bekerja secara proaktif dalam membantu merumuskan format dan prioritas pembangunan untuk menjawab permasalahan, mengharmonisasikan seluruh program-program pembangunan yang relevan, mendinamisasi upaya pencapaian target-target pembangunan, dan membantu pemerintah dalam mengantisipasi kompleksitas permasalahan kelautan. Sekali
lagi, tentu saja hal tersebut tidak ringan. Namun kalau kita ingin serius
mengejar ketertinggalan Sulawesi Selatan di berbagai bidang, ingin mengurangi
komposisi masyarakat miskin kita, ingin meningkatkan status pendidikan
masyarakat kita, dan bertekad untuk mengembalikan harkat dan martabat masyarakat
bahari yang pernah kita miliki,
maka visi pembangunan kelautan sebagai ujung tombak menjadi sangat
realistis untuk diadopsi. Dan keberadaan Dewan Maritim Daerah, kalau dibentuk,
insya Allah akan mampu menjadi lokomotif pembangunan di Sulawesi
Selatan. Jl. Dr. Sam Ratulangi No. 47
To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. |
