Teman-teman dalam diskusi Pembangunan Berkelanjutan di Envorum,
Siapakah yang masih berwibawa di negeri ini?
Dalam permenungan tersebut saya sampaikan kepada teman-teman dimanapun
berada, apa yang telah terjadi dalam kerja professional seorang rekan kita
dalam dunia media/jurnalisme.
Saya pertama mengenal Taufik di Rutan Salemba tahun 1995, saat kondisi
sulit mengelilinginya dalam penjara regim Soeharto juga karena perjuangan
kebebesan pers yang diyakininya!
Saya menyaksikan ia begitu tangguh menghadapi dan melewati situasi
tersebut.
Untuk Taufik sendiri - jangan sampai ketakutan mengalahkanmu, sahabat!
Teriring salam,
Harining Mardjuki
Fellow LEAD Cohort 8
{\rtf1\ansi\ansicpg1252\uc1 \deff0\deflang1033\deflangfe1033{\fonttbl{\f0\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman;}{\f16\fswiss\fcharset0\fprq2{\*\panose 00000000000000000000}News Gothic MT;}{\f68\froman\fcharset238\fprq2 Times New Roman CE;}{\f69\froman\fcharset204\fprq2 Times New Roman Cyr;}{\f71\froman\fcharset161\fprq2 Times New Roman Greek;}{\f72\froman\fcharset162\fprq2 Times New Roman Tur;}{\f73\froman\fcharset186\fprq2 Times New Roman Baltic;}}{\colortbl;\red0\green0\blue0;\red0\green0\blue255;\red0\green255\blue255;\red0\green255\blue0;\red255\green0\blue255;\red255\green0\blue0;\red255\green255\blue0;\red255\green255\blue255;\red0\green0\blue128;\red0\green128\blue128;\red0\green128\blue0;\red128\green0\blue128;\red128\green0\blue0;\red128\green128\blue0;\red128\green128\blue128;\red192\green192\blue192;}{\stylesheet{\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid \snext0 Normal;}{\s1\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel0\adjustright \fs36\cgrid \sbasedon0 \snext0 heading 1;}{\s2\ri-1622\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel1\adjustright \b\i\fs36\cgrid \sbasedon0 \snext0 heading 2;}{\s3\qj\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel2\adjustright \b\f16\lang1057\cgrid \sbasedon0 \snext0 heading 3;}{\s4\qj\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel3\adjustright \f16\fs22\ul\lang1057\cgrid \sbasedon0 \snext0 heading 4;}{\s5\qj\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel4\adjustright \b\f16\fs22\lang1057\cgrid \sbasedon0 \snext0 heading 5;}{\*\cs10 \additive Default Paragraph Font;}{\s15\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \fs36\cgrid \sbasedon0 \snext15 Body Text;}{\s16\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \f16\fs22\lang1057\cgrid \sbasedon0 \snext16 Body Text 2;}{\s17\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \b\f16\fs22\lang1057\cgrid \sbasedon0 \snext17 Body Text 3;}{\s18\nowidctlpar\widctlpar\tqc\tx4320\tqr\tx8640\adjustright \cgrid \sbasedon0 \snext18 footer;}{\*\cs19 \additive \sbasedon10 page number;}}{\info{\title Kronologi}{\author User}{\operator User}{\creatim\yr2003\mo3\dy11\hr
17\min49}{\revtim\yr2003\mo3\dy11\hr17\min50}{\version1}{\edmins1}{\nofpages9}{\nofwords3647}{\nofchars20789}{\*\company PT.GRAHANUSA MEDIATAMA}{\nofcharsws25530}{\vern71}}\widowctrl\ftnbj\aenddoc\formshade\viewkind4\viewscale100\pgbrdrhead\pgbrdrfoot \fet0\sectd \linex0\endnhere\sectlinegrid360\sectdefaultcl {\footer \pard\plain \s18\nowidctlpar\widctlpar\tqc\tx4320\tqr\tx8640\pvpara\phmrg\posxr\posy0\adjustright \cgrid {\field{\*\fldinst {\cs19 PAGE }}{\fldrslt {\cs19\lang1024 1}}}{\cs19
\par }\pard \s18\ri360\nowidctlpar\widctlpar\tqc\tx4320\tqr\tx8640\adjustright {
\par }}{\*\pnseclvl1\pnucrm\pnstart1\pnindent720\pnhang{\pntxta .}}{\*\pnseclvl2\pnucltr\pnstart1\pnindent720\pnhang{\pntxta .}}{\*\pnseclvl3\pndec\pnstart1\pnindent720\pnhang{\pntxta .}}{\*\pnseclvl4\pnlcltr\pnstart1\pnindent720\pnhang{\pntxta )}}{\*\pnseclvl5\pndec\pnstart1\pnindent720\pnhang{\pntxtb (}{\pntxta )}}{\*\pnseclvl6\pnlcltr\pnstart1\pnindent720\pnhang{\pntxtb (}{\pntxta )}}{\*\pnseclvl7\pnlcrm\pnstart1\pnindent720\pnhang{\pntxtb (}{\pntxta )}}{\*\pnseclvl8\pnlcltr\pnstart1\pnindent720\pnhang{\pntxtb (}{\pntxta )}}{\*\pnseclvl9\pnlcrm\pnstart1\pnindent720\pnhang{\pntxtb (}{\pntxta )}}\pard\plain \s1\qj\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel0\adjustright \fs36\cgrid {\b\f16\fs28\lang1057 Kronologi
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\b\f16\fs36\lang1057 Penyerbuan Tomy Winata ke TEMPO
\par }{\b\f16\lang1057
\par }\pard\plain \s3\qj\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel2\adjustright \b\f16\lang1057\cgrid {\b0 Oleh:}{ Ahmad Taufik, Wartawan Majalah TEMPO
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\lang1057
\par }\pard\plain \s2\qj\ri-1622\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel1\adjustright \b\i\fs36\cgrid {\i0\f16\fs28\lang1057 Prolog
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057
\par }\pard\plain \s15\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \fs36\cgrid {\f16\fs22\lang1057 Peristiwa yang terjadi pada hari Sabtu, 8 Maret 2003, telah menodai kemanusiaan dan kehidupan yang beradab di negeri ini. Sekelompok orang dengan uang yang dimilikinya mengerahkan massa, menteror dan berbuat sewenang-wenang. Aparat keamanan (polisi) juga tidak berdaya, dan dipermalukan di depan masyarakat (minimal saksi mata dan saksi korban).
\par
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057 Apa yang akan saya ceritakan disini adalah kronologi penyerbuan yang tak beradab dan penyelesaian akhir yang terputus. Saya sebagai saksi mata, saksi pelaku sekaligus saksi korban (yang mendengar, melihat dan merasakan kejadian). Saya akan klasifikasikan secara terbuka dalam laporan ini: apa itu informasi, yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, analisa atau kesimpulan. Soal kata akhir terserah masing-masing pihak yang tersangkut disini, karena saya tidak bisa terima dan sekaligus tertekan secara psikis.
\par
\par }{\b\f16\fs28\lang1057 Inilah laporan lengkapnya.
\par }{\f16\fs22\lang1057
\par }\pard\plain \s4\qj\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel3\adjustright \f16\fs22\ul\lang1057\cgrid {Rabu, 5 Maret 2003
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057
\par Saya ditelepon oleh Desmon J.Mahesa, kuasa hukum Tomy Winata. Ia mengatakan bosnya, Tomy Winata, tak senang dengan tulisan saya di TEMPO edisi Senin, 3 Maret 2003, berjudul \ldblquote Ada Tomy di Tenabang?\rdblquote . Dia tanya, \ldblquote Apakah tulisan itu dibuat BHM (Bambang Harymurti)? }{\b\f16\fs22\lang1057 BHM itu, kan bekas anak tentara, yang membenci Tomy Winata, Artha Graha, karena AG diback-up Edy Sudrajat.\rdblquote }{\f16\fs22\lang1057
\par
\par }\pard\plain \s16\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \f16\fs22\lang1057\cgrid {Saya bilang, \ldblquote Pada saat tulisan itu jadi BHM sedang berada di luar negeri, di sini kami bekerja dalam sebuah tim kolektif.\rdblquote
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057
\par Desmon lalu bilang, \ldblquote Akan mengirim surat ke TEMPO.\rdblquote Saya katakan \ldblquote silakan saja.\rdblquote Ia mengatakan, \ldblquote Saya kulonuwun dulu, karena ada senior di sini (TEMPO, maksudnya saya, sebagai aktivis dulunya) untuk mengirim surat atas permintaan bos/kliennya.\rdblquote
\par
\par Saya sempat memberi tahu kepada atasan saya di kompartemen nasional, dan beberapa kawan, serta BHM soal rencana Tomy melalui Desmon J. Mahesa akan mengirim surat ke TEMPO.
\par
\par }\pard\plain \s4\qj\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel3\adjustright \f16\fs22\ul\lang1057\cgrid {Jum\rquote at, 7 Maret 2003
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057
\par Desmon kembali, menelepon saya, bahwa ia sudah mengirimkan surat somasi ke TEMPO. Lo, saya kaget juga. Somasi? Saya pikir surat yang dimaksud Desmon adalah surat bantahan. Saya tanya kapan dikirim?
\par \ldblquote Sudah siang ini,\rdblquote jawabnya.
\par \ldblquote OK, saya cek,\rdblquote jawab saya.
\par Baru saya turun ke lantai dua, Wakil Pemimpin Redaksi Toriq Hadad memanggil saya, bahwa ada surat somasi dari Tomy Winata yang baru diterimanya. Saya diminta foto copy untuk mempelajarinya, dan mengumpulkan bahan-bahan untuk bukti-bukti bila kasus tersebut berlanjut ke pengadilan.
\par
\par Saya berdiskusi dengan atasan saya di kompartemen nasional. Atasan saya bilang \ldblquote cobalah rayu Desmon dulu, mungkin bisa diselesaikan dengan cara lain.\rdblquote
\par
\par Kawan saya dari kompartemen lain, Karaniya Dharmasaputra penanggung jawab kompartemen Ekbis & Investigasi, juga berusaha menghubungi seorang sumbernya yang merupakan kawan dekat Tomy Winata. Katanya akan diatur pertemuan dengan Tomy Winata pada Hari Senin, 10 Maret, mungkin caranya dengan memberikan wawancara khusus kepada Tomy yang lebih konprehensif seputar isi berita sebelumnya.
\par
\par Saya menelepon Desmon, soal somasi itu. Dia mengatakan akan memberikan konprensi pers di Restoran Sari Kuring, kompleks SCBD, Sabtu, 8 Maret 2003, pukul 11.00 siang. Aku menawarkan kenapa dia tidak mengajukan dulu surat bantahan (yang saya janjikan akan bisa dimuat untuk terbitan mendatang), \ldblquote jadi somasinya enak.\rdblquote
\par
\par Tapi Desmon bilang, \rdblquote kliennya minta somasi bukan surat bantahan. Lagi pula bantahannya kan sudah termuat dalam berita itu,\rdblquote kata Desmon.
\par
\par Kalau sudah ketetapannya begitu, saya bilang OK-lah. Bahkan Desmon sempat bilang kirim orang ya ke konprensi pers itu. Saya mengiyakan.
\par
\par }{\f16\fs22\ul\lang1057 Sabtu, 8 Maret}{\i\f16\fs22\lang1057
\par }\pard\plain \s16\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \f16\fs22\lang1057\cgrid {Sekitar pukul 10.00 saya sedang menghadiri undangan acara penikahan yang juga dihadiri Wakil Presiden Hamzah Haz di daerah Condet, Jakarta Timur. Saya ditelepon seseorang teman seprofesi. \ldblquote Eh, Tomy marah besar sama TEMPO soal berita Tanah Abang itu.\rdblquote
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057
\par \ldblquote O ya terima kasih,\rdblquote kata saya dan menceritakan soal somasi dan konprensi pers Desmon, hari ini (Sabtu/11/03). Telepon terputus. Tak lama kemudian sekretaris redaksi menelepon, \ldblquote Pik, tolong ke kantor segera, di sini belum ada orang. Polisi sudah banyak di depan katanya, orang-orang Tomy Winata akan mendemo kantor TEMPO.\rdblquote
\par
\par Acara pernikahan belum seluruhnya selesai, saya langsung pulang setelah mencicipi sedikit nasi kebuli. Saya berjalan kaki mencari taksi di Jln raya Condet, sunguh sulit, jalan macet. Akhirnya setelah berjalan kaki 15 menit, saya melihat taksi Blue bird kosong, saya memberi tanda ia untuk memutar arah.
\par
\par Saya akhirnya naik taksi itu sampai ke kantor, memang polisi sudah ada 2 truk, sedang bersiap-siap di dalam pagar TEMPO untuk pengamanan. Saya ke lantai 3 untuk mengecek e-mail, sambil beberapa kali melihat ke jendela dari atas ke bawah lapangan parkir. 15 menit kemudian, saya lihat sekelompok orang (mungkin masih 100-an orang) bertampang sangar menggoyang-goyangkan pagar gerbang TEMPO. Mereka juga berteriak-teriak, Tutup majalah TEMPO, Cabut Izinnya, bakar, tangkap dll. Saya berbekal foto copy surat kuasa Tomy Winata dan somasi yang dikirimkan Desmon, menuju ke bawah, saya berada di belakang polisi sambil melihat-lihat aksi itu, saya merasa masih biasa-biasa saja, walapun mereka bertampang sangar dan teriak-teriak. Saya bilang kepada salah seorang polisi (kalau saya lihat saya ingat orang itu), \rdblquote Saya minta perwakilan 2 atau 5 orang untuk masuk ke kantor kami.\rdblquote
\par
\par Namun, polisi tersebut mengatakan, \ldblquote Sudah, bapak ke depan saja, beri penjelasan kepada mereka.\rdblquote
\par
\par Akhirnya dengan baca }{\i\f16\fs22\lang1057 bismilllah}{\f16\fs22\lang1057 , saya ke depan, saya berpikir akan aman, toh polisi sudah lebih banyak dari mereka (namun saya baru sadar belakangan semua polisi berada di balik pagar, di dalam halaman kantor TEMPO). Di depan massa, saya berkata, \rdblquote Saya sekarang yang sedang bertanggung jawab di kantor ini, saya akan memberi penjelasan,\rdblquote kata saya sambil membawa kertas surat kuasa Tomy dan Somasi Desmon. Namun yang terjadi saya ditarik-tarik, ada 4 orang menarik-narik saya ke arah tengah-tengah massa, seorang lagi yang berada di dekat pagar menarik kerah baju saya (orangnya kurus gondrong, dan terus ada sampai di kantor Polres). Saya ditarik-tarik, tanpa ada yang menolong, di depan pagar yang ada polisi, saya bilang, \ldblquote Buka, buka tolong selamatkan saya.\rdblquote Tapi pagar tidak dibuka (mungkin polisi punya alasan lain, takut massa masuk juga).
\par
\par Saya sungguh ketakutan, peci putih saya pinjaman ipar saya yang saya kenakan sejak acara pernikahan melayang dari kepala saya, entah siapa yang mengambilnya. Saya melihat pintu kecil di pinggir gerbang terbuka, jaraknya hanya 1,5 meter dari tempat saya ditarik-tarik. Saya berontak dari massa dan kabur terseok-seok (}{\i\f16\fs22\lang1057 Alhamdulillah}{\f16\fs22\lang1057 berkat tangan Allah padahal saat ditarik-tarik saya sudah }{\i\f16\fs22\lang1057 hopeless}{\f16\fs22\lang1057 ). Jari tangan saya berdarah terluka, entah kena apa? Sampai di dalam gerbang karena terjatuh, dua orang polisi dengan tongkatnya dari kerumunan itu berusaha akan menggebuk saya, tongkat sudah diayunkan, tapi hanya jarak dekat tongkat itu tertahan, seorang atau lebih kawannya saya dengar mengingatkan eeee, itu bukan. Lalu polisi yang akan menggebuk saya, secara sekilas minta maaf, \ldblquote Maaf ya, saya kira demonstran,\rdblquote katanya.
\par
\par Saya sudah tak mendengar lagi, karena pikiran saya sudah mulai kalut. Saya ingat beberapa kawan TEMPO hanya melihat dari kaca di lantai 3 dan beberapa lainnya dari dalam pagar.
\par
\par Lalu saya minta kepada seorang polisi, yang lain (bukan yang menyuruh saya ke depan massa), saya minta perwakilan mereka 2 sampai 5 orang saja, saya akan menerima mereka, mendengarkan keluhan yang akan disampaikan dan memberi penjelasan. Saya lalu membawa mereka ke lantai 3, bahkan seseorang di antaranya (belakangan saya tahu bernama Guntur Medan), mengatakan wah capeknya nih naik tangga. Saya bilang ya, berbeda dengan kantor Tomy Winata yang naik lift itu. Saya bawa ke ruang rapat lantai 3 yang sialnya masih terkinci, tapi belum 2 menit, ruangan itu sudah dibuka oleh pegawai TEMPO. Saya sempat basa-basi menawarkan minum air, teh atau kopi, tapi mereka bilang tak perlu. Saya bingung, demontran yang datang bukan dua sampai 5 seperti yang saya minta, tapi belasan orang, saya lihat polisi (saya ingat tampangnya) menyuruh mereka masuk.
\par
\par Saya Tanya siapa saja mereka kok, banyak, saya berpikir kawatir kantor ini diacak-acak, atau ada barang-barang yang hilang maklum kantor sepi dan tak jelas siapa yang datang masuk ke kantor. \ldblquote O,o mereka wartawan,\rdblquote jawab polisi itu. Ternyata yang berada di dalam ruang rapat belasan orang adalah para pendukung demo itu, ada beberapa polisi, saya di temani Abdul Manan, yang duduk di sebelah kiri saya, seorang bagian umum TEMPO, belakangan saya lihat ada seorang lagi dari TEMPO Bahasa Inggris. Beberapa kawan TEMPO lain tampak berada di luar ruang rapat.
\par
\par Saya minta apa keluhan mereka. Saya mengenalkan nama saya, dan kebenaran saat itu saya bilang saya yang bertanggung jawab, karena yang lain sedang tidak ada, karena hari Sabtu. Seorang (yang belakangan bernama Yosep, menggertak tidak ada orang atau sengaja diliburkan karena tahu kami akan datang?) Saya bilang sekarang Hari Sabtu, yang masuk hanya yang piket saja, dan orang yang belum selesai tulisannya. Akhirnya debat yang tak perlu itu putus. Seorang yang bernama }{\b\f16\fs22\lang1057 Teddy Uban}{\f16\fs22\lang1057 }{\b\f16\fs22\lang1057 (tangan kanan Tomy Winata),}{\f16\fs22\lang1057 lelaki berambut putih berbicara nyerocos, marah-marah. Bahwa TEMPO menulis hal yang tidak benar, akibat tulisan itu kantor Bank Artha Graha di Jln.Jayakarta dilempari telor, \ldblquote Pak Tomy juga diteror, bahkan Hari Senin, sejumlah pedagang korban kebakaran Pasar Tanah Abang akan menyerbu kantor Arta Graha di Jln. Jendral Sudirman. }{\b\f16\fs22\lang1057 \ldblquote Kalau nggak percaya gua telepon Kapolda nih, mau?\rdblquote kata Teddy.
\par }{\f16\fs22\lang1057
\par }\pard\plain \s16\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \f16\fs22\lang1057\cgrid {\ldblquote Ya, silakan saja,\rdblquote kataku. Dia tampak berusaha menelepon, saya nggak tahu apakah benar menelepon Kapolda itu atau cuma gertakan. \ldblquote Beliau sedang acara acara nggak bisa diganggu,\rdblquote kata Teddy. Sejumlah orang pengikut Tomy, di dalam ruang rapat berteriak-teriak mengompori, sahut menyahut, bagi saya itu biasa terjadi, dalam rapat-rapat. Sudah cukup, saya bilang, \ldblquote Saya akan menjelaskan persoalannya.\rdblquote saya katakan, \rdblquote Saya sudah terima somasi dari Pak Tomy melalui pengacaranya Desmon, bahkan hari ini kabarnya akan ada konprensi pers, kami terima keluhan anda, kami juga sedang berusaha menemui Pak Tomy, rencananya hari Senin, sekarang kabarnya Pak Tomy sedang berada di Kendari. Saya terima keluhan anda.\rdblquote
\par
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057 Belum selesai saya omong Teddy sudah menyahut kembali, \ldblquote kamu kan penulisnya, kami minta siapa sumber Anda, hayo sebutkan sekarang, tunjukkan kalau Anda katakan Anda akan aman, akan kami amankan.\rdblquote
\par Saya bilang, \rdblquote ada prosesnya seperti yang sudah ada dalam somasi ini,\rdblquote kata saya menunjukkan somasi, \ldblquote apa pun ada prosedurnya, orang bersalah juga tidak langsung dimasukkan ke penjara, tapi ke polisi dulu diproses, ke kejaksaan lalu ke pengadilan baru masuk ke penjara.\rdblquote
\par
\par }\pard\plain \s17\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \b\f16\fs22\lang1057\cgrid {\ldblquote Ah, lu wartawan taik semua, lu nulis begitu UUD, ujung-ujungnya duit, abis nulis lu dekati bos gua minta duit, taik lu, \ldblquote kata Teddy sambil jalan-jalan di seberang meja, tak lagi duduk.
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\b\f16\fs22\lang1057
\par }{\f16\fs22\lang1057 \ldblquote Eh... Anda jangan begitu ini penghinaan, mana buktinya, TEMPO tidak seperti yang Anda sebutkan,\rdblquote kata saya.
\par
\par }{\b\f16\fs22\lang1057 \ldblquote Eeee lu ngomong bolak balik bisa aja,\rdblquote katanya emosi sambil mengambil tisu kotak kayu dan dilemparkan ke kepala saya, saya tangkis, rupanya kena kawan saya Abdul Manan yang berada di sebelah kiri saya, kena pas di tengah antara mata, dan hidung, luka berdarah,}{\f16\fs22\lang1057 seorang bagian umum mengambil betadin dan mengelapkan betadine ke luka itu, tangan saya yang luka bertambah berdarah, setelah menangkis itu, dan sambil menjulurkan jari tanda minta diberi betadine juga.
\par
\par }\pard\plain \s16\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \f16\fs22\lang1057\cgrid {\ldblquote Lo, kok dikantor saya main kekerasan begitu,\rdblquote kata saya kepada polisi yang berdiri di sebelah kanan saya, yang diam saja. Saya langsung menelepon BHM, \ldblquote Udah deh kalau begitu saya telepon atasan saya.\rdblquote
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057 \ldblquote Panggil kesini segera,\rdblquote kata Teddy dengan suara keras.
\par
\par Seorang yang bernama Yosep menyela bicara, \rdblquote Kamu tahu pimpinan kami di Kendari, berarti kamu mengkuti kemana saja bos kami pergi ya?\rdblquote
\par
\par Situasi tak jelas karena banyak yang omong namun yang dominan Teddy, Yosep yang menekan-nekan dan yang lain bersahut-sahutan.
\par
\par Saya telepon BHM, sempat saya pada telepon pertama karena saya punya nomor yang lama. Lalu saya telepon lagi, dan bilang saya tak bisa mengatasi situasi, saya keluar ruang bertemu dengan }{\b\f16\fs22\lang1057 Kapolsek Menteng}{\f16\fs22\lang1057 . Saya tanya, \rdblquote Bagaimana nih Pak Kapolsek?\rdblquote
\par
\par \ldblquote Gimana ya selesaikan dong, kan anda yang tahu persoalannya,\rdblquote kata Kapolsek Menteng itu.
\par
\par Lalu Teddy menelepon, \ldblquote Nih sudah ada yang nulisnya, disini diapain,\rdblquote katanya. Tak lama kemudian lelaki putih, berbaju jeans biru naik Belakangan saya tahu bernama }{\b\f16\fs22\lang1057 David alias A Miauw (juga dikenal sebagai tangan kanan Tomy Winata)}{\f16\fs22\lang1057 ia menyerocos terus marah-marah tak jelas minta sumber berita itu supaya dihadirkan sekarang juga. Bahkan ia menyebut-nyebut soal yang berbau rasial. \ldblquote Jangan mentang-mentang Tomy winata, Cina, ya, gua cina, buka diskotek, buka judi, lalu lu tulis senaknya.\rdblquote
\par
\par \ldblquote Nggak begitu Pak David,\rdblquote kata saya,\rdblquote disini kami pluralis tak pandang suku.\rdblquote
\par
\par \ldblquote Lu banyak omong bisa aja balikin omongan orang,\rdblquote katanya sambil dia nyerocos saya lihat mata dia, \ldblquote E, mata elu jangan melotot ngeliatin gua ngomong gua bunuh sekarang lu bisa juga,\rdblquote kata David emosi. Orang asal Flores, orangnya Tomy Winata mengambil bangku lipat yang ada dikantor mau di pukulkan ke wajah saya, sudah terayun, begitu juga seorang Flores lain yang memakai baju safari biru gelap didanyanya tertulis bordiran PMD warna merah. Mendekati saya mau memukul. Entah kenapa tidak jadi saya dikepruk.
\par
\par Karaniya (kebetulan dia juga keturunan Cina) masuk, saya bersyukur, karena David sudah menggunakan ungkapan rasial. Akhirnya Karaniya yang mengambil alih situasi. Semua penjelasan Karaniya juga tak digubris, dan David serta kembali memaki-maki, \ldblquote Elu ngomong kayak berak. Gua tiup mati lu!\rdblquote
\par
\par Saya kini hanya lesu tertunduk loyo, sebagai manusia saya akui saya takut dan merasa tertekan waktu itu, saya cuma telepon kembali BHM, dia sudah berada di jalan kolong BNI 46, Sudirman. David sudah tak sabar meminta saya ditangkap, dibawa ke kantor polisi, \ldblquote Ini sudah ada penulisnya dia yang bertanggung jawab bawa saja,\rdblquote kata David.
\par
\par Kapolsek Menteng juga mendesak saya soal penyelesaiannya. Saya bilang, \rdblquote Tunggu, pimpinan saya, Bambang harymurti, sudah tak jauh, paling lama 10 menit.\rdblquote Saya masuk ke dalam ruangan, David keluar ruangan menelepon entah kemana, saya mencoba mencairkan suasana. Saya peluk Yosep dan lelaki berbaju safari yang bertampang seperti kawan kita di kantor yang berasal dari NTT juga Saya bilang Anda dari mana? Dari Flores, \ldblquote Wah satu tempat dengan saya, bapak saya dari Waingapu,\rdblquote
\par \ldblquote O, kita satu kampung, untung saya nggak jadi ngepruk kamu,\rdblquote kata Yosep, \rdblquote Kamu kenapa ke depan massa untung kamu selamat.\rdblquote
\par
\par Saya bilang, \rdblquote Saya berani karena saya pikir yang di depan saudara saya semua asal flores jadi saya aman,\rdblquote kata saya. Kami mengobrol basa-basi, Yosep menekan saya, \ldblquote kamu katakan saja siapa sumber kamu, ayo kamu akan aman, aku yang jamin deh, udah jangan takut,\ldblquote katanya sedikit merayu. Saya hanya senyum saja.
\par
\par Saya keluar ruangan, tak lama kemudian BHM datang dan mengambil semua tanggung jawab berhadapan dengan preman yang tak jelas omongannya, kesana kemari membangga-banggakan diri, mengancam akan membunuh, membakar kantor ini, menjadikan Humanika kedua, bilang kantor TEMPO ini kecil dibeli sama Tomy juga bisa. Dia juga menelepon mengendalikan massa di luar untuk terus menekan.
\par
\par }\pard\plain \s17\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \b\f16\fs22\lang1057\cgrid {David dengan sombong juga mengatakan, soal bom Bali, \ldblquote Tahu nggak yang memberi tahu adanya bom Bali pertama kali ke Kapolri, gua, dia belum tahu gua udah tahu.\rdblquote
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057
\par }\pard\plain \s17\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \b\f16\fs22\lang1057\cgrid {Ia juga ngomong soal kebakaran Tanah Abang. \ldblquote Elu tahu apa soal kebakaran Tanah Abang. Gua tahu titik api pertama kali, kenapa pemadam kebakaran tidak bisa masuk ke pasar. Jadi, lu, jangan sok tahu soal kebakaran tanah Abang,\rdblquote kata David. Apa maksudnya?
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057
\par Akhirnya sampai situasi, harus ke kantor polisi, agar massa di depan kantor bisa tenang. BHM minta jaminan keamanan dan barikade polisi. Bari kade malah di dalam kantor, untung di luar turun hujan. BHM tampak naik ke mobil Timor milik polisi, dan berusaha mempersiapkan tempat untuk saya berdua.
\par
\par Tetapi saya ditahan David untuk tidak masuk mobil polisi, saya mulai khawatir diculik dan dibawa ke tempat lain, saya terus berpegangan erat dengan Karaniya. Mobil Land Cruiser hitam milik Arta Graha (tampak dari tanda pengenal diujung kanan dekat sopir) di dalam sudah masuk orang-orang Tomy winata yang tadi ikut menarik-narik badan saya di tengah massa di depan kantor. Karaniya menarik seorang polisi (dadan/dadang untuk ikut masuk ke dalam mobil) di mobil itu sempat bertumpuk-tumpuk. Akhirnya di bangku tengah kami berempat, sebelah kiri saya }{\b\f16\fs22\lang1057 Haris Sumbi}{\f16\fs22\lang1057 , Ambon yang tinggal di Bendungan Hilir, karena saya pernah bertemu dia beberapa kali di Retro, Hotel Crown, depan Polda Metro jaya, setelah saya ingat-ingat, ia mengiyakan ingatan saya itu. Sebelah kanan saya Karaniya, sebelah kanan nya lagi polisi Dadang tadi. Di depan David dan sopir, dibangku belakang tiga orang dari arthha graha, Yosep, si gondrong kurus yang menarik-narik baju saya di depan massa dan lainnya. Akhirnya, kami dibawa pergi, dengan suara sirenenya, nguing-nguing.
\par
\par Di dalam mobil, David berkata lewat telepon, \rdblquote Kantor itu lu segel, nggak boleh ada seorang pun karyawan TEMPO yang keluar dari situ, sampai persoalan ini selesai, mengerti?\rdblquote Katanya entah kepada siapa? Alhamdulillah ternyata kami bukan dibawa kemana-mana tapi ke kantor Polres Jakarta Pusat.
\par
\par Sudah aman di kantor Polres? Nggak juga, David marah-marah kepada Yosep, \ldblquote Elu tahu, gua pecat lu, dia kan orang Flores, seharusnya elu yang duluan ijak-injak dia sampai mati.\rdblquote Sejak saat itu tampang Yosep tak lagi bersahabat malah menekan-nekan. }{\b\f16\fs22\lang1057 Dialah yang pertama kali menggebuk wajak BHM dari belakang di kantor polisi. Buk. Keras juga, sehingga kaca matanya terpental. David, Teddy, dan beberapa preman lainnya juga memaki-maki dan mendorong-dorong BHM di depan kantor Kapolres Jak-Pus.}{\f16\fs22\lang1057
\par
\par }{\b\f16\fs22\lang1057 Saya, BHM, dan Karaniya dibawa ke ruang kerja Kasat Serse Polres Jak-Pus A.R. Yoyol. Masuk ke ruangan kerja Kasat Serse sekitar 5 polisi (beberapa berpakaian preman), David, Teddy, Haris Sumbi, dan sekitar 5 orang David lainnya.}{\f16\fs22\lang1057 David terus mengoceh, soal BHM sebagai komandan yang harus bertanggung jawab, mengancam akan membunuh. \ldblquote Lu gue tembak juga deh sekarang, kalau gue di penjara dan dibunuh disini nggak takut. Mana, mintain pistol?\rdblquote kata David.
\par
\par Dia ngoceh terus menunjuk-nunjuk saya dan BHM. \ldblquote Lu, kan, orang pintar kalau ngua kan nggak makan sekolah, SD aja gua nggak tamat, }{\b\f16\fs22\lang1057 tapi gua megang tempat judi di Harco Mangga dua menghidupkan 800 orang, gua bayar mereka Rp 50 ribu tiap hari, lu bisa?\rdblquote
\par }{\f16\fs22\lang1057
\par BHM berusaha menjawab tudingan David yang tak masuk akal dan tak berdasar, dan menyebutkan cara penyelesaiannya secara prosedur yang sudah ada, beberapa polisi reserse ada di dalam ruangan itu juga beberapa orang Tomy Winata. Dari TEMPO cuma saya, BHM dan Karaniya. }{\b\f16\fs22\lang1057 Lalu David emosi, dan menonjok perut BHM, menendangnya dan memukul-mukul kepalanya, \ldblquote Ini saking pinternya sampe botak. Karaniya marah dan protes atas perlakuan itu, malah bogem mentah menghantam wajah sebelah kirinya. Keras juga. }{\f16\fs22\lang1057 Saya hanya diam saja. Saya lihat apa yang dilakukan David sudah tidak wajar, }{\b\f16\fs22\lang1057 menghina banyak orang termasuk polisi dan tentara. \ldblquote Udahlah polisi sudah gua bayar semua, lampu disini juga gua yang beliin, gua juga ngeluarin duit buat wartawan Rp 150 juta tiap bulan ada daftarnya. Sutiyoso juga gue yang jadiin sebagai Gubernur, kalau kagak mana bisa dia jadi gubernur. Udahlah lu nggak ada ape-apenya jangan macem-macem. Udah deh persoalan ini bisa selesai kalau Ciputra udah ketemu sama bos gue Tomy Winata. Telepon dia!\rdblquote kata David.
\par }{\f16\fs22\lang1057
\par \ldblquote Wah saya nggak punya teleponnya, sejak handphone saya hilang,\rdblquote kata BHM.
\par \ldblquote Ah lu pemimpin goblok nih gua teleponin,\rdblquote kata David. Dia sambungkan. \ldblquote Halo ada yang mau bicara nih,\rquote \rquote telepon David pindah ke BHM. BHM ngomong dengan Ciputra. Tapi hanya memberitahukan persoalan saja. Kata BHM kemudian Ciputra bilang kan saya nggak ikut-ikutan urusan redaksi, \ldblquote Cuma komisaris saja, anda kan yang tangani.\rdblquote
\par
\par }\pard\plain \s17\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \b\f16\fs22\lang1057\cgrid {Situasi di ruangan Kasat Serse tak jelas. Saya, BHM, dan Karaniya tak berkutik dan tak bisa melawan. Polisi yang hadir cuma menonton tanpa berusaha mencegah semua tindakan brutal itu. Belakangan, di situ juga hadir Kasat serse Yoyol yang datang setelah penggebukan. Tapi David masih berlaku tak sopan dengan polisi, bahkan merendahkan martabatnya, namun polisi-poilisi itu menerima saja tampaknya. IRONIS, BAHKAN DI KANTOR POLISI HUKUM PUN SEPERTI TAK EKSIS.
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057
\par Tak lama kemudian, David mengatakan, \ldblquote Sekarang ini di luar beredar kabar Anda diculik ditangkap, tapi sebenarnya Anda kesini, kan untuk menyelasaikan persoalannya, ya,\rdblquote kata David menekan-nekan.
\par
\par }{\b\f16\fs22\lang1057 Kami diminta untuk berbicara di lain tempat untuk bersepakat dan berbicara pada pers, bahwa kami tidak ditangkap, tidak ada kekerasan, tidak ada penggebukan.}{\f16\fs22\lang1057 Beruntung memang banyak kawan-kawan jurnalis yang ikut ke kantor Polres, sehingga, tekanan terhadap kami mulai berkurang. Sehingga di dalam ruangan data di Polres kami mengadakan konprensi pers, BHM lah yang berbicara dan seorang yang mengaku Habib Hamid Alhamid dari Ambon yang mengaku punya pengajian membawa 50 orang massa dengan 2 metro mini dan mendapat makan dari Tomy Winata.
\par
\par Saat kami di dalam ruangan untuk konprensi pers, sebenarnya kami masih tertekan, karena orang-orang Tomy Winata masih banyak di dalam ruang itu dan depan ruangan konprensi pers. Jawaban-jawaban BHM terkesan diplomatis dan menghindarkan jawaban-jawaban langsung. Wajar kami sudah }{\i\f16\fs22\lang1057 hopeless,}{\f16\fs22\lang1057 di ruang kantor polisi saja orang-orang Tomy Winata bisa berbuat seenaknya. Siapa yang jamin, apa lagi kabarnya kantor masih disegel dan dijaga orang-orang Tomy Winata.
\par
\par Saya lebih banyak diam dan mendengarkan pembicaraan. Kesombongan David, ancamannya dan penghinaannya terhadap profesi jurnalis dan polisi, begitu juga setelah dipindahkan ke ruang Kapolres Jakpus dan hadir }{\b\f16\fs22\lang1057 Kapolres AKBP Sukrawardhi Dahlan, yang juga tak bisa berbuat banyak}{\f16\fs22\lang1057 . }{\b\f16\fs22\lang1057 Bahkan, Teddy Uban lalu mengontak Kapolda melalui HP-nya. Setelah tersambung, HP itu diserahkannya ke Kapolres. Kapolres terdengar bicara, \ldblquote Siap, Jenderal. Siap, Jenderal\rdblquote Setekah itu ia bilang ke BHM, \ldblquote Wah, ini sudah jadi urusan di atas. Saat ini Kapolda sedang membicarakan nasib saya ke Kapolri\rdblquote . Ia lalu menguliahi kami, bahkan Kapolres cenderung mengarahkan agar TEMPO, membuat pernyataan permohonan maaf pada Tomy Winata karena berita yang telah dibuat itu fiktif. Tapi BHM tetap berkelit dan tak mau ada pernyataan itu.}{\f16\fs22\lang1057
\par
\par Yang keluar akhirnya adalah pernyataan bersama, yang dikonsep oleh Karaniya dan Haris Sumbi (dari pihak Tomy Winata) di ruang lain. Baik David alias A Miauw dan Kapolres meminta agar TEMPO menyatakan semua kejadian dianggap selesai disana, }{\b\f16\fs22\lang1057 namun berkali-kali soal permintaan maaf TEMPO diminta oleh David, Teddy, dan kapolres. Tapi BHM bertahan.}{\f16\fs22\lang1057 Akhirnya, pernyataan bersama itulah yang keluar, yaitu akan menyerahkan persoalan itu dengan lewat jalur hukum. }{\b\f16\fs22\lang1057 Di pernyataan itu, David alias A Miauw menyatakan diri sebagai YANG MEWAKILI TOMY WINATA. }{\f16\fs22\lang1057 Kami keluar dari ruang Kapolres, bersalam-salaman (hanya basa basi), persoalan sesungguhnya masing menggantung. }{\b\f16\fs22\lang1057 Kenapa kekerasan bisa terjadi, bahkan di kantor polisi? Saya sudah putus asa.
\par }{\f16\fs22\lang1057
\par }\pard\plain \s5\qj\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel4\adjustright \b\f16\fs22\lang1057\cgrid {\fs28 Penutup
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs22\lang1057
\par Saya kawatir sikap kritis jurnalis akan digadaikan dengan ketakutan dan terror. Baru menghadapi seorang Tomy Winata yang punya saham di Hotel Borobudur, kelompok Artha Graha Grup, sejumlah tempat hiburan dan judi. Tekanan yang lebih besar akan terus terjadi dari orang-orang lain yang punya kekuasaan secara politik, punya uang, punya senjata, punya otorisasi menangkap, menculik, membunuh dan punya massa. Persoalan ini harus diselesaikan secara tuntas. Saya minta David, Teddy, Yosep, Hamid Al-Hamid dkk di proses secara hukum dan adil sesuai andil yang mereka lakukan dalam terror ini. Juga Tomy Winata dimintai pertanggung jawabannya. Kalau tidak bakal bisa terjadi pada siapapun dan institusi manapun. Situasi bisa terjadi seperti Zaman Soeharto (orde baru) atau bahkan lebih buruk lagi seperti terjadi di Kolombia, Amerika Latin, ketika mafia kartel barang-barang terlarang menguasai negeri. Saya tak tahu harus berbuat apa?
\par
\par }{\f16\fs18\lang1057 Jakarta, 10 Maret 2003, pukul 04.45 WIB
\par
\par }\pard\plain \s5\qj\keepn\nowidctlpar\widctlpar\outlinelevel4\adjustright \b\f16\fs22\lang1057\cgrid {\fs18 Ahmad Taufik
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\fs18\lang1057 Wartawan MBM TEMPO
\par Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta
\par }{\f16\fs22\lang1057
\par }\pard\plain \s17\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \b\f16\fs22\lang1057\cgrid {\fs24 Catatan:
\par
\par }\pard\plain \s16\qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \f16\fs22\lang1057\cgrid {Mungkin ada yang terlewat, atau kurang jelas, bisa dikonfirmasikan kepada masing-masing pihak yang saya sebutkan dalam cerita itu di atas. Inilah yang sementara saya bisa rekam dalam waktu hampir lima jam.. Diselingi minum pocari sweat, air putih dan madu, sesekali ke kamar kecil. Banyak teman-teman yang membantu dalam proses pendinginan suasana dan melepaskan tekanan sedikit semi sedikit, termasuk kawan-kawan jurnalis lainnya, saya mengucapkan terima kasih. Begitu juga simpatisan yang bergerak untuk melawan ketidakberadaban itu, baik yang lewat SMS, yang dikirimkan kepada saya dan kemana-mana, maupun yang membuat pernyataan tertulis, serta aksi-aksi nyata yang dilakukan. Saya masih tertekan secara psikis, tetapi saya dan teman-teman di TEMPO tidak takut untuk melawan. Terima kasih
\par }\pard\plain \qj\nowidctlpar\widctlpar\adjustright \cgrid {\f16\lang1057
\par }\pard \nowidctlpar\widctlpar\adjustright {
\par }}