Daftar berita terlampir:
* Ketika Masa Depan Petani Hilang 
* Kemiskinan di Jawa Timur, Kenapa Meningkat? 
* Kebakaran Hutan Tanggung Jawab Bersama 
* Sudah Saatnya Kita Peduli Pada "Catchment Area" 
* Pola Konsumsi Masyarakat Picu Kerusakan Lingkungan
* Ilmu Keberlanjutan, Faham Baru Pembangunan 
* Menhut Batasi Produksi Perhutani
* Indonesia Paru-paru Dunia 


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Ketika Masa Depan Petani Hilang 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=6085
IPAD (34) petani desa Sukamakmur, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, hanya bisa 
mengeluh seusai panen pertamanya. Panen kali ini yang diharapkan bisa menjadi tumpuan 
hidup bagi dia dan keluarganya ternyata meleset dari perkiraan.
(Kompas, 2003-06-02)



Kemiskinan di Jawa Timur, Kenapa Meningkat? 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=6086
KENDATI penanggulangan kemiskinan merupakan salah satu program prioritas Provinsi Jawa 
Timur, tetapi selama lima tahun di bawah era kepemimpinan Gubernur Imam Utomo ternyata 
angka kemiskinan justru meningkat (Kompas, 27 Mei 2003).
(Kompas, 2003-06-02)



Kebakaran Hutan Tanggung Jawab Bersama 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=6050
Kebakaran hutan yang menyebabkan asap menyakitkan bagi makhluk hidup merupakan 
tanggung jawab bersama. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 tentang 
Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan 
kebakaran hutan dan lahan, kebakaran hutan di seluruh Indonesia merupakan tugas dan 
tanggung jawab setiap warga, dunia usaha, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, 
dan pemerintah pusat.
(Kompas, 2003-05-29)



Sudah Saatnya Kita Peduli Pada "Catchment Area" 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=6051
BANJIR lagi... banjir lagi. Sebel! Ini pasti gara-gara Sungai Ciliwung meluap!<p>
UNGKAPAN bernada keluhan itu biasa terdengar dari mulut orang yang tertimpa musibah 
banjir. Kesal, bosan, benci, dan entah apa lagi yang dirasakan mereka. Yang pasti, 
bencana banjir telah membuat hidup mereka menjadi sengsara.<p>
Saat banjir datang, Sungai Ciliwung memang selalu menjadi bagian dari sederet umpatan 
yang mereka keluarkan. Tidak aneh karena Sungai Ciliwung merupakan sungai terbesar 
yang membelah DKI Jakarta. "Persoalannya sebenarnya tidak hanya di DAS (daerah aliran 
sungai) Ciliwung, tetapi juga di DAS Cisadane dan Kali Bekasi. Banyak daerah tangkapan 
air (catchment area) di DAS-DAS tersebut yang beralih fungsi," kata Dr Supriyanto, 
Ketua Pelaksana Gerakan Penghijauan Peduli Banjir Jakarta, Rabu (28/5).
(Kompas, 2003-05-29)



Pola Konsumsi Masyarakat Picu Kerusakan Lingkungan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=6038
Setiap kali kita berbelanja di pasar swalayan, kita selalu mendapat kantung plastik 
sebagai pembungkus barang belanjaan. Bisa dibayangkan, berapa ribu kantung plastik 
yang kita punya seumur hidup kita. Dan kantung-kantung dari bahan polimer itu akan 
teronggok di dalam tanah karena memang tak bisa hancur begitu saja.<p>
Paparan di atas hanya ingin mengilustrasikan bahwa semakin sering kita berbelanja, 
makin banyak pula sampah yang kita hasilkan. Kian banyak uang yang dimiliki seseorang, 
kian banyak juga partisipasinya dalam merusak lingkungan. Itulah yang terjadi pada 
planet kita saat ini. 
(Sinar Harapan, 2003-05-26)



Ilmu Keberlanjutan, Faham Baru Pembangunan 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=5988
Ilmu keberlanjutan (sustainability science) hendaknya menjadi faham baru pembangunan 
di Asia. Dengan ilmu keberlanjutan yang cakupannya lebih luas dari ilmu lingkungan, 
diharapkan tujuan pembangunan berkelanjutan dapat dicapai.<p>
Hal itu dilontarkan Mohd Nordin Hasan dari Academy of Sciences Malaysia dalam 
Konferensi ketiga Science Council of Asia, pekan lalu di Bali. Gagasan itu pertama 
kali dikemukakan dalam SCA pertama di Bangkok, Thailand, 2001.
(Kompas Online, 2003-05-21)



Menhut Batasi Produksi Perhutani
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=5997
Produksi Perhutani yang tak terkontrol dinilai tidak menjaga kelestarian hutan.<p>
Departemen Kehutanan sejak sebulan yang lalu mulai menetapkan jatah produksi hasil 
hutan kayu PT Perhutani melalui Keputusan Menteri Kehutanan nomor 139/kpts-VI/2003 
yang mulai diberlakukan sejak tanggal 21 April 2003. 
(Tempo Interaktif, 2003-05-20)



Indonesia Paru-paru Dunia 
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=5991
Makhluk Hidup Berutang kepada Indonesia<p>
MAKHLUK hidup Planet Bumi berutang kepada Indonesia. Bagaimana mungkin? Bukankah 
justru Indonesia-lah salah satu negara pengutang terbesar di dunia?<p>
Jangan salah tafsir. Pernyataan di atas justru muncul dari hasil pantauan Satelit 
Terra, meluncur Desember 1999, dan Satelit Aqua, mengorbit Mei 2002, milik Badan 
Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (National Aeronautics and Space 
Administrations/NASA).
(kompas Online, 2003-05-17)



_______________________________________________
Envorum mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum

Kirim email ke