|
-------- Original Message --------
Wacana ini dimaksudkan untuk mencetak virus-virus kepemimpinan jenis baru, yang bekerja mempengaruhi komunitas dalam lingkup kehidupan kesehariannya. Kami telah mencoba memprakarsai beberapa pelatihan uji, bekerjasama dengan Yayasan Bina Masyarakat Mandiri dan Lembaga Penetilian - Universitas Kristen Indonesia, bertempat di Jakarta dan Palangka Raya. Peserta uji pelatihan adalah dari kalangan pemerintahan (daerah dan desa), tokoh masyarakat, pegiat LSM dan akademisi. Sejauh ini tanggapan dari peserta menunjukkan hasil positif. Aartinya, mereka merasakan ada pemahaman baru menggenai kepemimpinan, berikut relevansinya untuk diterapkan di lingkup pekerjaan masing-masing. Memang ini bukan pekerjaan yang segera tampak hasilnya, karena menyangkut perubahan paradigma dan perilaku. Namun, setidaknya kita membuat langkah menuju perubahan, daripada tidak sama sekali dan menjadi penggerutu. Mengingat luas dan besarnya skala perubahan yang diharapkan, kami membuka kemungkinan-kemungkinan kerjasama--dalam bentuk apapun--untuk menciptakan virus-virus kepemimpinan partisipatif ini. Saya yakin di FKKM banyak fasilitator handal yang sangat mampu menggulirkan isu ini. Kerjasama bisa berupa pertukaran informasi dan bahan pelatihan, atau berbagi cerita pengalaman mengenai kepemimpinan partisipatif, atau kerjasama mengadakan pelatihan-pelatihan. Bagi yang berminat silahkan menghubungi kami, agar kami bisa mengirimkan file berisi pengalaman menggulirkan pelatihan kepemimpinan partisipatif. Berikut adalah cuplikan hasil simpulan pemahaman mengenai "kepemimpinan partisipatif" dari rangkaian uji pelatihan tersebut di atas: Krisis kepemimpinan sudah sedemikian parah, hingga sudah sangat sulit menemukan pemimpin yang bisa menjadi panutan dan menjadi tenaga pendorong perubahan dari keterpurukan. Ketika kita sudah tidak dapat lagi mengharapkan dorongan perubahan dari luar, maka kita harus bersiap-siap mengambil tanggungjawab mendorong perubahan dari diri kita sendiri. Berbekal karakter dan kecakapan, kita mentransformasi diri menjadi pribadi yang layak dipercaya. Berbekal kepercayaan, kita menjadi virus yang menebar isu perubahan demi kehidupan yang lebih baik di masa depan. Orang-orang yang layak dipercaya memiliki kewibawaan, atau aura, yang dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi orang lain. Dengan demikian tidak lagi diperlukan legitimasi kekuasaan untuk mempengaruhi orang. Cukup dengan karakter dan kecakapan, sebagaimana disebutkan di atas. Tanpa mengabaikan pemimpin-pemimpin yang tumbuh karena memiliki bakat kepemimpinan sejak lahir, kami cenderung setuju pada pendapat bahwa kepemimpinan adalah suatu seni yang bisa dipelajari. Bakat kepemimpinan saja mungkin sudah tidak cukup untuk menghadapi persoalan-persoalan mutakhir. Krisis yang kita hadapi bersifat multidimensi, sedangkan dunia berubah kian cepat, sehingga diperlukan perubahan paradigma yang signifikan untuk membawa perubahan yang berarti. Pemimpin masa kini diharapkan mampu memperbarui diri setiap saat, demi menanggapi perubahan-perubahan kondisi yang terjadi. Dan itu hanya bisa dicapai melalui proses pembelajaran terus-menerus. Untuk keluar dari krisis berkepanjangan ini, kita perlu mengembangkan wacana perubahan—transformasi. Perubahan seperti apa, itulah pesan-pesan yang harus dibawakan oleh seorang pemimpin. Teknik paling sederhana adalah dengan menggunakan pendekatan outcome thinking—apa yang ingin kita rasakan, dengar dan lihat di masa depan. Pendekatan yang lebih rumit, namun juga menghasilkan rumusan yang lebih komprehensif, dapat ditempuh dengan pendekatan model perubahan. Bila kita belajar dari kekurangan kepemimpinan di masa lalu, dan masih juga terjadi hingga masa kini, adalah kurangnya keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan. Hasilnya kebijakan yang dihasilkan hampir senantiasa menimbulkan persoalan baru, karena ketidaksesuaian dengan kebutuhan dan aspirasi pihak-pihak berkepentingan yang tidak dilibatkan. Pengambilan keputusan atas persoalan-persoalan yang menyangkut hajat hidup orang banyak hendaknya dipandang sebagai ruang publik yang harus dibuka seluas-luasnya, demi perumusan kebijakan yang dapat disepakati bersama. Arogansi teknokrasi hendaknya diakhiri dengan mengembangkan pendekatan-pendekatan yang inklusif, dimana semua pihak yang berkepentingan dihargai sebagai entitas yang sama derajat hak dan kepentingannya. Melibatkan semua pihak yang berkepentingan berarti juga membawa perbedaan-perbedaan ke dalam satu ruang. Balajar dari pola kepemimpinan di masa lalu, dominasi kepentingan golongan tertentu hanya akan merusak struktur kehidupan bersama. Perbedaan kepentingan tidak perlu lagi dibaca sebagai bahaya, namun justru perkayaan pemahaman demi memunculkan manfaat-manfaat baru yang belum tergali sebelumnya. Kompromi adalah langkah minimal demi mengakomodasi perbedaan kepentingan, namun sedapat mungkin dicapai sinergi antar kepentingan untuk memperoleh manfaat yang lebih besar. Perbedaan kepentingan hanya dapat dilerai dalam ruang dialog. Dengan demikian seorang pemimpin perlu melatih kemampuannya berkomunikasi. Sinergi antar kepentingan hanya dapat dilangsungkan dalam suasana yang santun dan saling menghargai. Bagaimana menjalin komunikasi menuju sinergi merupakan ketrampilan yang dapat dilatih. Dalam setiap perubahan
senantiasa
terdapat orang-orang yang tidak mau berubah, karena akan merugikan
kepentingan-kepentingannya sendiri. Gejala muthakir yang kita rasakan
di
Yahoo! Groups Links
|
