Dari sisi logika matematis Memilih Partai Busuk Tanpa Memilihnya, sekilas sikap golput adalah satu sikap yg salah besar. Akan tetapi saya kira Golput sendiri mempunyai logika yg tidak harus mengikuti perhitungan matematis tersebut.

pertama, salah satu penyebab munculnya golput adalah banyaknya partai atau orang partai yg busuk, golput adalah perwujudan sikap akumulasi kekecewaan yg tidak bisa diselesaikan dg cara matematis. Aspirasi rakyat yg hanya ditampung -ibarat septic tank- tanpa ada aksi riil dari pemerintah (eksekutif, legislatif dan yudikatif) dan parpol yg "butuh" rakyat hanya pada waktu pemilu adalah kenyataan yg harus diselesaikan dg komitmen dan kejujuran. Kalaupun muncul penyebaran "suara semu" dalam perhitungan suara, ini menunjukkan bahwa yang busuk sistemnya, bukan orang yg Golput.

kedua, menurut logika moral Golput sangat dapat dibenarkan. Hal ini berkaitan dg pilihan yg memang sama-sama buruk, shg kita harus bijak dalam menentukan sikap. Misalnya partai A korup, partai B perusak lingkungan, partai C pelanggar HAM dan partai D saya tidak tahu sama sekali track record-nya, mana yg harus saya pilih? Tidak Ada. Kalau saya pilih partai A, B atau C jelas saya mendukung kebusukan partai tsb. kalau saya memilih C, ibarat beli kucing dalam karung atau judi. Kalaupun sikap tidak memilih atau memilih dg tidak sah ini dianggap Memilih Partai Busuk Tanpa Memilihnya saya kira ini lebih baik dari pada kita mau nggak mau harus memilih salah satu partai yg busuk atau yg potensial busuk. kita tidak menanggung beban moral akibat kebusukan yg dilakukan partai yg kita pilih. atau  sekalian kita jadi pemilih busuk, basah aja sekalian.

penting diketahui, bahwa Golput adalah sikap politik sama halnya dg kita memilih salah satu parpol. hanya bedanya kalau ada parpol yg busuk, secara moral Golput tidak berdosa dan tidak mempunyai tanggung jawab moral. Akan tetapi akan menjadi tanggung jawab kepada para penyumbang suara bagi parpol busuk tsb. terakhir, sikap politik seseorang tidak dapat disederhanakan pada sebuah perhitungan matematis. Sehingga Jika partai yang leading adalah partai busuk, maka mereka yang golput itu, dengan tanpa memilih sebetulnya telah ikut memilih partai busuk itu... "Apalagi yg ikut langsung milih partai busuk, tentu adalah pemilih busuk. Jadi apa yg tidak terlalu busuk diantara yg busuk-busuk itu, itulah yg seharusnya menjadi pilihan"

salam
rix

===================================


At 21:54 28/03/04, you wrote:
Penting diketahui, logika matematis sederhana berdasarkan realita, tenytang golput.
----- Original Message -----
From: Akhmad Bukhari Saleh
To: "Undisclosed-Recipient:;"@cbn.net.id
Sent: Friday, March 26, 2004 2:09 PM
Subject: Memilih partai busuk tanpa memilihnya

Sebel sama semua partai yang ada?
Memang betul, tidak ada partai yang betul-betul okay punya.
 
Lantas apa? Daripada memilih partai yang salah, lebih baik golput saja dalam pemilu minggu depan ini?
Salah besar!
 
Lihat hitung-hitungan di bawah ini.
 
Wasalam.
 
==========================
 
Misalkan jumlah pemilih baik yang golput maupun yang tidak adalah 100 orang.
Dan ada tiga partai peserta pemilu, partai A, B dan C.

Katakanlah dari jumlah 100 orang itu perolehan suara (votes) masing-masing partai adalah:
Partai A sebanyak 40 suara, yang berarti 40%
Partai B sebanyak 15 suara, yang berarti 15%
Partai C sebanyak 15 suara, yang berarti 15%
Yang tidak memilih (golput) sebanyak 30 orang, yang berarti 30%

Hasil di atas seharusnya menunjukkan tidak ada partai dengan suara mayoritas (lebih besar dari 50%)

Tapi karena ada 30 orang yang golput maka yang terhitung hanya 70 pemilih, sehingga persentase perolehan masing-masing partai berubah menjadi:
Partai A memperoleh suara 40 dari 70 = 57,14% (mayoritas)
Partai B memperoleh suara 15 dari 70 = 21,43%
Partai C memperoleh suara 15 dari 70 = 21,43%

Ini menyebabkan partai A memperoleh suara "semu" sebanyak 57,14% dari 30 orang golput yaitu 57,14% x 30 = 17,14%. Coba bayangkan, berarti partai A memperoleh suara sebesar ini dari orang-orang yang sama sekali tidak memilih partai A.

Selain itu akibatnya partai yang mestinya tidak mayoritas akan menjadi mayoritas (57,14%), padahal dalam kenyataannya partai tersebut tidak memperoleh dukungan mayoritas pemilih (40%).

Jadi suara golput bukannya tidak ada, namun terpecah berdasarkan komposisi yang terjadi.

Dalam kasus ini, satu suara non golput 100% akan menjadi milik partai yang dipilihnya... namun satu suara golput akan terpecah 57,14% untuk partai A dan masing-masing sebesar 21,43% untuk partai B dan C.

Semakin besar jumlah Golput maka komposisi suara yang terjadi akan semakin jauh dari kenyataan.

Suara golput tidak akan berpengaruh hanya disebabkan satu hal, yaitu jika seorang yang golput tersebut memang tidak mempunyai hak memilih.

Jika partai yang leading adalah partai busuk, maka mereka yang golput itu, dengan tanpa memilih sebetulnya telah ikut memilih partai busuk itu...


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke