Menarik apa yang dihasilkan dari hasil survei kolaboratif (CI-LIPI-PUslitbang -KSDA dan Pemda Mandailing Natal). terlepas dari potensi yang penting seperti yang disampaikan dibawah, ada kejanggalan dalam proses pembentukan TNBG. paling tidak, kami lihat dari yang disampaikan dalam siaran pers (karena kami tdk tahu bagaimana proses kawasan tersebut menjadi TN). sebuah kawasan dijadikan menjadi TN sesuai dengan Kepment No 70tahun 2001 tentunya harus telah melalui proses, dari mulai pra usulan yang meliputi : kajian data dan iinformasi keragaman hayati dan ekosistemnya sampai komunikasi dan sosialisasi untuk membangun persepsi, kesepakatan dam dukungan terhadap TN). Tahap Usulan; dimana hasil pertama yang menjadi latar belakang usulan kawasan menjadi TN kepada menteri dimana harus ada peta potensi paling tidak 1 : 100.000. selanjutnya dilakukan penelitian terpadu pusat dan daerah). baru akan ada jawaban kawasan yang dusulkan diterima atau ditolak menjadi TN. kalau disetujui, dibuatlah tapal batas di lapangan sampai akhirnya keluar surat keputusan menteri kehutanan tentang Taman Nasional.
melihat dari yang disampaikan dalam siaran pers, jelas sekali terjadi pemotongan proses dari kebijakan yang telah ada. survei yang dihasilkan yang ternyata begitu "luar biasa" dengan cara kolaboratif setelah TN ada?????? lalu apakah proses yang telah diatur melalui Kepment no 70 juga telah dilakukan? apa hasilnya?apakah yang dilakukan merupakan pengulangan atau apa? Sekali lagi, ini terlepas dari kegiatan survei tersebut ada manfaatnya dan penting harus dilakukan atau tidak? tapi kami mempertanyakan tentang proses. Bagaimana posisi masyarakat dalam pengelolaan TN? dalam paper tersebut sama sekali tidak disebutkan. padahal ini sangat penting, karena dari 42 TN yang telah ada, kondisi riil dilapangan lebih banyak merugikan masyarakat tempatan. mereka hanya dibebani kewajiban.. kewajiban dan kewajiban untuk mendukung TN. sedangkan haknya sebagai warga negara terabaikan.. bahkan terpasung demi kelancaran dan keberlangsungan sistem yang dipaksakan dengan label TN. Posisi masyarakat atau peran mereka akan jelas ketika saat proses mereka dilibatkan tanpa menutup informasi apapun kepada mereka. artinya mereka harus setara pemahamannya tentang apa itu TN, termasuk contoh buruk sistem pengelolaan TN yang sudah ada, implikasi kebijakan TN sesuai dengan kebijakan yang berlaku sampai posisi tawar mereka dalam menentukan kebijakan TN. Jika ini terlewatkan.... kami tidak yakin TN yang memiliki kekayaan hayati ini bisa langgeng kecuali dengan mengerahkan militer dan polisi untuk menjada kawasan seperti yang terjadi di TN Komodo, TN Lore Lindu, TN Lourenz dll. Seperti biasanya ilmuan yang jarang turun ke lapangan, semua persoalan selalu dilimpahkan keselahan pada masyarakat. ini amat "menjijikan" karena dengan label akademisi, anda selalu berlindung atas sistem yang anda bikin sendiri dan dilapangan ternyata keliru, salah, atau tidak dapat dijalankan. Kami pikir, Saudara DR Endang Sukoro perlu lebih lama tinggal bersama masyarakat dengan meninggalkan fasilitas dari negara yang selama ini melekat dan menjamin hidup anda yang sebetulnya berasal dari rakyat. hiduplah mersama masyarakat enclave. Pahami problematika kehidupan riil disana sebelum menyalahkan masyarakat atas rusaknya sebuah kawasan. Kami tidak sama sekali membenarkan kerusakan lingkungan yang dilakukan masyarakat, baik pemburuan liar, penebangan liar, pembukaan lahan lindung atau lainnya. tapi kami pun tidak begitu saja menyalahkan mereka ketika pemerintah tidak mampu menyediakan pekerjaan --> menyejahterakan mereka sebagaimana diamanatkan negara. justru kita perlu mencari alternatif terbaik bagaimana mereka mampu hidup selaras dengan alam. lihatlah fasilitas pendidikan yang ada di mereka, lihatlah fasilitas kesehatan, transportasi atau komunikasi? pada hal disisi lain mereka diwajibkan, sekali lagi wajib untuk tidak mengusik TN. Kalau kita menengok kembali kebelakang, siapa sih pemanfaat dari adanya TN? Akhir kata, jangan kita mengorbankan manusia-manusia yang telah tinggal dan hidup disana dengan alasan untuk menyelamatkan keragaman hayati. tapi carilah sebuah sistem mutualis yang dapat menjamin keduanya dapat berlanjut. dan jawabannya tentu bukan Taman Nasional salam sofyan ----- Original Message ----- From: "Sulis" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, May 19, 2004 3:43 PM Subject: [communitygallery] Press Release TNBG > > > > > _______________________________________________________ > Siaran Pers > > Hasil Penelitian Bersama Conservation International Indonesia, LIPI, PusLitBang Hutan dan Konservasi Alam-Departemen Kehutanan dan Pemda Mandailing Natal > > Menyingkap Tabir "Kekayaan" Bumi Mandailing Natal > > Jakarta, 18 Mei 2004, Kawasan yang baru saja ditunjuk sebagai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, seluas 108.000 Ha ternyata memiliki kekayaan hayati yang tinggi. Fakta ini terungkap lewat survei awal yang dilakukan Conservation International (CI) Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pusat Penelitian dan Pengembangan (PusLitBang) Hutan dan Konservasi Alam-Departemen Kehutanan dan pemerintah daerah Kabupaten Mandailing Natal. Survei ini dilakukan selama kurang lebih 6 minggu, dari 2 Februari hingga 20 Maret 2004. > > Survei terpadu ini berhasil memberikan gambaran yang dapat dijadikan sebagai masukan awal dalam menentukan model pengelolaan, cakupan wilayah, zonasi dan hal-hal terkait lainnya. "Kawasan Taman Nasional Batang Gadis ini merupakan harta yang paling berharga bagi masyarakat di sekitarnya. Selain dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti terjaminnya suplai air bersih, masyarakat juga terhindar dari bencana alam seperti yang belum lama ini terjadi di Bahorok, tetapi dengan catatan jika masyarakat Madina menjaga hutannya dengan baik," tutur Dr. Endang Sukara, Deputi Ketua LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati. > > Berdasarkan hasil penelitian flora, dalam plot seluas 200 meter persegi terdapat 222 jenis tumbuhan berpembuluh (vascular plant) atau sekitar 0,9% dari flora yang ada di Indonesia (terdapat sekitar 25.000 jenis tumbuhan berpembuluh di Indonesia). Sementara dalam plot seluas 1 Ha, terdapat 184 jenis pohon yang berdiameter lebih dari 10 cm dengan jumlah pohon sebanyak 583. Survei ini juga berhasil menemukan bunga Padma (Raffesia sp.) jenis baru. Hingga kini, bunga tersebut belum diberi nama ilmiah dan masih diteliti oleh pakar di Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi-LIPI. > > "Kawasan Taman Nasional Batang Gadis ini ternyata mempunyai kekayaan hayati flora yang tinggi, sehingga harus tetap dijaga kelestariannya. Sebab, masih banyak jenis-jenis tumbuhan yang secara ilmiah belum dikenal serta belum diketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia dan ini perlu dikaji lebih lanjut," imbuh Dr. Kuswata Kartawinata, pakar hutan tropis yang juga adviser CI Indonesia. > > Di sisi lain, tim survei fauna mengidentifikasi berbagai jenis mamalia di daerah TNBG dan sekitarnya pada ketinggian 50-1350 meter di atas permukaan laut (mdpl). Melalui perangkap kamera, tim ini berhasil merekam gambar harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Naemorhedus sumatraensis), tapir (Tapirus indicus), kucing hutan (Catopuma temminckii), kancil (Tragulus javanicus), binturong (Arctitis binturong), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor) dan kijang (Muntiacus muntjac) dan landak (Hystix brachyura). > > "Hal ini sangat luar biasa, hanya dalam enam minggu saja kami sudah berhasil mengidentifikasi beberapa satwa langka, padahal di lokasi lain butuh waktu tahunan. Selain itu, kami juga mengidentifikasi adanya empat jenis primata dan keragaman jenis tikus hutan yang tinggi," jelas Dr. H. M. Bismark, Ahli Peneliti Utama (APU) Biologi Satwa Liar dan Konservasi dari PusLitBang Hutan dan Konservasi Alam-DepHut. Hal ini, lanjutnya, menandakan fungsi satwa sangat mendukung untuk proses regenerasi dan suksesi hutan dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem. > > Di sisi lain, tim yang dipimpin Drs. Boeadi, pakar reptil dan amfibi LIPI berhasil menemukan amfibi tak berkaki (Ichtyopis glutinosa) -merupakan jenis satwa purba- dan katak bertanduk tiga (Megophyris nasuta) yang sudah langka hanya dapat dijumpai (endemik) di Sumatera. > > Catatan jenis burung di kawasan ini juga bertambah dari 140 menjadi 242 jenis. Dari 242 jenis tersebut, 45 merupakan jenis burung yang dilindungi di Indonesia, 8 jenis secara global terancam punah, 11 jenis mendekati terancam punah. Ditemukan juga dua jenis burung yang selama ini dikategorikan sebagai 'kekurangan data' (data deficient) oleh IUCN karena sedikitnya catatan. Dari total jenis burung tersebut 13 jenis masuk kedalam kategori Burung Sebaran Terbatas yang berkontribusi pada terbentuknya Daerah Burung Endemik dan Daerah Penting bagi Burung (DPB). "Ada satu jenis burung yang keberadaannya di Sumatera masih diragukan dan tim kami menemukannya, bahkan dengan bukti foto, yaitu pedendang kaki sirip (Heliopais personata)," ujar Sunarto,ahli keanekaragaman hayati CI Indonesia. Tambahnya, kawasan ini merupakan salah satu lokasi transit burung-burung migran yang datang dari belahan bumi utara. > > Selain tumbuhan dan hewan tingkat tinggi, CI Indonesia dan Bioteknologi-LIPI juga mencoba melakukan hal baru yaitu mengidentifikasi mikroba hidup dalam jaringan tumbuhan (endopyte) yang ada di hutan tropis Mandailing Natal, guna menyelamatkan jenis mikroba tersebut dari kepunahan. Konservasi mikroba dari hutan tropis Indonesia belum pernah dilakukan oleh lembaga mana pun. Hingga kini, tim survei telah berhasil mengumpulkan 1500 jenis mikroba yang terdiri dari bakteri, kapang dan jamur. Mikroba ini banyak memberikan manfaat antara lain sebagai sumber obat-obatan, pupuk organik, bio-insektisida ataupun bio-fungisida yang menunjang sektor pertanian maupun penghasil enzim dan hormon yang dibutuhkan oleh sektor industri. Sekali potensinya terkuak, Indonesia dapat membangun bioindustri bernilai tinggi tanpa harus mengorbankan kekayaan bumi Madina. > > "Kami berharap hasil penemuan awal ini menjadi sumber acuan bagi pengelolaan kawasan taman nasional yang dikelola secara kolaboratif berdasarkan keselarasan antara kepentingan pelestarian keanekaragaman hayati dan kepentingan masyarakat lokal, nasional dan global" tukas Dr. Jatna Supriatna, Regional Vice President CI Indonesia. > > Keterangan lebih lanjut hubungi: > > Diah R. Sulistiowati (Sulis) > CI Indonesia-Kantor Medan > Jl. Rajawali No. 38, Sei Sikambing B, Medan, Sumatera Utara, 20122 > Telp. 061-8454534, 08128078472 > Email: [EMAIL PROTECTED] > > Amalia Firman > CI Indonesia-Kantor Jakarta > Jl. Pejaten Barat No. 16A > Jakarta 12550 > Telp. 021-78838624, ext 114, Fax. 021-7896723 > Email: [EMAIL PROTECTED] > > ______________________________________________________ > Conservation International (CI) adalah organisasi non-profit internasional yang menerapkan inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan murni, ekonomi, kebijakan dan partisipasi masyarakat untuk melindungi wilayah wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi di dunia. CI bekerja di lebih dari 30 negara. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.conservation.org atau www.conservation.or.id. > > > > Need a new email address that people can remember > Check out the new EudoraMail at > http://www.eudoramail.com > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0FHolB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/communitygallery/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ _______________________________________________ Envorum mailing list [EMAIL PROTECTED] http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum
