SUARA PEMBARUAN DAILY   -  Jum'at, 21-05-2004
Perlu Dibentuk Tim Penilai Keefektifan Pinjaman LN

Pinjaman ADB Dinilai Tak Beri Manfaat untuk Indonesia
 http://www.suarapembaruan.com/News/2004/05/21/index.html





JAKARTA - Pemerintah dinilai perlu membentuk tim khusus untuk menilai
efektivitas dari pinjaman luar negeri yang diberikan oleh negara-negara
donor dan lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya. Kehadiran tim ini
diperlukan untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah pinjaman mana yang
efektif dan mana yang tidak seharusnya diterima. Dengan demikian utang luar
negeri tidak semakin membengkak.

Menteri Negara Perenca-naan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Menneg PPN/Bappenas), Kwik Kian Gie usai rapat kerja
dengan komisi VI DPR di Jakarta, Rabu (19/5) mengatakan, utang luar negeri
bisa dikurangi jumlahnya.

"Pengalaman kami selama di Bappenas utang luar negeri itu bukan kita yang
minta, tetapi negara-negara kreditor itu yang menyodorkan dan memaksakan.
Selain itu, ada juga yang dimintakan oleh beberapa departemen," kata Kwik.

Menurut dia, supaya lebih efektif, presiden sebaiknya memberi wewenang
kepada tim khusus tersebut untuk meneliti semua pinjaman agar dana yang
diperoleh dari negara kreditor dimanfaatkan untuk pembangunan.

Ditanya mengenai adanya tudingan dari sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) yang mengatakan 70 persen pinjaman Bank Pembangunan Asia (Asian
Development Bank/ADB) tidak memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi
jangka panjang, dia menyatakan, pihaknya tidak mengetahui data yang
digunakan LSM sebagai dasar tidak efektifnya pinjaman ADB.

"Kami sendiri memang punya data, tetapi tidak sampai 70 persen dan kemudian
tidak bisa dikatakan gagal. Selain itu, kreditnya juga sudah ditandatangani
terhadap beberapa proyek," kata Kwik.

Sebelumnya, aktivis konsorsium Working Group on MDB's, Febby Tumiwa dalam
keterangan tertulisnya mengatakan, pinjaman proyek dari ADB selama ini belum
berjalan efektif. Penilaian tersebut didasarkan pada 70 persen pinjaman
proyek ADB tidak memberikan dampak ekonomi jangka panjang.

Dikatakan, kondisi proyek yang tidak memberikan pengaruh langsung ke
perekonomian jangka panjang, menjadi salah satu penyebab beban utang
Indonesia semakin menumpuk. Belum lagi, dalam menjalankan proyek masih
membutuhkan dana pendamping.

Dalam kurun waktu 1968-2002, ADB setidaknya telah mengucurkan dana US$ 18,3
miliar untuk membiayai 268 proyek di Indonesia. Ternyata, sebagian besar
proyek itu dinilai gagal memberi manfaat kepada bangsa Indonesia.


Transparansi

Sementara itu, anggota konsorsium LSM lainnya Arimbi Heroepoetri mengatakan,
program ADB yang dimaksudkan untuk menanggulangi kemiskinan sejauh ini
justru menimbulkan bertambahnya jumlah kemiskinan. Bahkan, untuk kasus
Indonesia dengan kucuran pinjaman mencapai US$ 18,3 miliar, ADB menyumbang
hampir 20 persen total utang Indonesia. Namun, hingga kini tidak ada
pertanggungjawaban yang jelas akan kemaslahatan investasi utang tersebut.

Sedangkan Direktur Infid, Binny Buchori berpendapat, dari segi transparansi
dan akses informasi proyek-proyek ADB sangat sulit untuk ditelusuri. Menurut
dia, ADB ber-alasan akses informasi hanya diberikan untuk proyek-proyek yang
dilaksanakan setelah tahun 1995.

Selama ini pinjaman dari ADB justru tidak memberikan manfaat kepada
Indonesia, terutama jika dilihat dari efektifitas proyeknya. Bahkan tak
jarang ADB berkolaborasi dengan IMF dan Bank Dunia menelorkan kebijakan yang
menyangkut regulasi dan deregulasi sektor publik seperti, listrik, air, dan
BBM (bahan bakar minyak), yang akhirnya membuat harganya melambung.
"Regulasi dan deregulasi sektor publik itulah yang sangat berbahaya,"
katanya.

Dalam keterangan pers ADB beberapa waktu lalu, Country Director Indonesia
Resident Mission ADB, David J Green mengatakan, ADB memberikan pinjaman
untuk 42 proyek senilai US$ 2 miliar yang hingga saat ini belum dicairkan.

Selain masalah ketidakefisienan, pembatalan pinjaman khususnya pinjaman
proyek biasa dilakukan kalau dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan
kesepakatan yang telah dibuat antara pemerintah Indonesia dan ADB.

Menurut dia, ADB selalu melakukan pemantauan yang ketat atas pinjaman proyek
yang diberikan kepada Indonesia. Beberapa tahun lalu, ADB sempat
menghentikan sementara pencairan dana untuk proyek perkotaan di Sumatera
Utara karena dari hasil pemantauan, penggunaaan dananya menyimpang. Pemda
waktu itu kesulitan untuk menjalankan proyek sesuai standar internasional.

Di samping itu, pemerintah pusat secara mendadak menyerahkan pengawasannya
kepada pemda seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, padahal pemda
belum siap.

Bank Pembangunan Asia memperkirakan pinjaman yang dibatalkan (cancellation
loan) untuk Indonesia setiap tahun mencapai US$ 100 juta dari rata-rata
pinjaman yang disalurkan setiap tahunnya sebesar US$ 300 juta hingga US$ 400
juta.

Pembatalan pinjaman ADB, biasanya disebabkan pinjaman yang diberikan baik
dalam bentuk pinjaman proyek maupun pinjaman program sudah direncanakan
beberapa tahun sebelumnya, sehingga ketika akan diimplementasikan sudah
tidak sesuai lagi dengan kebutuhan pemerintah Indonesia saat ini.

Pembatalan pinjaman merupakan tindakan biasa serta merupakan proses yang
sehat mengingat baik pemerintah maupun ADB melihat pinjaman yang dibatalkan
itu tidak efisien lagi, sehingga akan lebih baik dilakukan pengkajian ulang
sektor mana yang akan dibiayai. (BD/N-3)


Last modified: 21/5/04


----- Original Message -----
From: "nyoman" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, May 04, 2004 8:59 AM
Subject: [Envorum] Re: [communitygallery] Seminar 24 April Pandangan Gereja
terhadap Permasalahan SDA


> Dear all,
>
> Konon akan ada utang dari ADB untuk proyek Rehabilitasi DAS dan pihak LSM
> menolak rencana ini. Saya mendengarnya di RRI minggu lalu.
>
> Apakah ada yang tahu tentang hal ini....Departemen mana lagi yang berulah
> buat utang buat negeri yang sedang terpuruk ini ???? jangan2 produknya
hanya
> setumpuk laporan  !
>
> Juga saya baca di Kompas minggu lalu, kalau CIFOR dan LIPI mau
> merehabilitasi DAS Citarum.. bekerja sama dengan MCC (Masyarakat Cinta
> Citarum) .... mudah-mudahan tidak pakai dana hutang yaaa !!
>
>
> salam
>
> komang
>
>


_______________________________________________
Envorum mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum

Kirim email ke