Salam hijau,

Lho, tongkat dan batu saja ditanam jadi tanaman kok :-))

Salam Lestari
Avian W

At 21:01 14/01/99 +0700, you wrote:
>Tempo Interaktif, NO. 16 TAHUN XXVII - 19 Jan - 25 Jan 199
>
>Kekayaan Hayati Kita Menakjubkan
>
>Sebuah buku yang dikeluarkan Conservation International
>membuktikan keanekaragaman hayati Indonesia kedua terbesar di
>dunia setelah Brasil. Mampukah negara mengelola karunia ini?
>
>
>KUMAN di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak terlihat.
>Pepatah kuno ini bisa juga menggambarkan betapa ironisnya kehidupan
>manusia. Orang telah sampai ke bulan, tapi ribuan spesies hewan dan
>tumbuhan di bumi sendiri, tak semuanya dikenali. Bahkan, tanpa disadari,
>manusia telah memusnahkan keanekaragaman makhluk hidup itu untuk
>kepentingan sesaat bernama ekonomi.
>
>Kesadaran tentang betapa kayanya planet hijau bernama bumi inilah yang
>dicoba dibangun oleh buku Megadiversity: Earth's Biologically Wealthiest
>Nations, yang peluncurannya dilakukan Desember lalu. Buku setebal 503
>halaman yang digarap bersama di bawah koordinasi lembaga
>Conservation International (CI) itu berhasil memetakan secara rigid
>kekayaan flora dan fauna bumi dengan basis negara.
>
>Dari 17 negara yang diamati (Amerika, Meksiko, Kolombia, Ekuador,
>Peru, Venezuela, Brasil, Kongo, Afrika Selatan, India, Madagaskar,
>Malaysia, Indonesia, Cina, Filipina, Papua Nugini, dan Australia),
>Indonesia menduduki tempat ketiga setelah Brasil dan Kolombia dalam
>hal keragaman flora dan fauna. Tapi, dalam hal endemisitasnya (jenis
>spesies yang khas) Indonesia boleh bangga karena menempati posisi
>teratas. Jika dua tolok ukur ini digabungkan, Indonesia berada di tempat
>kedua setelah Brasil. Kekayaan itu sungguh luar biasa kalau
>dibandingkan dengan luas wilayah. Soalnya, dalam hal yang satu ini
>Indonesia hanya menempati posisi kedelapan, dengan luas yang kurang
>dari 2 juta kilometer persegi. Bandingkan dengan negara paling luas,
>yakni Cina, yang luasnya hampir 10 juta kilometer persegi, tapi hanya
>berada di tempat kedelapan dalam keanekaragaman dan endemisitas.
>
>Kalau diperiksa per subkategori, Indonesia juga masih bisa besar hati.
>Untuk jenis tumbuhan berpembuluh dan hewan bertulang belakang atau
>vertebrata, misalnya, negeri kita berada pada urutan pertama dengan skor
>koleksi 19.300 jenis. Jumlah total keanekaragaman hayati mencapai
>325.350 jenis flora fauna. Kekayaan ini pun sebenarnya belum tergali
>semua karena miskinnya database biota yang dimiliki Indonesia. Untuk
>kategori mamalia, misalnya, Indonesia harus ''kalah" dengan Brasil.
>''Padahal pada database tahun 1982 koleksi mamalia Indonesia nomor
>satu di dunia," kata Jatna Supriatna, Direktur Conservation International
>Indonesia.
>
>Pemetaan keanekaragaman hayati dalam buku Megadiversity ini memang
>bukan karya yang pertama. Birdlife International, misalnya, pernah
>melakukannya dalam proyek Endemic Bird Area (EBA) untuk memetakan
>prioritas konservasi burung-burung endemik. Selain itu WWF juga pernah
>membuat Conservation Potential Threat Index (CPTI) untuk mengukur
>potensi ancaman terhadap flora dan fauna.
>
>Yang baru dari Megadiversity adalah pendekatan keanekaragaman hayati
>berbasiskan negara dengan menggabungkan tolok ukur keanekaragaman
>dan endemisitas. Sebelumnya, pemetaan yang dilakukan CI adalah
>dengan menggunakan pendekatan hotspot dan wilderness area. Pada
>hotspot, wilayah tidak dibagi berdasarkan negara melainkan kawasan,
>dengan tolok ukur endemisitas dan ancaman. Jadi, dunia dibagi menjadi
>17 kawasan hotspot, dengan dua di antaranya berada di Indonesia, yakni
>Wallacea (Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku), dan kawasan Sunda
>(Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan Semenanjung Malaysia). Sedangkan
>pada wilderness area, dunia dibagi berdasarkan kawasan yang memiliki
>blok hutan yang sangat luas. Wilayah Indonesia yang masuk kategori ini
>adalah Irianjaya. Melalui pendekatan Megadiversity, tekanan terhadap
>pentingnya negara sebagai pengelola lingkungan lebih diutamakan.
>Dengan kata lain, secara politis negara bertanggung jawab terhadap hidup
>matinya ribuan spesies yang hidup di negara tersebut.
>
>Masalahnya sekarang tentu saja berpulang ke pengelola negara tersebut.
>Adakah ia serius menjaga kekayaan alam bernama keanekaragaman
>hayati? Atau adakah kekayaan itu hanya pelengkap hidup manusia yang
>bisa dimusnahkan kapan saja?
>
>Arif Zulkifli, I G.G. Maha S. Adi
>                               
>     Copyright @ PDAT 1 9 9 8
>
>
>
>
>___________________________________________________________________
>Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
>Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
>Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum
>
>BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>

Avian Wicaksono
BIOLOGI/FMIPA UNIBRAW MALANG
Residence:
Jl. Raya Candi III/65, Malang 65146
Phone: +62 0341-580334
Mailto: [EMAIL PROTECTED]

___________________________________________________________________ Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke