>Mailing-List: contact [EMAIL PROTECTED]
>Date: Fri, 05 Feb 1999 15:43:21 +0700
>To: [EMAIL PROTECTED]
>From: Indonesia Forum News <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [indonesia] CePe---HILANGNYA SURGA SERANGAN DITELAN MEGAPROYEK
REKLAMASI
>
>Bali, Indonesia
>24 Desember 1998
>
>HILANGNYA SURGA SERANGAN DITELAN MEGAPROYEK REKLAMASI
>
>Oleh M. Thosim
>Reporter Crash Program
>
>BALI --- Ironis memang! Megaproyek reklamasi Pulau Serangan justru
>menghancurkan kelestarian lingkungannya. Terumbu karang yang hancur
>menyebabkan ikan langka Bali Stoides diduga punah. Bagi masyarakat Serangan,
>munculnya megaproyek ini betul-betul menghilangkan surga mereka.
>
>
>Sudah turun temurun, penghasilan utama warga kelurahan Serangan dari laut.
>Hampir seratus persen warga Serangan adalah nelayan. Setiap pagi mereka
>dengan ulet mengail dan menjaring di perairan sekitarnya. Hanya sekitar dua
>hingga tiga jam kemudian mereka kembali ke darat dengan membawa sejumlah
>ekor ikan untuk dijual. Kalangan anak-anak pun tidak ketinggalan. Sebelum
>masuk sekolah atau setelah pulang sekolah. Kebiasaan anak di Serangan adalah
>mencari tambahan uang jajan. Mereka mencari ikan hias yang banyak
>berkeliaran di perairan laut dangkal. Rata-rata anak-anak Serangan dapat
>mengumpulkan Rp 5.000 setiap hari.
>
>Sumber penghasilan lainnya diperoleh dari kucuran dolar yang selalu mengucur
>setiap hari ke Serangan. Meski jumlahnya sedikit, wisatawan manca negara
>selalu saja menyinggahi Serangan. Mereka terutama ingin melihat dari dekat
>kolam penyu hijau yang ada di pulau itu.
>
>Kini keadaan daerah lumbung ikan itu justru berbalik. Ikan dari pantai
>Kedonganan Kuta justru harus didatangkan untuk dikonsumsi warga Serangan.
>Warga yang semula dikenal akrab dan bersahabat dengan lingkungan itu pun
>berubah arah. Sebanyak 80 orang warga Serangan saat ini malah menambang batu
>karang yang akibatnya menghancurkan lingkungan. Kolam penyu seluas 10 meter
>persegi yang dulu menjadi daya tarik kini telah disulap menjadi areal
>parkir. Bersamaan dengan itu, art shop yang sebelumnya buka setiap hari,
>kini rusak berat tak terawat.
>
>
>Koordinator lembaga swadaya masyarakat Sekretariat Kerja Penyelamat dan
>Pelestari Lingkungan Hidup (LSM SKPPLH) I Made Mangku. Pria tinggi berambut
>kucir itu mengaku tidak habis berpikir dibuatnya. "Bagaimana bisa diam,
>megaproyek dengan mengatasnamakan pelestarian alam, menjual view panorama
>laut sebagai menu utama kepada wisatawan. Ternyata proses pembangunan
>prasarana itu sendiri dilakukan dengan cara merusak lingkungan," katanya.
>
>Penegasan itu dilontarkan Mangku seusai menyurvei kawasan areal megaproyek
>senilai lebih dari empat triliun itu. Ia mengelilingi perairan Serangan
>dengan menggunakan jetski serta melakukan penyelaman dalam kurun dua minggu
>pada awal November 1998 yang lalu. Ketua Pengurus Daerah Persatuan Olahraga
>Layar Seluruh Indonesia (Pengda Porlasi) Bali itu menemukan 60 persen dari
>sekitar 10 hektare areal terumbu karang di lokasi dredging proyek mengalami
>rusak berat.
>
>Di luar areal dredging, ditemukan terumbu karang yang berlubang-lubang.
>Kondisi air lautnya keruh. Jarak pandang paling jauh setengah meter sehingga
>tidak bisa lagi dipergunakan untuk kegiatan diving dan snokling seperti yang
>biasa dilakukan sebelumnya. Kerusakan itu terutama ditemukan di sisi utara
>dan selatan pulau karang atol itu.
>
>Bali Stoides Punah
>
>Yang menyedihkan, menyusul amblasnya terumbu karang tersebut, banyak jenis
>ikan yang semua banyak ditemukan di perairan dangkal Serangan menghilang.
>Seperti ikan hias, ikan baronang, ikan kerapu, dan lainnya. Bahkan ikan yang
>dinamakan "Bali Stoides" pun sulit ditemukan kembali. Bali Stoides adalah
>nama jenis ikan langka. Ikan bersisik menyerupai batik dan berukuran 20
>sentimeter itu sebelumnya beberapa kali dipergoki di perairan Serangan.
>
>Dinamakan Bali Stoides lantaran di dunia ini yang ada hanya di perairan
>Pulau Serangan, demikian menurut suatu buletin diving terbitan Eropa. Ikan
>itu hidup di perairan dengan kedalaman 75 meter. Namun belakangan, beberapa
>kali Mangku melakukan diving, tidak menemukan lagi ikan jenis itu. Ia
>menduga ikan langka itu kini telah punah.
>
>Kekhawatiran seperti itu, sebenarnya sudah sering kali dilontarkan warga
>masyarakat, juga pemerhati persoalan lingkungan. Tepatnya pada saat
>menjelang pelaksanaan proyek reklamasi. Namun, kekhawatiran mereka ibarat
>angin lalu yang dibiarkan bertiup begitu saja. Proyek pun tetap berjalan.
>Menurut Aik Suwarno, kerusakan terumbu karang itu pada akhirnya memang dapat
>pulih kembali. Tetapi proses pemulihan itu memerlukan waktu ratusan tahun.
>"Lalu, kalau terus menerus seperti itu, masyarakat kemudian makan
>apa?,"ujarnya.
>
>Pengerukan Menghasilkan Endapan Lumpur
>
>Pihak proyek, PT BTID mengeruk hamparan batu karang itu hingga kedalaman
>lebih dari 40 meter dengan lebar 15 meter. Bentuk pengerukannya menyerupai
>kanal di dasar laut, memanjang mulai dari sisi timur laut Serangan hingga ke
>arah barat lalu membelok ke arah selatan. Ekses kegiatan pengerukan ini
>adalah ditemukannya endapan lumpur yang tebalnya mencapai lebih dari satu
>meter di beberapa tempat.
>
>Persoalan ini kemudian merembet ke lingkungan pelabuhan laut Benoa, yang
>terletak di sisi Barat daya Serangan. Beberapa lokasi di jalur keluar masuk
>kapal dari pelabuhan ditemukan pendangkalan akibat endapan lumpur. Kepala
>Dinas Teknik Pelindo III Adi Suwarno membenarkan adanya pendangkalan itu.
>"Kalau sekarang sih belum mengganggu. Kalau dibiarkan terus, ya kami jelas
>akan terusik,"katanya.
>
>Sementara itu, pendangkalan terjadi di beberapa tempat. Palung laut Semawang
>yang dahulu sedalam 45 meter kini tertimbun pasir dan kedalamannya tinggal 7
>meter. Bahkan kelancaran arus lalu lintas kapal di bagian selatan Serangan
>diperkirakan terancam karena penimbunan pasir terjadi persis di jalur keluar
>masuk kapal dari pelabuhan laut Benoa.
>
>Reklamasi Mengubah Arus Laut
>
>Dampak yang paling kuat adalah terjadinya perubahan arus laut, yang
>mengakibatkan pengikisan di satu sisi dan munculnya daratan baru di tempat
>lain. Sebelum dilakukan reklamasi, arus laut perairan Sanur dan Nusa Dua
>berjalan normal. Dari selatan arus laut dari kawasan Nusa Dua (disebut arus
>Benoa) yang cukup kuat dipecah, akhirnya dijinakkan oleh gabungan arus dari
>timur laut kawasan perairan Sanur (disebut arus Serangan) dan arus dari
>utara (disebut arus Sanur).
>
>Menurut Suwarno, karena daratan baru dan erosi itu, arus Serangan dan arus
>Sanur bertumpuk menjadi satu. Begitu terhambat daratan, lalu arus memutar
>kembali ke arah utara menghempas pantai sepanjang Sanur.
>
>Hantaman pertama mengenai pantai Semawang. Hasil pantauan SKPPLH di Sanur,
>pantai yang rata-rata mengalami erosi satu meter per 10 tahun, kini tidak
>memerlukan waktu setahun untuk mengalami erosi lebih dari tujuh meter.
>
>Selain itu, terjadi kekuatan arus yang sangat kencang. Rata-rata arus laut
>2--3 knot. Padahal normalnya 0,5 knot saja. Menurut Mangku yang juga
>koordinator SKPPLH, kekuatan itu sangat dahsyat, terutama pada musim angin
>tenggara antara April dan Agustus.
>
>Sejumlah pohon akasia yang ditanam di pinggiran pantai tumbang satu persatu.
>Ujung trotoar yang dibangun Pemda Denpasar untuk peningkatan pelayanan
>wisatawan juga dirontokkan ombak. Dan awal Desember 1998 yang lalu pagar
>Pura Tirta Empul dihantam. Pagar tempat suci umat Hindu itu kini sebagian
>sudah ambrol dan roboh.
>
>Dampak buruk itu sempat diprediksi oleh pakar kelautan yang didatangkan oleh
>konsorsium PT BTID dari Australia dan Denmark, sehingga peta reklamasi
>berubah hingga tiga kali. Terakhir, dirancang dataran baru di sisi timur
>Serangan yang dipisahkan dengan kanal. Tujuannya selain memberikan laju arus
>laut, juga memberikan jalur bagi ikan-ikan perairan dangkal di sekitar pulau
>itu. Namun, rencana itu hingga kini masih sebatas perencanaan.
>
>Selain perubahan arus laut, reklamasi yang memunculkan daratan baru ini
>mengakibatkan sampah bertumpuk di sisi selatan pulau. Penumpukan itu terjadi
>karena sampah-sampah yang diangkut ombak dari laut lepas semestinya dapat
>dilempar lagi ke tengah laut oleh arus Benoa. Berhubung terhalang daratan
>baru itu, arus memutar ke selatan lagi dan di sudut perputaran itulah
>terjadi penumpukan sampah.
>
>Dampak megaproyek reklamasi ini yang tidak kalah memilukan adalah rusaknya
>puluhan hektare areal hutan bakau, terutama di sisi barat kawasan reklamasi.
>Konsorsium PT BTID sebenarnya merencanakan tukar guling lahan dengan
>Departemen Kehutanan. Luas areal hutan yang ditukar itu 80 hektare. Sebagai
>gantinya, PT BTID berjanji menyiapkan lahan seluas 114 hektare. Namun, janji
>tinggal janji. Hingga saat ini kesanggupan itu belum juga direalisasikan.
>Sementara kawasan hutan bakau di sepanjang pantai itu mengering lantaran
>kesulitan sirkulasi air laut.
>
>Daratan Buatan antara Pulau Bali dan Pulau Serangan
>
>Kerusakan lingkungan akibat megaproyek ini diperparah dengan disambungnya
>daratan pulau Bali dengan pulau Serangan. Sekeliling daratan buatan itu
>dipagari dengan batu hitam guna menangkis serangan gelombang laut di sisi
>luar.
>
>Lebar daratan buatan yang terbuat dari tumpukan batu itu berkisar antara 2,5
>hingga 3 meter dengan berat rata-rata 0,5 ton per biji. Batu dengan kriteria
>seperti itu di pulau Bali hanya ditemukan di wilayah timur kabupaten
>Karangasem, seperti di kawasan bukit Seraya dan bukit Kresek di pantai timur
>laut Pulau Bali. Dengan membuat dermaga sementara, batu hasil tambang itu
>dibawa ke Pulau Serangan dengan menggunakan armada kapal laut.
>
>Mulanya PT Pembangunan Kartika Udayana (PKU) membidik bukit Kresek wilayah
>Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem. Melalui Komandan Komando Daerah
>Militer (Danramil) Kecamatan Abang Lettu Suparno, diperoleh kawasan seluas
>13,5 hektare.
>
>Protes keras warga langsung bermunculan karena kawasan bukit Kresek itu
>rawan longsor. Warga khawatir kampung mereka yang terletak di bibir pantai
>itu tenggelam. "Apa harus mengulangi tragedi tahun 1995 yang lalu. Waktu itu
>banjir bandang dan tanah longsor menghantam kami," ujar Kepala Desa Bunutan
>Ida Ayu Asiati, satu-satunya kepala desa perempuan di Bali.
>
>Yang lebih keras datang dari pengelola pariwisata. Mendengar wilayah Bunutan
>akan ditambang, belasan pengelola hotel dan bungalo di Bunutan dan Dusun
>Amed, Desa Culik, langsung protes. Manager Hotel Mimpi, I Made Audi,
>menyatakan sangat keberatan. "Kalau di sepanjang pantai ini ada penambangan,
>kami semuanya mati. Karena yang kami jual di sini adalah view dalam laut,"
>ujarnya.
>
>Reaksi yang sama juga sempat diberikan warga Dusun Tiis, Desa Seraya Timur,
>Kecamatan Karangasem, tempat penggalian sekarang. Tetapi, warga akhirnya
>tidak berdaya. Menurut Dinas Pertambangan Bali, PKU dianggap layak melakukan
>penambangan di areal sungai Tiis seluas 5 hektare.
>
>Areal tambang yang dikontrak hingga tahun 2000 itu memiliki tujuh titik
>lokasi penambangan. Selain sungai Tiis, kawasan perkebunan penduduk pun
>dijadikan areal tambang. Sejak berhentinya kegiatan penambangan Maret 1998
>yang lalu karena proyek Serangan tersendat-sendat, kawasan yang tiap
>hektarenya disewa Rp6 juta itu kini dibiarkan menganga. "Tiyang (saya dalam
>bahasa Bali, red.) tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah
>dikontrakkan,"ujar Made Madra, salah seorang pemilik lahan.
>
>Tangkisan Pemilik Lahan
>
>Asisten Manager Proyek PT BTID, Anak Agung Ngurah Saputra, menangkis semua
>tudingan yang ditimpakan kepadanya. "Hal tersebut tidak benar. Gerusan erosi
>Sanur sama sekali tidak ada hubungannya dengan keberadaan proyek Serangan,"
>ujar Saputra, balik menanyakan bukti atas tudingan itu.
>
>Dikatakan, survei secara matang telah ditempuh sebelum reklamasi. "Kami
>tidak sembarang tempat melakukan pengerukan,"katanya. Dijelaskan, lokasi
>pengerukan nantinya direncanakan melingkar. Dibuat semacam kanal di dalam
>laut. Dari ujung utara lalu ke arah barat dan memutar sampai ke selatan
>perbatasan antara batas luar reklamasi dan areal pelabuhan laut Benoa. Kami
>juga, ujarnya akan membuatkan jembatan sepanjang 100 meter. Kondisi sekarang
>ini masih darurat untuk memperlancar arus kendaraan keluar masuk proyek
>saja.
>
>Tapi, kini proyek telah mandek. PT Maruchi telah mengangkut semua seluruh
>peralatan berat pada minggu pertama Desember 1998. Pihak LSM dengan didukung
>sejumlah pakar bertekad menggugat secara hukum atas kerusakan lingkungan
>yang terjadi. Langkah itu memang memungkinkan karena sudah ada Undang-Undang
>soal Lingkungan Hidup Nomor 23 Tahun 1997. Namun, hingga kini langkah itu
>belum ada tindak lanjutnya.
>
>
>(M. Thosim adalah wartawan Nusa Tenggara, Bali, dan peserta Program Beasiswa
>untuk Wartawan LP3Y-LPDS-ISAI)

___________________________________________________________________
Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
Arsip di http://www.egroups.com/list/envorum

Kirim email ke