http://www.suarapembaruan.com/News/1999/10/251099/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY

Walhi Yakin Gus Dur Peduli Lingkungan

Jakarta, Pembaruan

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Emmy Hafild
berkeyakinan, Presiden Indonesia yang baru, Abdurrahman Wahid, akrab
dipanggil Gus Dur amat peduli terhadap lingkungan hidup. Hal ini tentu berbeda
dengan presiden-presiden sebelumnya, yang tidak peduli lingkungan, bahkan
terkesan antilingkungan hidup.

"Paradigma pembangunan yang dianut oleh pemerintahan sebelumnya sangat sentralistik
dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Partisipasi dan kontrol rakyat masih
minim. Pertumbuhan masih lebih diutamakan daripada pemerataan ekonomi, sementara
pelestarian lingkungan hidup masih dipandang sebagai hambatan ketimbang pendorong
pembangunan berkelanjutan," kata Emmy Hafild kepada Pembaruan di Jakarta, Sabtu
(23/10).

Menurut Hafild, krisis yang melanda bangsa Indonesia belakangan ini telah menimbulkan
upaya "jual diri" pemerintah atas lingkungan, yaitu dengan memberikan izin kepada 
negara
lain untuk membuang limbah di wilayah Indonesia dengan imbalan devisa.

Pemerintah dalam hal ini Menteri Negara Lingkungan Hidup, dinilai telah mengabaikan
tantangan rakyat dan pemerintah setempat, dengan memberikan rekomendasi kepada
perusahaan yang memiliki yayasan, yang bernaung di bawah Departemen Hankam untuk
mengimpor limbah. Ironisnya, pemerintah merestuinya, bukan karena alasan lingkungan,
tetapi karena aspek bisnis impor tersebut.

Di samping akibat kesalahan dalam penerapan paradigma pembangunan, kerusakan
lingkungan hidup juga terjadi karena tumpang-tindihnya sistem pemerintahan, khususnya
departemen yang menangani masalah lingkungan hidup.

"Karena itu, sistem pendekatan sektoral yang dipraktekkan semasa pemerintahan
Soeharto dan Habibie, harus ditolak dan diganti. Perlu segera dibentuk satu lembaga
khusus semisal departemen, untuk menangani pengelolaan sumber daya alam."

Selama ini, kata Hafild, sistem pengelolaan sumber daya alam (SDA) dikerubuti oleh
beberapa departemen. Ada Departemen Kehutanan, serta Departemen Pertambangan
dan Energi. Ada Dirjen Eksploitasi, Dirjen Pengelolaan SDA, dan sebagainya. Semuanya
tidak jelas mau berbuat apa. 

Untuk merealisasikan harapan tersebut, dalam waktu dekat Walhi akan menemui
Presiden Abdurrahman Wahid untuk menyampaikan beberapa pemikiran kebijakan
tentang lingkungan hidup.

Agenda Utama

Walhi menilai, ada dua agenda utama yang perlu diperhatikan. Pertama, menghapuskan
Menteri Negara Lingkungan Hidup, dan mengefektifkan Bapedal yang sudah ada.
Kedua, departemen-departemen sektoral seperti, Kehutanan, dan Departemen
Pertambangan dihapuskan, dan semuanya berada di bawah satu atap dengan nama
Departemen Pengelolaan SDA.

Menurut Walhi, Bapedal selama ini tidak efektif. Kewenangan dan kebijakan Bapedal
terhadap pembangunan lingkungan hidup sangat kurang, sehingga harus diperluas.
Bapedal seyogianya memiliki kekuasaan untuk melakukan penyidikan, memberikan
sanksi, dan berhak menangguhkan suatu kebijakan yang dirasa merugikan masyarakat
dan lingkungan hidup. 

"Dengan demikian, Bapedal akan menjadi lembaga yang bergigi, berwibawa, dan
disegani," kata Hafild.

Inisiatif Walhi mengajukan pemikirannya kepada Gus Dur, karena Presiden RI ke-4 ini
dinilai sangat dekat dan selalu mendukung kegiatan Walhi. Bahkan pada 1980-1996, Gus
Dur aktif dalam Gerakan Anti Nuklir, selain juga sering mengikuti seminar lingkungan
yang pernah diadakan oleh Walhi.

"Semua itu mengindikasikan bahwa Gus Dur yang dulu, yang saya kenal, mencintai
lingkungan hidup. Namun, Gus Dur yang sekarang, Gus Dur yang presiden, saya belum
tahu, sudah berubah atau belum," ujar Hafild seraya berharap, Gus Dur tetap seperti 
dulu,
mencintai dan aktif membela lingkungan hidup. (AL/M-12)


Last modified: 10/25/99 


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
dan di http://www.egroups.com/list/envorum

Kirim email ke