Dear all,

Ini saya ada sebuah cerita pendek yang moga2X
bermanfaat buat semua
-------

Ode Buat Peladang Berpindah

Jika semua orang harus menanam untuk dirinya sendiri
dan keluarganya niscaya luas kebun kita akan jauh
lebih luas dari kebun petani/peladang berpindah, sebab
kebutuhan kita jauh lebih berragam dibanding kebutuhan
mereka.  

Kita hari ini telah merubah status informasi dan
kebutuhan sekunder lainnya menjadi  kebutuhan primer
sementara sangat sedikit diantara mereka yang melek
huruf untuk bisa membolak-balik koran karena tak
sempat bersekolah.  Bukan tak mau bersekolah, tapi tak
sempat ke sekolah. Untuk sekedar bisa hidup saja,
mereka sudah harus bekerja selayak tracktor sejak
subuh hingga magrib.  Kalau tidak begitu, siapa yang
mau ngasih makan, jawaban yang teramat sering di
dengar pak dokter puskesmas saat melarang mereka
bekerja terlalu keras. Apalagi kalau kesibukan diatas
harus ditambah dengan sekolah yang tak jelas
manfaatnya. Lho, apa sekolah memang ada manfaatnya ? 
Sekolah malah membuat mereka semakin enggan memanggul
tugal karena sadar akan identitas dirinya sebagai
seorang terpelajar yang lebih layak menyandang map. 
Tanya Bapa Nataniel yang habis-habisan menjual
semuanya (hampir-hampir istrinya) agar, Yusak anaknya
bisa bertoga.  Namun kini, sulit membedakan Yusak
dengan Philipus yang cuma lulusan SD Anggori, karena
mereka berdua sama-sama berladang berpindah.  Lalu
kalau sudah begitu apakah salah bila Bapa Nataniel
mengusulkan agar tutup saja semua sekolah ?

Informasi yang kita dapat perlu dibeli, dan itu perlu
menambah luasan lahan kebun imaginatif kita diatas. 
Luasan kebun imaginatif kita yang tadinya hanya untuk
memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan perumahan, kini
telah bertambah luas dengan datangnya komponen
kebutuhan lain yakni informasi.  Asumsi luas kebun ini
masih meniadakan kenyataan perbedaan selera,  yang
kadang dijadikan orang sebagai parameter status sosial
seseorang.  Si peladang boleh memiliki rumah, tapi
dari bentuknya tentulah orang dengan mudah dapat
membedakannya dengan rumah sang konglomerat.  

Belum lagi kebutuhan akan pendidikan anak, kalau si
Lukas Mandacan hanya mampu mengirim Philipus, anaknya
ke SD Inpres Anggori, maka jangan heran kalau putri
Sudwikatmono mendapat jodohnya pria bule saat
bersekolah di negeri  sang kekasih.

Mestinya ketika tiba pada kesadaran membandingkan
seperti demikian,  kita mesti tersentak untuk melihat
bahwa kita dan kebutuhan serta keinginan kita
sesungguhnya lebih berbahaya kepada alam ketimbang
masyarakat peladang itu sendiri.  Apapun alasan kita
untuk mendudukkan peladang di kursi pesakitan adalah
tak lebih dari behaviour kambing hitam yang ketika
menyadari dirinya hitam, berusaha mencari kambing
putih untuk dihitamkan.  Mari lestarikan bumi yang
cuma satu ini, mari batasi kebutuhan dan keinginan....
There is only one earth, our house our
responsibility...
(DAYAT ALHAMID)
------------
Dayat adalah Ph.D student di Forestry Dept., The
Australian National University. Dia merupakan salah
satu dari sedikit putra asli Irian Jaya yg sedang
belajar di the ANU (kalau nggak salah cuman ada dua
disini).



=====
****************************************
Fitrian Ardiansyah
Environmental Management and Development
NCDS, ANU, Canberra ACT 0200 Australia
Phone: +61-2-6267-5036 (HOME)
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
****************************************
_______________________________________________________________
We're taking care of bidness at Yahoo! Australia & NZ Auctions
Buy or sell almost anything, and it's FREE to list - http://auctions.yahoo.com.au

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
dan di http://www.egroups.com/list/envorum

Kirim email ke