Belum diperiksa kebenarannya. 
Tapi cukup masuk akal. 
Silakan disikapi oleh masing-masing. 
>>> Willie Setiawan 23-Nov-05 08:17:12 >>> 
Di Balik Kenikmatan Ikan Asin --- 
"Biasanya langsung disemprot pake Baygon aja" 
Liputan6.com, Jakarta: Kepulan asap putih dari nasi pulen yang masih panas 
tentu 
membuat perut yang keroncongan semakin berontak. Apalagi ditambah sambal 
terasi, 
lalapan, dan ikan asin. Niscaya, porsi satu piring cepat tandas. Tapi dibalik 
kenikmatan ini nyawa dipertaruhkan. 
Jangan terkecoh dengan penampilan ikan segar dan baru turun dari kapal yang 
baru 
pulang melaut. Kuat dugaan, ikan-ikan mulai tersentuh formalin sejak dari dalam 
kapal. Di dalam palka penampungan ikan, nelayan mencampuri ikan hasil tangkapan 
dengan cairan bernama lain formaldehid itu untuk menekan penggunaan es batu 
agar lebih murah. 
Penelitian di laboratorium menunjukkan hasil positif untuk hampir seluruh 
produk 
ikan asin dari Teluk Jakarta. Dalam ikan asin kecil seperti jambal dan 
cumi-cumi, 
untuk 10 gramnya terdapat lebih dari 1,5 ppm (part per million atau satu 
per sejuta) formalin. 
Menurut Kepala Bagian Unit Pelaksana Teknis Balai Pengujian Mutu Hasil 
Perikanan 
Jakarta Devi Lydia, ikan yang mengandung cairan pengawet mayat bisa langsung 
diketahui. "Keras sekali. Karena di luar kering tapi di dalam tetap basah," 
kata 
Lydia, baru-baru ini. 
Formalin diduga digunakan oleh nelayan Indonesia sejak dua tahun silam. 
Cairan yang mengandung metanol ini memang biasa dipakai nelayan untuk menjaga 
bobot ikan asin. Pembuatan tanpa formalin akan mengurangi bobot ikan asin 
hingga 60 persen. Sedangkan dengan menggunakan larutan bening itu, bobot yang 
berkurang akibat pengeringan hanya sekitar 30 persen. 
Pembuat ikan asin di Muara Angke, Jakarta Utara, juga mengaku produksi menjadi 
lebih efisien jika menggunakan formalin. Bila hanya menggunakan garam saja, 
pengeringan bisa dilakukan selama sepekan. Jika menggunakan cairan pembasmi 
bakteri tersebut, dalam satu atau dua hari saja ikan asin siap dijual. 
Penggunaan formalin pada ikan memang tak segencar sebelumnya. Ini menyusul 
edaran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 722/Menkes/Per/IX/88 
tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam pangan. 
Padahal berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia tahun 
silam, penggunaan formalin pada ikan dan hasil laut menempati peringkat 
teratas. 
Yakni, 66 persen dari total 786 sampel. Sementara mi basah menempati posisi 
kedua dengan 57 persen. Tahu dan bakso berada di urutan berikutnya yakni 16 
persen dan 15 persen. 
Tapi tetap saja masih banyak nelayan yang bengal. Menurut Kepala Balai 
Pengujian 
Mutu dan Pengolahan Hasil Perikanan dan Kelautan Jakarta Redjani Kartoatmodjo, 
pihaknya memang masih menemukan penggunaan formalin pada pembuatan ikan asin. 
Pernyataan Redjani diamini Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jakarta Riyadi. 
"Sebagian teman-teman nelayan masih menggunakan bahan kimia," kata Redjani. 
Di antara nelayan yang mulai meninggalkan penggunaan formalin adalah yang 
berada di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Tapi akibatnya selain 
keuntungan berkurang, ikan asin buatan mereka diganggu bakteri, serangga dan 
belatung. 
Terutama saat musim hujan. Ujung-ujungnya, mereka menggunakan insektisida yang 
disemprotkan langsung ke ikan asin. "Biasanya langsung disemprot pake Baygon 
aja 
," kata seorang nelayan yang enggan disebut namanya. 
Penggunaan insektisida dan formalin pada hasil laut diakui Kepala Dinas 
Perikanan Jawa Barat Darsono. Penggunaan formalin menurut Darsono, karena harga 
bahan pengawet ini relatif murah. "Penggunaan formalin masih banyak 
ditemukan di antaranya di Bandung kota dan sekitarnya," tutur Darsono. 
Sebenarnya sudah ada produk pengawet ikan yang sudah direstui penggunaannya. 
Yaitu minatrid. Namun karena alasan masih baru dan kesulitan untuk mencari 
bahan 
pengawet ini, formalin masih merajalela. Padahal asupan formalin dalam 
tubuh yang berlangsung menahun dapat mengakibatkan gangguan pada sistem 
pernapasan, 
gangguan pada ginjal dan hati, sistem reproduksi dan kanker. Gangguan yang 
ringan adalah rasa terbakar pada tenggorokan dan sakit kepala. 
Selain ikan asin, kerang juga tak luput dari penggunaan zat kimia berbahaya 
bagi 
tubuh. Pengolah kerang menggunakan bahan pewarna Rhodamine B yang seharusnya 
untuk pakaian atau biasa disebut wantek. Tujuannya untuk membuat kerang yang 
telah dikupas agar tak terlihat pucat. Zat kimia ini akan menumpuk pada 
tubuh dan pada gilirannya juga meracuni organ dalam, terutama ginjal dan hati. 
Kerang dipanen nelayan saat berumur enam bulan. Di Jakarta, kerang biasa 
dipelihara di Teluk Jakarta. Binatang bernama ilmiah Anadara granosa ini 
biasanya langsung direbus dengan air laut usai dipanen. Setelah matang, 
kerang diturunkan dari tong perebusan untuk kemudian dikupas dari kulitnya. 
Puluhan pekerja kemudian melepaskan daging dari kulit kerang untuk 
diolah lebih lanjut. Hingga tahap ini tak ada masalah dengan pengolahan. 
Semua berjalan baik dan tak ada peran bahan kimia beracun. Kerang yang sudah 
dicabuti ini 
belum dibersihkan dari kotoran yang menempel. Pembersihan akan dilakukan 
setelah satu tong penuh kerang atau sekitar seratus kilogram. 
Zat kimia mulai campur tangan ketika datang es batu untuk pengawetan. 
Setelah es  siap, petani kerang kemudian membuat larutan "ajaib". Satu tong 
kecil air 
ditaburi wantek berwarna oranye. Sekitar 15 menit kemudian kerang terlihat 
lebih 
segar. Kerang yang telah didandani ini kemudian dimasukkan tong untuk dijual. 
Tapi sebelumnya, kerang ditaburi tawas yang biasanya digunakan untuk 
menjernihkan air. Alasannya, agar menjadi lebih kenyal dan bisa disimpan selama 
satu hari satu malam sebelum dikirim ke pelelangan ikan. 
Kembali ke Pelabuhan Ratu, di daerah ini nelayan setempat juga memakai zat 
pewarna dari golongan Rhodamin B. Mereka biasanya memakai pewarna tekstil 
berwarna merah untuk membuat terasi. Berbahayanya zat kimia ini pada 
tubuh bisa terlihat dari alat pembuat terasi yang berwarna merah kendati 
setelah 
dibasuh air. 
Baik dalam pewarnaan kerang maupun terasi, semua pembuatnya mengaku menggunakan 
bahan kimia pewarna kue. Sungguh tidak logis. Karena pewarna kue harganya 
rata-rata Rp 10 ribu untuk 10 cc. Sementara wantek dibanderol Rp 5-10 
ribu per kilogram. Sedangkan untuk mewarnai kerang atau terasi per 100 kg, 
diperlukan satu hingga dua kilogram pewarna. 
Alasan ekonomi memang menjadi pangkal dari penyalahgunaan zat kimia berbahaya 
bagi tubuh dalam penganan. Padahal pangan yang aman, bermutu dan bergizi adalah 
hak setiap orang. Tapi sepertinya penganan ideal ini hanya sebatas impian. 
Apalagi untuk makanan yang nikmat tapi murah.(YAN/Tim Sigi) 







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/qO4qlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

************************************************************************
Mantan BBD's mailing list
* Post message : [email protected] 
* Subscribe    : [EMAIL PROTECTED] 
* Unsubscribe  : [EMAIL PROTECTED] 
* List owner   : [EMAIL PROTECTED] 
* Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
************************************************************************
Kunjungi Blog MANTAN BBD di http://mantan-bbd.blogspot.com
************************************************************************ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/estika/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke