HEBAT DAR, YANG BEGINI INI PERLU DIPERBANYAK...TQ
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of Daryono
Sent: Friday, May 12, 2006 10:09 AM
To: [email protected]
Subject: [ex-be2de] FW: RENUNGAN IDA ARIMURTI : "Ibu, I Miss You So Much"
Importance: High

 
-----Original Message-----
From: kusnadi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 12 Mei 2006 9:13
To: Daryono; ressy; MAMAN SUTARMAN
Subject: Fw: RENUNGAN IDA ARIMURTI : "Ibu, I Miss You So Much"
Importance: High

Sebuah kisah yg luar biasa.
 

 

 "Ibu, I Miss You So Much"
 Jamil Azzaini - Kubik Leadership

 Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa
 apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita.
 Apabila
 kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat
 balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi
 negatif
 atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan
 pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi
yang
 terjadi pada 2003.

 Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah
 sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi
 penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat
 tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang
ICU.

 Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar
 monitor.

 Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter
 berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu".
Sayapun
 menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya
 membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya"
 Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil." "Memang
 harganya berapa dok?" Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab
"Dua belas juta rupiah sekali suntik." "Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa
kali suntik, dok? Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil".

Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga
 puluh enam juta, dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi.
 Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali
lagi
 mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha
 Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan." "Pak Jamil kami
sudah
 berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai
 laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara
 tepat, kami
 harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang
 hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak
 ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak." jawab dokter.

 Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat
 ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya
 Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua
hamba-Mu,  akupun  mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau
balas  dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan
juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan keburukan apa yang pernah
aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan,
tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu  lelah.
 Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau
 mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang
 kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku.
 Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur
milyaran planet di jagat raya ini."

 Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan
 kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam
keluarga  yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah
 yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri
 uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan
 untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

 Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata
 berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku
 kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh
 ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa
sayalah yang mengambil uang itu.

 Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan
 ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya
 akan  memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit
isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil
uang yang ia miliki itu." Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor
telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati
saya.

 Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya
 bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan
 uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"

 "Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit
 itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada
 yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban
 itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

 Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang
 itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat
 nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu."
Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon
 saya  dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang
ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah
anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu
agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan
 saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

 Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan
 sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat
pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah
kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk
 mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya merinding
mendengarnya,  sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. "Terima kasih
dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."

 Saya meninggalkan ruangan dokter itu.... dengan berbisik pada diri sendiri "Ibu, I miss you so much."

Keterangan Penulis:
 Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK
 LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.



************************************************************************
Mantan BBD's mailing list
* Post message : [email protected]
* Subscribe    : [EMAIL PROTECTED]
* Unsubscribe  : [EMAIL PROTECTED]
* List owner   : [EMAIL PROTECTED]
* Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
************************************************************************
Kunjungi Blog MANTAN BBD di http://mantan-bbd.blogspot.com
************************************************************************




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke