Bahan renungan buat malem Jum'atan...

Parmin, tukang becak, memang gila togel. Banyak dukun sudah ia  datangi.
Tiap  orang gila dan kere yang seperti gila di Yogya  ia  kuntit:  siapa
tahu  dalam  omelannya   terdapat petunjuk  nomor.  Sering  ia  tidur di
kuburan mencari impen (impian). Jerih payahnya menarik becak  pun  ludes
di  meja Sitompul,  agen  togel.  Buat Parmin, hidup berarti togel.
Senik, istrinya,  minta  dipulangkan  ke  rumah  orangtuanya karena  tak
tahan  lagi hidup dalam alam togel  yang panas.
Dan Gafur, anak tertuanya, berhenti sekolah karena  tak  ada biaya.
Pendeknya, keluarga Parmin berantakan.

Mertua  ikut  bingung.  Orangtua  Parmin  sendiri  kehabisan nasihat.
"Arep dadi opo to kowe, Min, Min  ...,"  (mau  jadi apa  kamu),  kata 
orangtuanya. Lama-lama Parmin mikir. Iya, ya. Mau jadi apa?

Memang bukan tugas sosiolog atau psikolog untuk mengentaskan Parmin 
dari  Porkas.  Ini  lebih merupakan urusan rohaniwan macam Pak Kiai atau
Romo Mangun. Yang jelas, bosan ke dukun, Parmin pergi ke kiai di
Wonokromo, mBantul, dekat dari rumahnya.

"Ada apa?" tanya Pak Kiai yang sudah tua itu.

"Saya mohon petunjuk, Pak Kiai."

"Saya  cuma kiai. Tidak bisa memberimu nomor kode," kata Pak Kiai.
Parmin pun terkesiap heran, bagaimana  Pak  Kiai  tahu bahwa ia pecandu
togel.

"Bukan, Pak Kiai. Saya mau tobat," kata Parmin.

Setelah  pasrah  bongkokan,  artinya  diapakan saja oleh Pak Kiai monggo
mawon, jiwa Parmin "dicuci". Diajari pula  salat dan  berdoa.  Tapi 
susah.  Lidah  Parmin  tidak cocok untuk menyebut kata-kata Arab.

"La Khaula wala kuata illa ...," kata Pak Kiai pelan.

"La wala wala ...,"  Parmin  tergagap-gagap.  Pak  Kiai  mau ketawa. 
Berkali-kali  dicoba,  hasilnya tetap la wala wala. Pusing juga ahli
rohani itu.

"Kalau nyebut togel  lancar, ya Min?"

Parmin  mesem.  Akhirnya,  jalan   keluar   ditemukan.   Doa dipermudah.
Yang  penting  intinya:  wolo-wolo  kuwato. Pas betul.

"Tapi bukan cuma itu, Min. Mesti ditambah Duh, Gusti.  Jadi, "Duh,  
Gusti,   wolo-wolo  kuwato.  Artinya,  kamu  sambat, mengeluh,  mengadu,
pada  Tuhan  sambil  terus  giat  narik becak."

Tiap  malam  Jumat  Parmin "digarap" Pak Kiai. Pesan beliau: "Kalau ada
kegaiban, jangan heran.  Gusti  memang  Mahagaib. Pokoknya,  syukuri, 
dan  perbanyak  doa, giat usaha. Itulah laku utama," bisik Pak Kiai.

Kegaiban itu datang. Hampir tiap  pagi,  istrinya  menemukan selembar 
uang limapuluh ribuan di bawah pintu. Parmin lapor pada Pak Kiai. Jawab
beliau, "Syukuri dan perbanyak doa."

Dulu, Parmin dirongrong nafsu "ingin punya". Kini, di  bawah asuhan  Pak
Kiai,  seluruh jiwanya diliputi rasa pasrah. Ia ayem. Semeleh atau
tawakal,  memberinya  ketenangan.  "Hamba tak  berdaya, kecuali atas
pertolongan-Nya". Mudahnya: "Duh, Gusti, uvolo-wolo kuwato".

Di shopping  centre,  ia  pernah  berkali-kali,  sejak  pagi sampai  jam
lima  sore,  belum  dapat  penumpang. Ia panik.
Apalagi belum sesuap pun nasi masuk  perutnya.  "Duh,  Gusti wolo-wolo 
kuwato,"  keluhnya.  Menjelang  jam enam sore, seorang penumpang datang.
Tanpa menawar ia langsung nomplok di becak itu.  Begitu turun ia
menyelipkan dua lembar limapuluh ribuan di saku Parmin.

Ini pun dilaporkannya pada Pak  Kiai.  Hanya  satu  hal  tak
dilaporkannya.  Ia  ingin  bikin  kejutan. Tapi belum sempat kejutan
dibikin, ia terkejut. Pak Kiai wafat. Parmin  merasa shock kehilangan
godfather.

"Min,  sesaat  sebelum  pergi,  Pak  Kiai mengucapkan syukur bahwa kau
sudah mengkredit  becak,"  kata  putra  Pak  Kiai. Parmin kaget. Lo?
Beliau sudah tahu?

Memang,  sejak  sering ditemukannya "uang gaib" di rumah, ia menabung.  
Kepada   istrinya   ia   berpesan   untuk    tak mengutik-utik uang di
bawah bantal itu. Soal makan seadanya, ditanggulangi dari narik becak
harian.

Tabungannya itu  digunakannya  untuk  mengangsur  becak  Bah Gendut. 
Begitu  becak  lunas,  ia  ingin  "matur" Pak Kiai.
Namun, beliau, ternyata, tak memerlukan  laporan.  Pak  Kiai sudah tahu
sak durunge winarah (tahu rahasia di balik tabir)

"Yah, namanya juga wong suci," pikir Parmin.

Sekarang,  setelah  kepergian Pak Kiai, uang "gaib" tak lagi ditemukan
di bawah pintu. Dalam hati Parmin  bertanya-tanya. Namun,   ia   sadar,
kegaiban   toh   tak   bisa   terjadi terus-menerus. Kegaiban hidup
memang  ada.  Tapi  hidup  tak bisa  semata  disandarkan  pada  kegaiban
itu. La khaula dan mengayuh becak barunya  itulah  kunci  hidup  yang 
sekarang dipegangnya.

Mohammad Sobary, Tempo 2 Februari 1991






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives
http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/qO4qlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

************************************************************************
Mantan BBD's mailing list
* Post message : [email protected] 
* Subscribe    : [EMAIL PROTECTED] 
* Unsubscribe  : [EMAIL PROTECTED] 
* List owner   : [EMAIL PROTECTED] 
* Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
************************************************************************
Kunjungi Blog MANTAN BBD di http://mantan-bbd.blogspot.com
************************************************************************ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/estika/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke