Title: Message
 
-----Original Message-----
From: Hany Asfihany
Sent: 16/08/2006 1:45 PM
To: Agus (E-mail); Aguswan (E-mail); Dyan Nurdiana; Edwin (E-mail); Evi (E-mail); Fice (E-mail); Neny (E-mail); Novita (E-mail); Wilsa Indayani; Yudi (E-mail); Amirudin Asep; Andry Yusuf; Bambang Saptono; Bambang Suhasto; Budi Priyanggodo; Faiz Firdausi; Harianto Harahap; Ismail Kady; Relita Veronika; Zaidan Novari; Zainal Alam Dalimunthe; Zorion Anas
Subject: FW: Hukum Kekekalan Energi

 
 
"Uang Korupsi Itu Merusak Anak Saya"
Jamil Azzaini - Kubik Leadership


Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa korupsi
di Indonesia sudah terlalu besar dan diluar kontrol. Korupsi sudah
merasuki semua sendi kehidupan dan telah terjadi baik di eksekutif,
legislatif maupun yudikatif. Pernyataan presiden yang disampaikan
pada acara Presidential Lecture di Istana Negara pada Rabu, 2 Agustus
2006, itu mengisyaratkan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia
masih jauh dari harapan.

Kendati pelaku korupsi tampak tak terjamah, tapi yakinkah kita bahwa
mereka benar-benar lolos dari jerat hukum? Ngomong-ngomong soal
korupsi saya ingin berbagi cerita.

Suatu hari, saya diundang untuk berbicara di depan staff dan pimpinan
sebuah perusahaan ternama. Pada kesempatan tersebut saya berbicara
tentang "hukum kekekalan energi", yang intinya, menurut hukum
kekekalan energi dan semua agama, apapun yang kita lakukan pasti akan
dibalas sempurna kepada kita di dunia. Dengan kata lain, apabila kita
melakukan "energi positif" atau kebaikan maka kita akan mendapat
balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan "energi
negatif" atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa
keburukan pula.

Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan itu
mengkritik pedas "hukum kekekalan energi". Walau saya sudah
menjelaskan dengan beragam argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam
kehidupan nyata, dia tetap tidak yakin. Sampai kami berpisah, kami
masih pada pendapat masing-masing.

Tujuh bulan berlalu, pimpinan itu tiba-tiba menelpon saya. "Pak
Jamil, saya ingin bertemu anda," ujarnya singkat.

Karena penasaran, undangan dari beliau saya prioritaskan. Singkat
kata, pada waktu dan tempat yang telah disepakati kami bertemu.

Rupanya beliau tiba lebih dulu di tempat kami janjian. Begitu saya
datang, beliau segera menyambut dengan sebuah pelukan erat. Cukup
lama beliau memeluk saya. "Maafkan saya pak Jamil. Maafkan saya,"
ucapnya, sambil terisak dan terus memeluk saya. Karena masih bingung
dengan kejadian ini saya diam saja.

Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. "Saya sekarang yakin
dengan apa yang pak Jamil dulu katakan. Kalau kita berbuat energi
positif maka kita akan mendapat kebaikan dan bila kita berbuat energi
negatif maka pasti kita akan mendapat keburukan," ujarnya.

"Bagaimana ceritanya sekarang kok bapak jadi yakin?" tanya saya.

"Selama saya menjabat pimpinan di perusahaan itu, saya menerima uang
yang bukan menjadi hak saya. Semuanya saya catat. Jumlahnya lima
ratus dua puluh enam juta rupiah," katanya.

Sembari menarik napas panjang beliau melanjutkan bercerita. Kali ini
tentang anaknya.

"Anak saya sekolah di Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia
terkena narkoba. Sudah saya obati dan sembuh. Ketika liburan, dia ke
Amerika dan Kanada. Tidak disangka, disana dia bertemu dengan teman
pengguna narkobanya ketika di Australia. Anak saya sebenarnya menolak
menggunakan lagi. Namun dia dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh
lagi, bahkan makin parah, pak." Selama bercerita, beliau tak henti
mengusap pipinya yang basah dengan air mata yang terus meleleh
seperti tak mau berhenti.

"Pak Jamil tahu berapa biaya pengobatan narkoba dan penyakit anak
saya?" Tanpa menunggu jawaban saya, lelaki separuh baya itu berkata
lirih, "Biayanya lima ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis
dengan uang kotor yang saya terima, pak!"

Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis
yang makin keras. Dengan terbata lelaki itu berkata, "Uang korupsi
itu telah merusak anak saya, pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tua
yang baik. Saya telah merusak anak saya, pak!"

Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan air matanya tumpah.
Tangisnya semakin keras....

Wahai saudara, haruskah menunggu anak kita menjadi pengguna narkoba
dan sakit untuk berhenti korupsi?

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller
KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.



__._,_.___

************************************************************************
Mantan BBD's mailing list
* Post message : [email protected]
* Subscribe    : [EMAIL PROTECTED]
* Unsubscribe  : [EMAIL PROTECTED]
* List owner   : [EMAIL PROTECTED]
* Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
************************************************************************
Blog MANTAN-BBD http://mantan-bbd.blogspot.com
************************************************************************





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke