Ang Swee Chai
Bintang Mungil Palestina
Perempuan mungil itu bernama dr Ang Swee Chai. Mungil
karena memang tinggi tubuhnya tidak sampai 1,5 m. Penampilan perempuan berdarah
Cina itu pun bersahaja. Saat datang ke Jakarta belum lama ini, dia terlihat
sederhana dengan kemeja merah muda dan celana gembung berwarna biru tua. Tutur
katanya lembut, bahkan terkadang nyaris tak terdengar.
Siapa sangka, di balik sosok lembut itu, ada tekad baja untuk terbang ke Beirut saat Israel menyerang kawasan itu pada 1982. Ketika mendengar bahwa keberadaan sukarelawan ahli bedah dibutuhkan untuk merawat korban perang di Beirut, ia langsung meninggalkan pekerjaannya di rumah sakit dan meninggalkan sang suami Francis Khoo di London, Inggris.
Di sanalah, ia menyaksikan kebrutalan Israel, pembantaian, korban jatuh di sana-sini, dan kematian. ''Aku sudah menatap wajah sang maut dan telah kulihat kekuatan serta keburukannya, tetapi aku juga telah menatap ke dalam matanya, dan melihat ketakutannya,'' tulis Swee pada sang suami dalam salah satu suratnya ketika berkisah tentang kesedihan sekaligus optimismenya. Saat menjadi sukarelawan itulah, dr Ang seolah menemukan hakikatnya sebagai seorang dokter. Bekerja tanpa mengenal lelah, menolong tanpa pandang bulu meski mereka adalah pembantai itu.
Bersama sang suami dan beberapa rekannya, dr Ang membentuk Medical Aid for Palestinians (MAP) yang memberi bantuan medis kepada rakyat Palestina baik di pengungsian maupun di wilayah pendudukan Israel. Berkat pengorbanan itulah pada 1987, pemimpin PLO, Yasser Arafat, menganugerahi dr Ang Swee Chai dengan gelar Star of Palestine. Inilah penghargaan tertinggi bagi pengabdian kepada rakyat Palestina.
Di Jakarta, Ang datang untuk menghadiri acara peluncuran bukunya, From Beirut to Jerusalem, Tears of Heaven. Saat itulah dia menampilkan slide berisi foto-foto betapa hancur dan menderitanya warga Lebanon. ''Kalau saya pasang semuanya, kita akan tiga hari berada di sini,'' katanya. Pada wartawan Irfan Junaidi, Yusuf Assidiq, dan fotografer Syakir, Ang mengungkap segala kekalutan menyaksikan sejarah yang terulang di Lebanon, perjuangannya, dan harapan. Pun tentang tiga kucing mungilnya.
Bagaimana Anda melihat krisis yang terjadi di
Lebanon dan Palestina?
Satu hal jelas
adalah Israel tetap melakukan pembunuhan di Lebanon dan Palestina. Ribuan ton
bom dijatuhkan membunuh banyak orang. Dari sudut pandang saya, Israel mencoba
mewujudkan keamanan dan untuk bertahan di kawasan itu.
Tapi, sebenarnya bukan dengan cara kekerasan hal itu bisa dicapai. Jika Israel menjalin hubungan baik dengan negara-negara di sekitarnya, maka kemungkinan untuk mewujudkan perdamaian menjadi lebih besar. Atau jika menjadikan anggaran membuat bom untuk membiayai program bantuan kemanusiaan, jelas akan lebih bermanfaat. Jadi, saya tidak mengerti apa motivasi sebenarnya pasukan Israel melakukan kekejaman di sana. Tapi, saya berharap mereka membuka mata dan hati dalam melihat berbagai penderitaan yang sudah mereka akibatkan terhadap banyak orang di kawasan tersebut.
Sebelum tahun 1982-an, sebagai pemeluk
Kristen, Anda memberikan dukungan kepada Israel. Apa pandangan Anda terhadap
Israel ketika itu?
Ini berkaitan
dengan pandangan gereja saya. Dikatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa
pilihan Tuhan dan Anda tidak bisa mengkritik Israel karenanya. Itu pandangan
yang kemudian membuat saya tidak bisa mengerti. Di sisi lain kalangan Barat
mencap bangsa Palestina sebagai teroris, saya kira itu kesalahan besar karena
tidak sesuai kenyataan. Kita semua diciptakan setara oleh Tuhan, kita semua
makhluk ciptaan Tuhan. Begitu juga orang Israel.
Ketika itu Anda sudah mengetahui konsep
tentang Islam?
Belum, saat itu sama
seperti kebanyakan orang Barat, saya masih mengira orang Arab adalah kaum
fanatik. Namun, ketika saya bekerja di kamp pengungsi Palestina tahun 1982, saya
menemukan mereka adalah orang-orang yang sangat baik. Makanya saya pun kerap
bertanya, inikah orang-orang Arab itu, mengapa berbeda sekali dengan yang saya
ketahui selama ini. Lebih jauh, pertanyaan mulai mengarah, inikah ajaran Islam,
ternyata begitu bersahabat. Saya pun banyak belajar dari sini dan semoga
masyarakat Barat dapat melihat realitas umat Muslim seperti itu.
Sikap gereja terhadap kegiatan Anda membantu
warga Palestina?
Jelas mereka marah.
Banyak teman Kristen saya tidak mau lagi berbicara dengan saya, bahkan hingga
saat ini. Tapi untungnya, tidak semua bersikap demikian. Masih banyak kaum
Kristen yang memiliki pandangan lebih baik dan bersedia memahami apa yang
dialami bangsa Palestina. Rumah sakit di Gaza yang dibangun tahun 1991 selama
intifada adalah bantuan dari umat Kristen.
Segala peristiwa dan pengalaman di kancah perang Lebanon membuat Ang kesulitan mengingat hal menyenangkan selama berada di antara pengungsi Palestina. Sebagai dokter bedah ortopedis, dia terbiasa harus mengoperasi pasien dengan peralatan seadanya, tanpa aliran listrik, tanpa masker, dan tanpa obat bius.
Satu hal yang menurut dr Ang terkesan menggelikan adalah ketika dia mengoperasi seorang pasiennya. Dalam kondisi darurat, dia bertindak cepat untuk menyelamatkan nyawa sang pasien. Tiba-tiba, seorang perawat yang membantunya berseru, ''Ya Tuhan, dokter, Anda menyatukan kaki pasien itu ke meja operasi.'' Setelah itu, dr Ang tersenyum getir.
Apa yang membuat pandangan Anda berubah
terhadap Israel?
Fakta bahwa di tahun
1982 saya menyaksikan dari layar kaca bahwa Israel menjatuhkan bom-bom terhadap
bangsa Lebanon dan Palestina. Itu terjadi awal bulan Juni ketika Israel
meninvasi Lebanon. Setiap malam saya melihat bom yang meledak dan menewaskan
banyak orang. Saya sama sekali tidak mengerti, seperti inikah Israel yang saya
dukung selama ini, beginikah tingkah bangsa yang katanya pilihan Tuhan itu.
Melihat foto anak-anak yang menderita dan banyaknya orang terluka, benar-benar
mempengaruhi pandangan saya selanjutnya.
Dua bulan kemudian tepatnya bulan Agustus, ada permintaan sukarelawan bantuan untuk petugas kesehatan dan dokter lapangan untuk diberangkatkan ke Beirut, Lebanon. Maka saya pun meninggalkan pekerjaan saya untuk pergi ke Lebanon dan merawat yang sakit. Saya percaya ini panggilan Tuhan agar saya melihat sendiri apa sebenarnya terjadi. Saya pun memutuskan ikut pergi dan ketika pergi, bukan hanya mengobati, tapi sekaligus saya belajar banyak hal tentang Lebanon dan Palestina.
Apa yang kemudian Anda temukan dari
pengalaman tersebut?
Sungguh sebuah
ironi, bahwa bangsa yang selama ini menderita paling parah, terusir dari tempat
kelahirannya, tetapi justru dianggap sebagai teroris. Lantas saya kembali
teringat gereja saya mengecam orang-orang ini dan menolak mendengar kebenaran.
Oleh karenanya seluruh harapan saya pun seolah sirna.
Bagaimana Anda melihat orang-orang di
Palestina?
Mereka sangat luar biasa,
orang-orang yang ramah dan bersahabat. Saat pertama bertemu mereka di bulan
Agustus 1982, mereka sudah mengalami pemboman selama lebih kurang sepuluh pekan,
mengungsi dan tinggal di tenda-tenda seadanya. Lantas ketika kembali ke rumah,
mereka mendapatinya sudah hancur bahkan rata dengan tanah. Tapi, mereka lantas
membangunnya kembali dan tinggal di sana, saya tak tahu sudah berapa kali itu
terjadi.
Mereka juga sangat dermawan. Apa pun yang dimiliki, mereka akan membaginya. Saya teringat secangkir kopi Arab pertama yang saya rasakan. Minuman itu saya nikmati di satu rumah warga dengan kondisi tanpa dinding. Hanya ada api unggun kecil. Seorang wanita Palestina, anak lelaki kecilnya, serta suaminya yang membuatkan kopi itu dari sebuah teko tua.
Ang Swee Chai lahir di Penang, Malaysia, pada 26 Oktober 1948. Namun, jangan harap dia mampu berbahasa Melayu. Ang hanya fasih berbahasa Inggris dan Mandarin. Sejak 1977, bersama sang suami, Francis Khoo, peraih gelar master dalam bidang kesehatan kerja ini tinggal di Inggris. Kini, dia bekerja di St Bartholomew's Hospital dan the Royal London Hospital. Pasangan ini tidak dikaruniai anak. Namun, cinta mereka tetap tumpah untuk kucing-kucing mereka. Waktu luang Ang pun diisi dengan berbincang-bincang pada kucing-kucing yang diberi nama Max, Kitten, dan Ponti. Nama Ponti punya cerita sendiri. ''Saya melihat wajahnya ketika kecil terlihat sangat bodoh. Karena itulah saya beri nama Ponti.''Ketika akan meninggalkan suaminya saat ini, dia pun sudah memberi pesan pada kucing-kucingnya itu. ''Ayo, jaga Bapak baik-baik ya.''
Apa yang membuat Anda ingin menerbitkan
sebuah buku?
Saya sebenarnya tidak
menulis buku. Selama berada di Lebanon dan Palestina, saya kerap menulis surat
untuk suami saya yang berada di London. Jika sedang sibuk, saya hanya sempat
menulis surat tiga hari sekali atau kalau ada waktu sehari sekali. Saya titipkan
surat itu melalui Palang Merah Internasional atau para jurnalis.
Kemudian tahun 1988, saat itu infifada baru dimulai. Banyak korban berjatuhan dan bantuan kemanusiaan pun didatangkan. Saya berkeinginan untuk pergi lagi, tapi tidaklah mudah tanpa persetujuan dari pemerintah Israel. Saya tidak patah arang, pengajuan izin saya tembuskan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Butuh waktu enam bulan sebelum akhirnya memperoleh visa. Nah, pada masa enam bulan menunggu itu, saya pergunakan untuk mengumpulkan surat-surat terdahulu untuk kemudian menjadi buku ini.
Bagaimana pengalaman itu memengaruhi
kehidupan Anda?
Itu jelas berpengaruh
terhadap cara pandang saya melihat kebenaran. Panilaian saya terhadap bangsa
Palestina, Arab dan Muslim, benar-benar berubah. Selain itu, juga mengubah
hubungan saya dengan Tuhan karena sebelum tahun 1982, Tuhan terasa kecil karena
cuma untuk bangsa Israel, tapi sekarang Tuhan Maha Besar lantaran seluruh
masyarakat selalu memohon doa kepada-Nya.
Sebelum tahun 1982, saya juga seorang dokter yang ambisius, penuh motivasi meraih prestasi. Tapi kemudian semuanya berubah, saya pun melihat bahwa ada hal yang lebih penting membutuhkan perhatian dibandingkan karier atau apa pun.
Bagaimana dukungan suami?
Suami saya adalah mantan pengacara. Dan sebagai
pengacara, dia tidak bisa pergi sebagaimana saya pergi bersama palang merah.
Tapi, dia selalu memberikan dukungan penuh. Dia melihat bahwa sebagai seorang
dokter, saya memang memiliki kewajiban menolong orang di mana pun. Namun sebagai
manusia dan suami, dia pun pasti merasa khawatir ketika saya bertugas di Lebanon
atau Palestina, dan itu membuat berat badannya turun.
Apa yang Anda rasakan ketika menyaksikan
kembali Lebanon dan Palestina dihujani bom?
Saya katakan, sejak tanggal 30 Juli lalu, hampir setiap
hari, saya baru bisa tidur pukul satu malam dan bangun pukul empat dini hari.
Saya selalu mengikuti perkembangan situasi di sana lewat internet. Ini 'bangsa'
saya yang sedang mengalami kekejaman. Saya berusaha terus secara intelektual
menyikapi keadaan dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Tapi tetap saja,
ketika melihat Kanaa dibom untuk kedua kalinya, seolah dunia saya runtuh.
Anda tertarik untuk kembali ke Palestina
lagi?
Tentu saja, hanya pertanyaannya
adakah kesempatan untuk itu, kapan dan berapa lama lagi bisa terwujud? Kini saya
bergabung bersama British National Health dan tidak banyak punya waktu libur.
Rekan-rekan saya selalu bercanda, 'Oh Swee akan ambil libur dua pekan dan pergi
ke Lebanon'.
Masih tetap menjalin komunikasi dengan
rekan-rekan Palestina Anda?
Oh hampir
setiap hari. Kami saling berkomunikasi dengan e-mail, kini
komputer saya penuh dengan kiriman e-mail dari
Lebanon. Dan itu sudah dimulai sejak hari kedua pemboman, temanku di sana segera
mengirim e-mail mengenai situasi dan kondisi di kota tersebut, tentang
apa yang mereka butuhkan dan sebagainya. Jadi, selama ini di luar jam kerja,
saya tetap sibuk menjaring dukungan dan bantuan berupa peralatan medis, makanan
dan uang untuk membantu warga di sana.
Ini pertama kalinya Anda datang ke
Indonesia?
Benar, dan senangnya
berada di Indonesia atau Malaysia, adalah Anda merasa sedang berada di antara
sahabat. Sementara di Inggris saya selalu berada di lingkungan rumah sakit,
sehingga terlalu sibuk setiap saat. Begini saja, setiap pound yang
didapatkan untuk selanjutnya disumbangkan ke Palestina, adalah uang yang harus
Anda dapatkan melalui perjuangan memperoleh dukungan dari orang-orang Inggris.
Jadi, ketika kita berhasil mendapatkan donasi sebesar 166 ribu pound dari warga
Inggris, Anda tahu betapa keras upaya yang telah dilakukan.
Masih tertarik menerbitkan buku
lagi?
Masalahnya setiap kali saya
duduk dan berpikir untuk menerbitkan buku lagi, pasukan Israel terus menjatuhkan
bom ke Lebanon dan Palestina. Sejak tahun 1982, hal itu terus terulang, jadi
bagaimana bisa menerbitkan buku yang up
to date.
Tahun 1993-1996, ketika pertama kali saya kembali ke Palestina, saya pikir mungkin kita perlu menuliskan tentang harapan dan aspirasi dari sebuah bangsa yang ingin merdeka. Akan tetapi pada saat hendak memulai, semuanya menjadi hiruk-pikuk kembali. Sebenarnya saya sungguh ingin menulis tentang ketidakadilan ini. Tapi, saya tidak bisa melakukannya karena kemudian saya hanya menulis tentang impian saya, Anda tahu maksud saya. Meski demikian itulah buku yang benar-benar ingin saya tuliskan.
Anda merasa hal itu tidak akan menjadi
kenyataan?
Tentu saja saya percaya
suatu saat harapan itu akan menjadi kenyataan, meski ketika saya sudah tiada,
siapa tahu.
__._,_.___
************************************************************************
Mantan BBD's mailing list
* Post message : [email protected]
* Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
* Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
* List owner : [EMAIL PROTECTED]
* Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
************************************************************************
Blog MANTAN-BBD http://mantan-bbd.blogspot.com
************************************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "estika" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___
