![[]](jpgv7D15Fi6iY.jpg)
Kapolwil: Ini Yang Pertama di
Indonesia
SURABAYA - Pemegang kartu ATM yang juga
berfungsi sebagai kartu debit kini harus lebih waspada. Sebab, pelaku kejahatan
semakin canggih dalam beraksi. Kartu debit pun sangat mudah
dibobol.
Kemarin, Unit Idik IV Tipiter (Tindak Pidana Tertentu)
Satreskrim Polwiltabes Surabaya mengungkap kasus pembobolan kartu debit BCA
dengan modus baru. Ho Tony Laurentius Hosana, tersangka kasus itu, menyadap data
nasabah melalui alat canggih bernama skimmer. Data tersebut kemudian dimasukkan
ke dalam "kartu kosong" (white card) miliknya.
Kapolwiltabes Surabaya
Kombes Pol Anang Iskandar menyebutkan, kasus yang diungkap anak buahnya kemarin
itu merupakan yang pertama di Indonesia .. "Sepanjang
pengetahuan saya, belum ada satu pun pengungkapan kasus kartu debit yang
dilakukan polisi. Jadi, pengungkapan ini merupakan yang pertama," kata Anang
yang didampingi Kasatreskrim Polwiltabes Surabaya AKBP Mujiyono.
Barang
bukti yang disita polisi cukup banyak. Di antaranya, sebuah card reader/encoding
merek Axicon, sebuah laptop, dan sebuah skimmer (pembaca data) merek Axicon.
"Alat penyadap data nasabah tersebut dibeli tersangka di Hongkong," ungkap
Anang.
Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, pengungkapan tersebut
bermula dari laporan BCA ke Mabes Polri pada Juli lalu. "Saat itu, BCA melapor
adanya komplain transaksi dari para nasabah senilai Rp 300 juta dalam dua bulan
terakhir," katanya.
Selanjutnya, tim Eksus (Ekonomi Khusus) Bareskrim
(Badan Reserse Kriminal) Mabes Polri turun tangan untuk menyelidiki dan
memeriksa sejumlah saksi. Hasilnya, diketahui bahwa transaksi dan "jebolnya"
kartu debit BCA itu terjadi di Surabaya .. Mabes Polri pun
memerintah Polwiltabes Surabaya untuk mengungkap kasus tersebut.
Penyelidikan yang dipimpin Kasubnit Idik IV Iptu Mulyadi tidak sia-sia.
Polisi mencurigai Ho Tony Laurentius, 24, warga Regensi Blok A 21, Klampis
Ngasem, Surabaya .. Bos butik tersebut terbukti menyadap
data nasabah BCA saat ada pembeli yang membayar melalui emisi debit BCA di
tokonya.
Kepada penyidik, Tony mengakui semua perbuatannya. "Saya memang
berniat membobol kartu debit para pelanggan yang berbelanja di toko saya,"
ungkapnya.
Salah satu buktinya adalah kenekatan Tony membeli skimmer dan
card reader/encoding merek Axicon tersebut di luar negeri. "Alat itu dibeli di
Hongkong seharga hampir Rp 50 juta," jelas Kanit Idik IV AKP Nunuk.
Anang
menjelaskan, modus yang dilakukan Tony sebenarnya cukup sederhana. "Jadi, setiap
ada pelanggan yang membayar melalui kartu debit, dia hanya perlu mengintip dan
mengingat enam digit PIN pelanggannya. Hal tersebut tidak terlalu sulit karena
saat nasabah memasukkan PIN, biasanya gampang dilihat," ujar orang nomor satu di
jajaran kepolisian Surabaya tersebut.
Selanjutnya,
skimmer canggih merek Axicon yang dibeli Tony jauh-jauh dari Hongkong itulah
yang bekerja. "Saat pelanggan menggesek kartunya, hanya butuh beberapa menit,
semua data rekening bank milik para pelanggan berpindah ke laptop Tony,"
jelasnya. Tampaknya, Tony menghubungkan EDC (alat pendebit kartu BCA) dengan
skimmer, kemudian disambungkan ke laptop-nya.
Kemudian, data tersebut
dimasukkan ke dalam kartu kosong yang telah disiapkan. "Setelah semua data
masuk, Tony tinggal memasukkan PIN yang sebelumnya diintip. Selanjutnya, dengan
bebas dia menguras isi ATM korban," ungkap perwira dengan tiga mawar di pundak
tersebut. Namun, belum lama beraksi, Tony ditangkap polisi.
(ano)