POLIGAMI




Oleh: A. Mustofa Bisri



Seperti biasanya setelah pengajian Selasanan, beberapa `aktivis'
jama'ah masih duduk-duduk berkumpul di aula. Malah kali ini nyaris
lengkap. Ada kang Kimin; kang Zaini; haji Arifin; kang Slamet; kang
Mansur; mas guru Manaf; si Dul; dan bahkan gus Mad dan mbah Paiman.



Kali ini kang Slamet yang membuka `diskusi'. "Wah, kasihan
Aa' Gym ya?! Mau itbaa', mengikuti jejak Nabi, malah dihujat
jama'ahnya."



"Lebih kasihan lagi ibu-ibu yang selama ini mengidolakan Aa' dan
mereasa ikecewakan. Lebih-lebih Teteh Ninih, istrinya!" sahut haji
Arifin yang isterinya ketua muslimat ranting. "Perempuan itu kan
paling sakit jika dimadu."



"Tapi Teteh Ninih itu kan sudah legowo, Aa'-nya kawin lagi;"
kang Zaini menimpali. "Dia itu tipe perempuan yang taat dan selalu
mendukung suaminya."



  "Legowo itu kan lahirnya saja!" sergah haji Arifin.



"Wah sejak kapan sampeyan jadi paranormal, tahu batin orang?"
ledek kang Zaini.



"Lho, bukan begitu. Wajahnya di teve kan kelihatan!" jawab haji
Arifin tak mau diledek sebagai paranormal.



"Tidak. Yang saya heran, mengapa kok jama'ahnya Aa'
menghujatnya dan orang-orang pada geger; sampai-sampai presiden segala
ikut disibukkan. Ini ada apa?" si Dul nimbrung. "Bukankah
sebelumnya sudah banyak tokoh yang kawin lebih dari satu; seperti
petinggi PPP Hamzah Haz; mubalig sejuta umat Zainuddin MZ; aktifis
gender Masdar Mas'udi; bahkan kiai Nur Muhammad Iskandar konon
menjadi penasehat paguyuban Poligami yang dipimpin wong Solo itu."



"Lain;" Gus Mad yang dari tadi seperti tidak mendengarkan,
angkat bicara.

"Pak Hamzah itu meskipun tokoh nasional, kan tokoh politik. Tokoh
politik itu biasanya hanya dianggap milik partainya dan biasanya
perilaku politiknya saja yang disorot. Zainuddin Mz dan Nur Iskandar
juga begitu setelah terjun di politik. Sementara Masdar adalah pemikir
yang ketokohannya tidak karena hubungan langsung dan intens dengan
jama'ah."



Gus Mad berhenti sejenak, memandangi wajah-wajah yang memperhatiannya;
baru kemudian melanjutkan. "Aa' Gym lain. Dia itu tokoh public
figure sebenarnya.

Dia tidak hanya mubalig, tapi juga sekaligus selebriti. Jama'ahnya
adalah fans-fansnya. Aa' adalah gabungan antara Zainuddin MZ dan
Iwan Fals atau Tuti Alawiyah dan Krisdayanti. Lagi pula dia datang pada
waktu yang tepat. Ibarat hujan, turun pada saat kemarau panjang. Pada
saat kebanyakan kepala orang Indonesia panas oleh berbagai kesulitan dan
kekecewaan, dia membawa keteduhan."



Lagi-lagi Gus Mad berhenti sebentar, meneguk tehnya yang sudah dingin,
kemudian baru melanjutkan. "Kalian tahu, kebanyakan jama'ah yang
mengidolakan Aa' adalah ibu-ibu. Mereka ini tidak hanya memuja
Aa' karena kelembutan dan kesejukan bicaranya, tapi antara lain juga
keharmonisannya dengan sang isteri. Kalian lihat sendiri, dalam hampir
setiap penampilannya, Aa'didampingi Teteh Ninih. Tidak jarang dalam
orasinya, dia sengaja meminta dukungan isterinya itu."



"Boleh jadi dalam pandangan jama'ahnya, khususnya ibu-ibu,
Aa' merupakan tokoh idola yang sempurna, yang tidak ada cacatnya.
Ya, seperti umumnya fans terhadap tokoh idolanyalah. Bahkan untuk
Aa' ini mungkin lebih dari itu Dalam bahasa Ainun, di mata mereka,
Aa' sudah menjadi semacam berhala. Terhadap `berhala',
pandangan `tidak ada cacat' bisa menjadi `tidak boleh
cacat'."



"Dan umumnya orang Indonesia, terutama ibu-ibu, menganggap
`kawin lagi; atau istilah populernya poligami, adalah cacat. Minimal
mengurangi kesempurnaan tokoh suami. Maka ketika Aa' kawin lagi,
jama'ah selama ini menganggapnya idola tunggal yang tak bercatat pun
kecewa berat dan meradang."



"Tapi Gus," sela kang Mansur, "poligami itu kan halal dan
itbaa' Nabi?"

Tiba-tiba jama'ah meledak, tertawa. Mas guru Manaf sambil tertawa,
menuding kang Mansur. "Mentang-mentang isterinya dua!"

Kang Mansur terlihat agak sewot ditertawakan kawan-kawannya dan
menyemprot mas guru Manaf: "Alaah, kamu sendiri sebetulnya kan
pingin kawin lagi, tapi tak punya nyali. Dasar guru takwa. Takut isteri
tua!"

Jama'ah pun semakin riuh tertawa. Setelah reda, mbah Paiman yang
paling tua di antara jama'ah, tiba-tiba mengacungkan tangan dan
bicara: "Begini; sebenarnya ini tidak masalah hukum. Hukumnya kan
sudah jelas. Poligami boleh dengan syarat adil. Nah, yang jadi masalah
kepercayaan terhadap adilnya suami inilah yang hampir tidak ada. Orang,
apalagi zaman sekarang, apalagi perempuan, hampir tidak ada yang percaya
ada suami yang bisa adil. Ditambah lagi maraknya kasus perselingkuhan
membuat kepercayaan orang terhadap suami yang kawin lagi menjadi
pupus."



"Lho, kang Mansur ini alasannya kawin lagi justru agar tidak
selingkuh, mbah " sela mas guru Manaf. Kang Mansur melirik sengit ke
arah mas guru Manaf.



"Ya, hampir semua mereka yang berpoligami selalu berkilah bahwa
poligami jauh lebih baik daripada selingkuh. Ini halal dan selingkuh itu
haram. Tapi ini sekaligus juga merupakan dalil penguat bagi mereka yang
anti poligami untuk menuduh mereka yang berpoligami. Artinya, mereka ini
melihat dorongan untuk selingkuh dan kawin lagi adalah sama.
Syahwat."



"Lho, bukankah agama memang memberi jalan, agar orang tidak
terjerumus ke dalam kemungkaran, mbah?" tanya kang Zaini, "Agar
tidak terjerumus dalam riba, agama memberi jalan: jual-beli. Agar tidak
terjerumus dalam zina, agama memberi jalan: kawin."



"Ya, benar;" jawab mbah Paiman sareh, "tapi yang membuat
orang, terutama perempuan, semakin tidak percaya itu ialah alasan-alasan
mulia yang sering dikemukakan mereka yang berpoligami, seperti untuk
mengikuti jejak Nabi; memberantas perselingkuhan; dsb."





"Lalu fatwa mbah kepada kita-kita ini, terutama kepada mas guru
Manaf yang kata kang Mansur sudah ngebet pingin kawin lagi ini,
bagaimana?" tanya haji Arifin.



"Istafti qalbak! Mintalah fatwa nuranimu sendiri!" jawab mbah
Paiman menirukan sabda Nabi Muhammad SAW.



Suasana menjadi hening agak lama. Kemudian yang memecahkan kesunyian
adalah kang Kimin `senior' jama'ah yang dari tadi diam saja.
"Dari tadi kita kok hanya geger bicara soal orang kawin lagi. Yang
kasihan kepada Aa'-lah, yang kasihan kepada isternyalah, yang
kasihan kepada ibu-ibu yang mengidolakannyalah. Bukankah di negeri ini
masih banyak yang lebih perlu dikasihani; misalnya para korban bencana
alam yang belum benar-benar terurus, korban Lapindo yang berlarut-larut
hanya dijadikan bahan diskusi; para pemimpin yang bebal terhadap
kehendak umat yang dipimpinnya; para pejabat yang masih kerepotan
melepaskan diri dari lilitan kepentingan materi; dan sebagainya dan
seterusnya."



Suasana kembali sunyi; sampai gus Mad memecahkannya dengan berkata:
"Marilah kita tutup perbincangan kita ini dengan membaca Al-Fatihah,
semoga Allah mengasihani dan merahmati kita bangsa Indonesia ini,
terutama mereka yang kita kasihani. Al-Faaatihah!"

Kirim email ke