Kuasa Tuhan, alam dan usaha manusia
Pagi-pagi ustad Mukidin sudah ngecuprus tentang bencana yang sepertinya
tiada henti-hentinya melanda bangsa ini.
"Hukum alam atau bahasa agamanya sunatulloh itu berlaku kaya iklan Coca
Cola `di mana aja kapan aja untuk siapa aja'. contohnya air di
dalam gelas ini, sekarang berujud cair, kalau didinginkan akan beku,
kalau dipanaskan akan jadi uap. Di kutub, katulistiwa, puncak gunung,
pinggir pantai, ditangan orang Arab, Cina, Eropa, India, Jawa, Sunda,
Batak, Madura, dipegang orang Islam, Suni, Syiah, Kristen, Katholik,
Hindu, Budha, Dharmo Gandhul - Gatholoco atau kapir sekalipun `sami
mawon', segelas air kalo didinginkan sampai di bawah nol derajad
akan beku jadi es batu, es batu dipanaskan jadi cair, kalau digodog
terus sampai pada suhu 100 derajat akan mendidih jadi uap".
"Nambahi sithik pak lik.. seperti itu lak kalau tekanan udaranya 1
atmosfir atau 760 mm air raksa ta.. kalau tekanannya beda ya sedikit
beda ta pake", sergah si Entong Ade keponakan ustad Mukidin yang sekolah
di SMP.
"Aku tadi sakjanya ya mau ngomong gitu tapi udah kamu dahului Tong",
Ustad lalu melanjutkan dengan gaya persisi presenter Tukul Arwana di TV,
"Mari kita kembali ke… laptop…...  Weleh gara-gara kamu nih, aku
jadi lupa sampai di mana tadi. Oh iya... kalo conto air tadi diganti
minyak, besi, batu, lilin atau benda lain… yakin mboloqin haqqul
yaqin pak solikin juru mesin… hasilnya ya pasti sama yakni
dimanapun, kapanpun oleh siapapun yang mencoba… fenomena yang bisa
diamati akan sama. Itulah yang disebut orang hukum `keseragaman
alam'.... artinya kuasa yang menaungi kita, apapun dan siapapun
kita, dimanapun dan kapanpun tetep sama. Lebih khusus lagi… apapun
agamanya… Tuhan kita itu sebenernya dzat yang sama, soalnya kalau
Tuhan kita beda, maka sifat benda ditangan kita juga akan beda
tergantung Tuhan kita juga. Misalnya Tuhan A, berkehendak es dingin,
Tuhan B berkehendak es sangat panas, dan Tuhan C berkehendak yang lain
lagi…".
"Kalau begitu berarti dunia ini bakal gak jelas aturannya plating sladur
kaya di negara indonengsiah ini ya", kata kang Tomejo.
"Leres… kang… semua alam gumelar harus dalam kuasa dzat yang
tunggal dan mobah-mosik di dunia ini bisa terjadi juga atas kuasa dzat
yang satu itu yang biasa disebut Tuhan dengan segala sebutannya", ustad
Mukidin semakin berapi-api kaya kompor minyak tanah habis ditambah
pompaan.
Kadirun nimpali, "Kang Ustad... katanya di dunia ini ada pertarungan
antara yang baik dan buruk. Yang baik itu katanya kuasa Tuhan yang buruk
kuasa setan. Lalu ada lagi yang menyebut kekuatan alam, katanya sekarang
ini banyak bencana, karena kehadiran seorang pemimpin di negeri ini
tidak diterima oleh alam?"
Ustad meneruskan, "Emang bener Run… ada kuasa setan, tetapi setan
juga hanya bisa berbuat setelah mendapat 'dipensasi' dari Yang Maha
Kuasa, setan emang diberi ijin untuk mbujuk manusia yang mau ditipu
untuk jadi 'bolosetan'. Alam emang punya kekuatan, tetapi pasti tunduk
pada sunatulloh, jadi wala-wala kuawatoa ila billah, nggak ada daya dan
kekuatan kecuali yang satu. kalau begitu.. bila di negeri ini ada
sesorang terpilih jadi pemimpin itu kuasa siapa?.... pasti kuasa Tuhan.
Terus.. bila pada suatu masa negeri sering terjadi bencana itu juga
kuasa siapa?... pasti Tuhan juga khan...
Nah… kalo dua-duanya ternyata kuasa Tuhan... berarti kalau adanya
bencana merupakan reaksi dari terpilihnya seseorang jadi pemimpin itu
rak berarti Tuhan mencle-mencle to... Maka itu jelas gak mungkin".
"Tapi kenapa sejak kita punya pemimpin yang sekarang… kok sering
mengalami bencana, bahkan sepertinya nggak ada putus-putusnya? Apakah
bencana dan musibah itu semua takdir gitu ya... pak Ustad", tanya mas
Andri.
"Tepat mas… tapi perlu diperjelas dulu…. takdir itu apa to?",
lanjut Ustad Mukidin, "Apakah anak yang malas belajar lalu ulangannya
jeblok itu juga takdir? Adakah seorang pemalas lalu mengalami kesulitan
dalam hidupnya itu juga takdir, apakah orang yang numpak kendaraan
byayakan lalu nabrak itu juga takdir? Apakah orang gak pernah ngibadah
lalu ke neraka itu juga takdir? Pasti… manusia harus percaya takdir,
tapi kan nggak boleh hanya tergantung takdir saja. Buktinya Tuhan juga
tidak mau mengubah nasib kalau kita sendiri tidak berusaha mengubahnya.
Bahkan mau ke surga saja diharuskan berusaha kok.
Punya IQ tinggi, cerdas, ganteng, kuntet, bogel, dan sebagainya itu
takdir. Lahir dari keluarga kaya itu takdir, jadi orang Jawa, Sunda,
Betawi, Batak, Melayu, Madura, dll itu takdir. Tetapi seperti nilai
ujian, sakit atau sehat, susah atau bahagia dalam hidup, bahkan juga mau
masuk neraka atau surga itu juga tergantung pada usaha masing-masing,
nggak bisa diserahkan takdir begitu saja".
"Wah makin pusing saya pak ustad... kalau ada takdir kenapa harus usaha,
kalau perlu usaha kenapa harus ada takdir?", tanya kang Tomejo sambil
mentheleng.
Lanjut Ustad Mukidin:, "Gini kang Tomejo.... Barangkali kalau
disederhanakan takdir itu diibaratkan sebagai sebuah botol atau gelas,
masing-masing kita punya wadah atau gelas sendiri, ada yang besar dan
ada yang kecil, ada yang mulutnya sempit tapi ada yang lebar, kita
masing-masing diberi kebebasan untuk mengisinya dengan dengan apa dan
bagaimana caranya. Atau bisa saja takdir itu digambarkan secara
sederhana sebagai sebuah rumus atau program komputer. Memang
masing-masing orang punya rumus atau program sendiri, ada sederhana
tetapi ada yang njlimet,  masing-masing kita berkewajiban menginput
variabel-variabelnya sedemikian rupa agar mendapatkan hasil akhir atau
outcome yang optimal.
Contohnya, jantung kita ditakdirkan punya kekuatan tertentu dan umur
teknis sekian puluh tahun. Kalau kita sering mempergunakan melebihi
batas kemampuan, misalnya sering marah-marah serta kurang memperhatikan
cara perawatannya seperti makan sembrono dan jarang berolahraga, maka
jantung kita itu akan cepat `mbrebet' bahkan bisa rusak lebih
cepat dari umur teknis yang telah ditentukan sebelumnya.
Contoh lain, kalau kita punya IQ pas-pasan, tapi rajin belajar dan asah
otak, mungkin bisa lebih 'pinter' atau minimal menyamai yang IQ-nya
lebih tinggi... Tul nggak dulur-dulur...
Bagaimana sederek-sederek udah paham belum???
Lho piye ta iki… kok malah pada diem saja… jangan-jangan malah
pada molor semua?
Ya wis lah… kalo bosen, saya tutup aja pengajian kali ini. Kalau
sekarang sampeyan setuju dengan saya... bahwa banyak bencana seperti
saat ini bukan karena seseorang diangkat jadi pemimpin, maka jangan
mempertanyakan layak tidaknya seorang pemimpin dari bencana yang
beruntun ini. Nilai kinerja pemimpin dari kapabilitas dalam mengatasi
masalah, kemampuan bertindak tegas melawan ketidak adilan, kemampuan
mencegah kerusakan sehingga mampu menyelamatkan rakyat dari kehancuran,
kemampuan untukmengajak rakyat lepas dari segala kesulitan, mampu untuk
lebih meningkatkan kesejahteraan rakyat Bukan wacana tapi nyata, bukti
bukan janji. Kalau parameter tadi nggak sesuai harapan ya harus
digugat.. lha wong dulu yang menjadikan dia sebagai pemimpin ya kita
juga kok…
Lalu soal bencana … untuk bencana atau musibah yang disebabkan oleh
kesalahan kita dalam "mengisi variabel rumus" .. solusinya ya perlu
diluruskan. Kalau bencana banjir terjadi karena salah menata lingkungan,
maka kesalahan itulah yang harus dikoreksi. Namun seandainya emang
rumusnya yang kurang menguntungkan, hanya satu cara yang bisa dilakukan,
yakni mengajukan "amendemen' melalui do'a kehadapan sang Pembuat
Rumus…..

Grubyak... loh... nggak tahunya ini tadi cuman ngimpi dan saya bangun
kesiangan karena capek jaga banjir...

Kirim email ke