Tapi rawon surabaya yg paling TOP BGT

----- Pesan Asli ----
Dari: kangucup <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 29 November, 2007 7:12:51
Topik: setan Re: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi


warung setan di kelapa gading...
 

--- In [EMAIL PROTECTED] com, "Harwanto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wah Pak Pri ini begitu masuk milis langsung rame milisnya soal setan,
> --- asal ojo podo kesetanan ............ . he he he 
> 
> 
> 
> ____________ _________ _________ __
> 
> From: [EMAIL PROTECTED] com [mailto:estika@ yahoogroups. com] On Behalf
> Of Prianto Tirto Prodjo
> Sent: Thursday, November 29, 2007 1:20 PM
> To: [EMAIL PROTECTED] com
> Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi
> 
> 
> 
> Ya Fy, lucunya masih kalah sama tukul....... ...millisss kalau lagi
> kosong...rasane uenak tenan.
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED] com [mailto:estika@ yahoogroups. com]On
> Behalf Of Effy Rasnida Hutasuhut
> Sent: Wednesday, November 28, 2007 4:53 PM
> To: [EMAIL PROTECTED] com
> Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi
> 
> Wah....pak Pri ini lucu ya....ternyata lebih Gaptek dari aku....
> 
> Biar bisa kangen2an terus sama ex BBD, ya jangan males buka
> milis-nya pak. 
> 
> Apalagi sampai berfikir mau ngabur...
> 
> Mangan ora mangan pokoke miliiisssssss terus....he. .he... maaf
> ya pak....
> 
> 
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED] com
> [mailto:estika@ yahoogroups. com]On Behalf Of Prianto Tirto Prodjo
> Sent: Wednesday, November 28, 2007 1:44 PM
> To: [EMAIL PROTECTED] com
> Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang
> bakmi
> 
> Kang Ucup
> 
> Kalau kirim email saya ke alamat [EMAIL PROTECTED] ..
> <mailto:maspri_ [EMAIL PROTECTED] , yang mandiri saya sudah jarang buka,
> gimana utk terus bisa kontak yang teman2 ex BBD via yahoo. Aku GAPTEK
> yang begitu2 itu lho.
> 
> 
> 
> Tks
> 
> 
> 
> Prianto
> 
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED] com
> [mailto:estika@ yahoogroups. com]On Behalf Of kangucup
> Sent: Wednesday, November 28, 2007 10:18 AM
> To: [EMAIL PROTECTED] com
> Subject: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang
> bakmi
> 
> Beberapa waktu lalu nggak sengaja mampir ke
> Bakmi JawaDU67 di pojokan Jl Dipati Ukur dan Jl Tengku Angkasa Bandung
> (terserah aja kalo dianggap iklan). Di situ pula nggak nyangka ketemu
> dengan pemiliknya yaitu mas Murtioso Salamun, alumni Elektronika ITB dan
> baru saja pensiun dari LEN LIPI (udah kenal lama karena dari "kampung"
> yang sama). Beliau buka warung Bakmi Jawa DU67 (Fortuga) itu konon
> karena terinspirasi oleh Wahyu Saidi yang di kartu namanya menyebutkan
> Doktor - Tukang Bakmi.
> Siapa sih Wakyu Saidi? Berikut kliping profil
> dan sepakterjang beliau sebagai dosen UNJ, sering memberi seminar, nulis
> di Kontan dan tentu saja sebagai "tukang bakmi"...
> 
> salam..
> 
> 
> 
> Wahyu dan "Virus" Wirausaha
> 
> Di kartu namanya tercetak Dr Ir Wahyu Saidi MSc.
> Tentu tidak istimewa karena masih banyak orang yang memiliki gelar lebih
> panjang dan lebih banyak. Baru terasa luar biasa ketika membaca profesi
> yang tercetak pada kartu namanya: tukang bakmi. Boleh jadi dialah
> satu-satunya tukang bakmi bergelar doktor insinyur.
> 
> Beneran, bukan gelar dengan ijazah belian.
> Alumnus Institut Teknologi Bandung ini kini memang menjadi pengajar di
> Universitas Negeri Jakarta. 
> 
> Mantan manajer sebuah perusahaan jalan tol dan
> perusahaan pertambakan terbesar di dunia itu bertekad menularkan ?virus?
> kewirausahaan kepada sebanyak mungkin orang Indonesia. Ia bercita-cita
> mencetak sebanyak-banyaknya orang yang mampu menciptakan lapangan kerja
> buat dirinya sendiri dan orang lain, di tengah semakin ketatnya
> perebutan lapangan kerja formal. 
> 
> Karena itu, hampir separuh waktunya kini dipakai
> keliling Indonesia memenuhi undangan berbicara dalam forum seminar,
> diskusi, atau apa pun namanya. Tidak lain kecuali menggugah orang
> Indonesia untuk menjadi pengusaha profesional. 
> 
> Ia tidak hanya bicara. Kini, bekerja sama dengan
> UNJ, ia mulai memformalkan upayanya itu. Mereka yang berminat
> berwirausaha diberikan pendidikan dan pelatihan secara formal lalu
> diberi paket usaha, semisal usaha bakso, pijat refleksi, salon
> kecantikan, dan bengkel. 
> 
> ?Jadikan bisnis sebagai suatu pilihan hidup.
> Kalau jadi pengusaha kue apem, jadilah pengusaha apem yang profesional,
> tekun, disiplin, pasti jadi. Masalahnya, kalau orang Indonesia menjual
> kue apem, kue cucur, mereka tidak menganggap dirinya sebagai pengusaha.
> Padahal, di situ ada potensi keuntungan besar. Kalau cuma uang 100 ribu
> rupiah sehari, gampang dapatnya,? katanya.
> 
> Berawal dari krisis moneter, ketika perusahaan
> tempatnya bekerja terpaksa ?tidur?, dengan jabatan manajer tentulah
> sulit mencari pekerjaan di perusahaan lain untuk jabatan dan gaji yang
> setimpal. Maka, pilihannya adalah berhenti dan mencoba berusaha sendiri.
> Mulailah ia memasuki agrobisnis dengan bertanam cabe, ternak ayam,
> pembesaran ikan, buka bimbingan belajar, dan usaha makanan Palembang. 
> 
> Saat berusaha makanan Palembang ini, pengalaman
> mengajarinya bahwa makanan Palembang adalah makanan besar dan untuk
> orang dewasa. Seharusnya yang diusahakan adalah makanan untuk semua umur
> dan semua waktu. Sepanjang jalan di Margonda, Depok, ditelusuri untuk
> survei. Pilihan jatuh pada usaha mi ayam.
> 
> Persoalannya, mi ayam apa yang dijual supaya
> laku? Diupayakanlah untuk bekerja sama dengan bakmi GM yang sudah lebih
> dulu populer. Tetapi, apa daya tangan tak sampai. ?Wara laba mereka
> enggak mau, kerja sama enggak mau juga. Ya belajarlah sendiri. Saya
> tidak malu-malu mengatakan saya follower GM. Saya sebut bakmi ala GM,
> dan strategi ini efektif sekali kala itu. Untungnya, bakmi GM tidak ada
> di mana-mana, hanya tempat tertentu saja,? paparnya. 
> 
> Ia pertama kali membuka ?warung? bakmi ala GM
> itu di Menara Kadin, Jakarta, pada Januari 2002. Omzetnya pada hari
> pertama sebanyak Rp 66.000. Tak lama kemudian dibukanya lagi satu warung
> di Jalan Pemuda dengan omzet hari pertama, Rp 200.000. ?Dua bulan
> kemudian baru mencapai omzet Rp 1 juta,? kenangnya.
> 
> Setelah dirasa usaha ini sudah bisa berjalan,
> dipatenkanlah nama sendiri, yakni Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet pada
> tahun 2004. Ketika itu, ia sudah memiliki 36 cabang.
> 
> Langgara berarti langgar, tempat orang
> berkumpul, juga bisa diartikan mampir pada saat lewat. Sementara Tebet,
> diambil dari sebuah nama kawasan yang berkonotasi Jakarta, untuk
> menciptakan kesan bagi orang yang berdomisili di luar Jakarta. 
> 
> Konsep waralaba mulai dikembangkan pada saat
> membuka cabang ke-11. ?Tapi sebenarnya lebih pada konsep joint
> operation, partnership. Waralaba penuh nanti pada cabang ke-12 untuk
> bakmi Langgara,? kenang Wahyu yang merasa mantap berusaha bakmi pada
> saat membuka cabang ke-10. 
> 
> Kini Wahyu yang lahir di Palembang tahun 1962
> sudah punya 39 cabang restoran bakmi merek Langgara dan 62 cabang bakmi
> Tebet, di 18 kota di seluruh Indonesia. Total karyawan mencapai 700
> orang. Sebentar lagi ia akan membuka cabang di Kucing dan Kuala Lumpur,
> Malaysia, serta di Mekkah, Arab Saudi. 
> 
> Meski demikian, bukan cerita sukses saja yang
> mengiringi perjalanan bisnisnya. Ada 15 cabang tutup.? Salah pilih
> lokasi, kontrak tempat habis, dan tidak cocok dengan partner,? katanya. 
> 
> Bisnis mi ini, menurut Wahyu, tidak bisa
> asal-asalan, harus serius dan disiplin. Bagi orang yang sudah punya
> duit, bisa saja menjadikannya usaha sampingan sehingga tidak serius.
> ?Nah kalau berhenti, bagi mereka tidak soal, tetapi bagi saya ya nama
> rusak,? paparnya menjelaskan tentang kriteria mitra usahanya dalam
> setiap pembukaan cabang. 
> 
> Cintai profesi dan menganggapnya ibadah juga
> sangat ditekankan kepada semua mitranya. Mengelap meja buat pengunjung,
> hal biasa baginya. (Andi suruji) 
> 
> ****
> 
> 
> 
> Bakmi Lahir dari Tangan Doktor 
> 
> Resep bakminya mengacu pada cita rasa Bakmi GM.
> Kendati meraih gelar doktor dan menjabat manajer proyek pembangunan
> jalan tol, H Wahyu Saidi tidak merasa gengsi berjualan bakmi. Krisis
> ekonomi yang mendera Bumi Pertiwi sejak akhir 1997 malah menjadi peluang
> baginya untuk mengembangkan usaha yang sudah lama diimpikannya. 
> 
> url:
> 
> 
> http://www.republik a.co.id/suplemen /cetak_detail. asp?mid=3&id=162005&kat
> _id=105&kat_id1=149&kat_id2=251
> <http://www.republik a.co.id/suplemen /cetak_detail. asp?mid=3&id=162005&ka
> t_id=105&kat_id1=149&kat_id2=251> 
> 
> Berani Memulai Bisnis 
> 
> Seorang pemenang mampu menangkap peluang,
> berprestasi, berani bersaing, bertanggung jawab, dan tidak mudah
> menyerah. H Wahyu Saidi, (42 tahun), dengan bangga menyatakan bahwa
> mungkin dialah satu-satunya insinyur lulusan ITB yang kini berprofesi
> sebagai tukang bakmi. Pria kelahiran Palembang 24 Oktober 1962 lulusan
> Teknik Sipil ITB (1987) dan S2 Teknik Industri ITB (1991), memang patut
> berbangga. Karena sebagai dikemukakannya sendiri, 'Bakmi Langgara' dan
> 'Bakmi Tebet' yang didirikan dan dikembangkannya sejak tiga tahun silam,
> kini punya cabang di hampir seluruh tempat di Jabodetabek (Jakarta,
> Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). 
> 
> Bahkan jangkauannya sudah meluas hingga ke
> Cilegon, Bandung, dan Yogyakarta. Lulusan Doktor Manajemen Pendidikan di
> Universitas Negeri Jakarta (2000) itu mengungkapkan, Bakmi Langgara-nya
> sudah mempunyai 38 cabang dan Bakmi Tebet 47 cabang. 
> 
> url= 
> 
> 
> http://www.republik a.co.id/koran_ detail.asp? id=187391&kat_id=152
> <http://www.republik a.co.id/koran_ detail.asp? id=187391&kat_id=152> 
> 
> 
> 
> Bakmi Langgara 
> 
> Muhammad Firdaus (bukan nama sebenarnya), bisa
> dijadikan contoh. Profesi sehari-harinya adalah wartawan salah satu
> media cetak yang terbit di Jakarta. Tertarik dengan konsep bisnis
> waralaba Bakmi Langgara, ia pun kemudian membuka cabang di wilayah
> Sawangan, Depok. 
> 
> "Dari segi nilai investasi, Bakmi Langgara masih
> terjangkaulah. Saya pilih Sawangan karena di sini banyak permukiman
> (Bukit Rivaria) dan belum banyak saingan," jelasnya. Ia mengambil
> waralaba Bakmi Langgara sekitar pertengahan tahun 2004. Investasi awal
> yang harus ia keluarkan adalah Rp 60 juta. 
> 
> Itu untuk pembayaran franchise fee sebesar Rp 30
> juta dan sisanya Rp 30 juta untuk peralatan, perabotan hingga pegawai
> yang semuanya disuplai oleh franchisor. Selaku terwaralaba (franchisee) ,
> dirinya masih harus mengeluarkan biaya tambahan untuk sewa tempat. 
> 
> Besarnya bervariasi tergantung mahal tidaknya
> lokasi usaha. Untuk Sawangan katanya, jelas lebih murah dibandingkan
> Margonda atau Warung Buncit misalnya. Untuk manajemen, selain ada
> kontrol rutin dari pihak Bakmi Langgara, operasional sehari-hari
> dijalankan oleh saudaranya. 
> 
> Setelah buka beberapa bulan, dirinya gembira
> karena bisnis waralabanya berkembang cukup baik. Setiap bulannya paling
> tidak omzetnya mencapai Rp 45-50 juta. Dari jumlah itu, sekitar 20-30
> persen menjadi keuntungan bersih baginya. 
> 
> "Lumayanlah. Kalau omzet seperti ini terus,
> paling lambat setahun saya sudah mencapai BEP (Break Even Point atau
> titik impas)," katanya berbangga hati. Yang penting bagi seorang pemula,
> katanya, adalah berani nekat namun tetap smart (pintar). Soal uang untuk
> investasi awal menurutnya bisa dengan mengajak teman atau saudara
> sehingga beban yang ditanggung lebih ringan. 
> 
> url:
> http://www.sinarhar apan.co.id/ ekonomi/usaha/ 2005/0326/ ukm1.html
> <http://www.sinarhar apan.co.id/ ekonomi/usaha/ 2005/0326/ ukm1.html> 
> 
> 
> 
> ***
> 
> Bisnis Berbendera Islam Laris Manis 
> 
> -- truncated--- 
> Nama lain yang juga mengusung bendera Islam
> dalam bisnis adalah Bakmi Langgara. Mendengar kata Langgara, asosiasi
> banyak orang segera saja tertuju kepada Langgar atau Mushalla yang
> merupakan tempat ibadah umat Islam (semacam masjid kecil dan tersebar di
> kantong-kantong pemukiman penduduk). ''Memang, Bakmi Langgara adalah
> bakmi yang dibuat oleh orang Islam (Muslim), dan merupakan bakmi halal.
> Inilah positioning kami. Meskipun dibuat oleh Muslim, Bakmi Langgara
> ditujukan untuk semua orang atau kalangan,'' kata pendiri dan pemilik
> Bakmi Langgara Group, Dr Ir H Wahyu Saidi MSc. 
> 
> Alumni ITB itu secara sadar memakai gelar
> ''haji'' di depan namanya untuk menguatkan identitas keislamannya
> tersebut. ''Biasanya asosiasi masyarakat terhadap pengusaha bakmi adalah
> orang-orang Chinese. Memang berbagai merek bakmi terkenal di ibukota
> maupun kota-kota besar lainnya kebanyakan milik orang Chinese. Tapi
> Bakmi Langgara dimiliki oleh orang Muslim, dan sudah haji pula, sehingga
> dapat memberikan ketenangan kepada para konsumen Muslim yang kerap
> ragu-ragu menyantap bakmi,'' tegas Wahyu. 
> 
> Menurut Wahyu, pemakaian identitas keislaman
> dalam bisnis yang digelutinya sejak tiga tahun terakhir itu sama sekali
> tak mengganggu. Justru makin mendukung kesuksesannya. ''Bagi orang
> Muslim, pemakaian identitas keislaman itu membuat mereka makin yakin
> untuk makan di Bakmi Langgara. Di sisi lain, para pembeli non-Muslim,
> termasuk Chinese sama sekali tak terganggu oleh atribut keislaman itu.
> Sebab, dalam bisnis restoran, yang terpenting adalah makanan itu enak
> dan resik, harganya terjangkau, dan pelayanannya menyenangkan, ''
> paparnya. 
> 
> Berkat keyakinannya itu, dalam waktu relatif
> singkat Bakmi Langgara Group berhasil melebarkan sayapnya hingga 86
> cabang -- sebagian besar dalam bentuk waralaba. Gerainya tersebar di
> wilayah Jakarta Depok Bogor Tangerang Bekasi (Jadebotabek) , Bandung, dan
> Yogyakarta, hingga KM Kelud. ''Saya yakin bisnis berbendera Islam sangat
> berkah dan menjanjikan. Untung akhirat, untung pula di dunia. Adakah
> yang lebih indah dari hal ini?'' kata Wahyu. 
> 
> Wahyu Saidi mengaku pihanya tak sekadar memakai
> nama Langgara. Manajemen Bakmi Langara Group berusaha menerapkan
> prinsip-prinsip yang sesuai dengan syariat Islam. Misalnya: zakat,
> pengajian di kantor pusat maupun sejumlah cabang, umrah untuk karyawan,
> kurban, bantuan untuk korban bencana alam. ''Tidak kalah pentingnya
> adalah kejujuran dan keterbukaan, sebab ini merupakan prinsip utama
> dalam bisnis berbendera Islam. Nabi mengatakan, pedagang yang jujur itu
> bersama para Nabi, para shiddiqin, dan para syuhada nanti di Surga,''
> papar Wahyu.
> 
> ----- truncated---
>




      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke