Betul Pak Tjuk, masakan sunda mestinya menyehatkan, apalagi dulu waktu saya kuliah makan di tempat ibu kost. Tapi ya berhubung banyak bermunculan restoran sunda, wah ternyata pak, makanannya asyik -asyik begitu. Mungkin memang lebih sehat, cuma kalau makannya sedikit ngga nendang tuh hahaha. Apalagi restoran seperti 'bumbu desa', tinggal nunjuk selain berbagai ikan, ada paru goreng, babat goreng, dan gorengan lainnya yang tidak bisa dikategorikan makanan sehat lagi. Lucunya kalau ngga nunjuk yang itu rasanya ada yang kurang hehehe.
Lucu memang kita, lihat saja kalau makan salad. Salad kan mestinya sehat, cuma sayuran tok. Tapi salad sekarang itu dia, ada tambahan ayam goreng, telur rebus, coleslaw, plus mayonise dan thousand island sebagai sausnya, sehat sayuran tenggelam oleh thousand island hehehe. Jadi ada benarnya, halal saja tidak cukup, makanya 'wong solo' punya slogan halalan toyiban. Promosi resto nih Pak Tjuk, padahal lagi puasa ya hehehe. Maaf. Salam Nandi -----Original Message----- From: Tjukria P.Tawaf [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, December 18, 2007 7:04 PM To: [email protected] Subject: Re: {Disarmed} RE: [exbe2de] FW: Sayangilah Jantung Anda Brur Nandi, Kan lama di Bogor ... dari IPB lagi ... Kan masakan Sunda itu sehat, banyak lalab dan daun. Yang engga boleh dimakan kan daun jendela aja dan "daun muda". he he he .. Biar langsing Salam Sehat Selalu WsWw Tjuk ----- Original Message ----- From: Nandi Syukri Ch. <mailto:[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[email protected]> com Sent: Tuesday, December 18, 2007 12:40 PM Subject: RE: {Disarmed} RE: [exbe2de] FW: Sayangilah Jantung Anda Lah kan, kalau Pak Boedi mah ada saja sumber berita nya hehehe. Saya juga pernah dengar hal ini diungkapkan oleh dokter yang rutin siaran di Delta FM senin pagi (dr Robert Djoko Marjono kalau tidak salah namanya), dia juga malah menyatakan VCO (virgin coconut oil) memang baik untuk kesehatan. Kalau saya pribadi sih sudah agak lama memang sudah overweight, jadi sudah mengurangi makan, termasuk makan masakan Padang tentu saja hehehe. Bener kata Pak Pri, masakan apa saja oke, asal tidak banyak makannya, sedang-sedang saja. Trims Pak Boedi, kutipan artikelnya. Salam nsc -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, December 17, 2007 4:23 PM To: [email protected] Subject: Re: {Disarmed} RE: [exbe2de] FW: Sayangilah Jantung Anda Ssssssstttttt............ tenanglah Pak Nandi yang asli dari Padang. Ini saya dapat dari Harian Global. Tuesday 02 October 2007 Minyak Goreng dan Kolesterol Minyak goreng bukan merupakan sumber kolesterol, lemak hewanilah sumbernya. Hanya saja, pemakaian minyak dengan kandungan asam lemak jenuh yang tinggi dapat menyebabkan terbentuknya kolesterol. Lemak hewani mengandung banyak sterol yang disebut kolesterol, sedangkan minyak nabati mengandung fitosterol. Dengan demikian, jelaslah bahwa minyak goreng bukan merupakan sumber kolesterol. Kolesterol hanya berasal dari lemak hewani. Akan tetapi, konsumsi minyak dengan kandungan asam lemak jenuh yang cukup tinggi dapat menyebabkan terbentuknya kolesterol di dalam tubuh melalui proses metabolisme. Untuk itu jangan takut menggunakan minyak goreng untuk memasak. Yang penting jangan menggunakan minyak secara berulang (minyak bekas/jelantah), karena dapat memicu kanker. Minyak yang telah dipakai untuk menggoreng (minyak jelantah) menjadi lebih kental, mempunyai asam lemak bebas yang tinggi dan berwarna kecokelatan. Minyak ini sangat berbahaya bagi kesehatan, karena bisa menyebabkan kanker. Kolesterol sering diartikan salah oleh masyarakat dan dinilai sebagai sesuatu yang sangat menakutkan. Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh produsen minyak dengan menuliskan kalimat "tidak mengandung kolesterol" atau "non kolesterol" pada kemasan minyak yang dijual. Tujuan utamanya untuk mempengaruhi sugesti konsumen dan mendongkrak penjualan produknya. Sebagai konsumen, kita harus mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa tidak ada kolesterol di dalam minyak goreng. Dengan demikian, kita tidak akan mudah menjadi korban iklan. Minyak goreng hanya mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Perbandingan asam lemak jenuh dan tidak jenuh inilah yang menentukan sifat fisik, kimia dan mutu minyak goreng secara keseluruhan. Asam lemak jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam miristat, asam palmitat, asam laurat dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak goreng adalah asam oleat, asam linoleat dan asam linolenat yang masing-masing memiliki satu, dua dan tiga ikatan rangkap dalam struktur molekulnya. Minyak goreng dengan asam lemak tidak jenuh yang tinggi, seperti minyak kedelai dan minyak jagung sangat menguntungkan dari segi kesehatan, karena dapat mengurangi kadar kolesterol darah. Akan tetapi, minyak dengan kandungan asam lemak tidak jenuhnya tinggi kurang baik bila digunakan untuk minyak goreng, apalagi dalam pemakaian yang berulang. Pada suhu tinggi, asam lemak tidak jenuh sangat mudah sekali teroksidasi dan menimbulkan senyawa-senyawa yang berdampak negatif bagi kesehatan. Meskipun kadar asam lemak jenuh pada minyak kelapa dan kelapa sawit cukup tinggi dibandingkan dengan minyak jagung atau minyak kedelai, tidak terbukti minyak kelapa dan kelapa sawit menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh. Penelitian terbaru membuktikan bahwa adanya middle chain triglyceride (MCT) pada minyak kelapa sangat membantu dalam proses metabolisme lemak di dalam tubuh. Sehingga mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung koroner dan penyakit degeneratif lainnya. Oleh karena itu, nenek moyang kita tidak memiliki masalah dengan kolesterol walaupun telah menggunakan minyak kelapa dalam menu sehari-hari. Bagaimanapun juga, kolesterol penting bagi kesehatan. Kolesterol merupakan bahan baku pembentukan berbagai hormon tubuh termasuk hormon seks, pembentukan vitamin D, bagian penting dari setiap membran sel dan komponen utama penyusun lemak di otak. Oleh karena itu, fobia (ketakutan) berlebihan pada kolesterol akan merugikan kesehatan. Defisiensi kolesterol akan menyebabkan tubuh jadi kurus, infertil (mandul), gangguan otak dan sistem hormon tubuh, keterbelakangan atau gangguan mental dan meningkatnya sifat agresif. (prc) Oleh Yeni Kurniawi <http://www.harian-global.com/user.php?id.5> - Tuesday 02 October 2007 - 09:23:14 On Mon, 2007-12-17 at 13:21 +0700, Prianto Tirto Prodjo wrote: . Web Bug from http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=14776254/grpspId=1705739178/msgId =2290/stime=1197872679/nc1=4507179/nc2=4706131/nc3=4725794 <http://www.sng.ecs.soton.ac.uk/mailscanner/images/1x1spacer.gif>
