Kiat Hidup Bahagia dengan Penyakit Jantung Koroner Prof. Dr. dr. Idris Idham, SpJP, FESC.
Written by Irfan Arief Friday, 29 June 2007 Sepintas kedengarannya memang aneh, masa orang bisa hidup bahagia dengan penyakit jantung koroner (PJK). Apalagi orang sudah tahu bahwa sampai saat ini PJK masih merupakan pembunuh utama di banyak negara. Tidak hanya negara industri maju, seperti Amerika dan negara-negara Eropa, hal ini pun berlaku di negara kita. Tetapi, memang demikian yang dimaksud karena tulisan ini ditujukan untuk orang yang sudah menderita PJK. Ya, sudah didiagnosa oleh dokter sebagai penderita PJK, baik yang hanya memerlukan pengobatan, yang sudah dibalon, maupun yang sudah menjalani operasi bedah pintas koroner. Hidup Bahagia dengan PJK Pengertian bahagia bagi pasien biasanya merujuk pada keadaan dimana mereka dapat "kembali ke keadaan semula", dapat berfungsi optimal seperti sebelum sakit, dapat menikmati hidupnya tanpa kekhawatiran yang berlebihan, dan yang terpenting penyakitnya tidak memburuk. Termasuk disini, pasien dapat bekerja kembali, berolahraga, dan boleh menikmati makanan kesukaannya. Yang tidak kalah penting, malahan sering ini yang pertama kali ditanyakan sebelum keluar rumah sakit, adalah tentang hubungan seks; apakah ia boleh dan bisa melakukannya seperti sebelum menderita PJK. Ya, tentu saja dengan istri sendiri. Sebab bila tidak, perasaan bersalah dan rasa cemas takut ketahuan dapat menimbulkan serangan jantung bahkan sampai kematian mendadak. Kendalikan Faktor Risiko Penyakit jantung koroner sangat berhubungan dengan faktor resiko. Bila anda dapat mengendalikan faktor resiko tersebut, berarti anda memperbaiki kualitas hidup anda dan memperkecil resiko kambuh atau memberatnya penyakit. Mengontrol faktor risiko koroner termasuk berhenti merokok untuk anda yang biasa merokok; mengontrol kadar kolesterol darah agar tidak melebihi nilai normal; mengawasi tekanan darah agar tetap normal; bila menderita diabetes diusahakan kadar gula tidak terlalu tinggi. Untuk yang kegemukan (obese) agar menurunkan berat badannya sampai berat badan ideal. Bagi anda yang dengan stress psikis tinggi agar dapat mengendalikan stress psikis tersebut. Semua ini dapat anda lakukan sendiri dengan kesadaran penuh, dan akan lebih baik lagi melalui konsultasi dengan dokter keluarga anda. Disamping itu masih perlu diperhatikan perubahan gaya hidup yang lain seperti agar hidup lebih tenang, lebih dekat dengan Sang Pencipta. Hentikanlah semua perburuan termasuk memburu harta, jabatan dan seks. Tetaplah Minum Obat Ini terjadi pada pasien penulis sendiri. Belum sampai dua bulan setelah diballon dan dipasang stent, tiba-tiba pasien dilaporkan meninggal mendadak sewaktu mengikuti upacara di lapangan. Kaget karena kasus seperti ini jarang terjadi, penulis langsung menelpon keluarga almarhum. Kebetulan almarhum urang awak dan tinggal di Padang. "Almarhum sudah lama tidak makan obat lagi", begitu kata istrinya. Ini karena almarhum merasa tidak pernah lagi nyeri dada, sudah kuat berolahraga: jalan kaki, jogging, bahkan sudah main tennis. Banyak terjadi pasien berhenti makan obat. Setelah obat yang dibawa dari rumah sakit habis, mereka tidak datang lagi untuk kontrol teratur untuk mendapatkan resep baru. Biasanya karena mereka tidak merasa nyeri dada lagi, bebas dari sesak napas, dan aktivitas fisik sudah dapat dilakukan seperti sebelum sakit. Ini terjadi akibat pasien yang kurang berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang merawatnya. Di lain sisi, bisa saja dokter yang merawat kurang memberi penjelasan tentang apa yang harus dilakukan setelah keluar rumah sakit. Untuk itu ikutilah nasihat dokter anda, berkonsultasi secara teratur, jangan menghentikan obat yang diberikan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu. Begitu juga jangan merubah dosis obat sendiri atau menambah dengan obat-obat lain tanpa sepengetahuan dokter anda. Tanyakan apa yang belum jelas. Cari informasi sebanyak-banyaknya termasuk dari sumber lain, kemudian diskusikan dengan dokter anda. Atur Pola Makan Anda Kebanyakan pasien PJK sebenarnya sudah mengetahui makanan apa saja yang tidak baik untuknya. Masalahnya terletak pada tidak mungkin melarang pasien untuk sama sekali tidak menyentuh makanan tersebut. Karena kebanyakan yang tidak baik memang yang enak-enak. Pasien akan merasa tertekan, dan bisa jadi sebagai bentuk "perlawanan" akan melabrak semua larangan tersebut. Untuk mencegah meningkatnya kadar kolesterol dalam darah bukanlah berarti anda harus memantangkan semua makanan, sampai-sampai tidak mau lagi mampir di restoran Padang. Tidaklah demikian maksudnya. Anda dapat saja makan sate, rendang, kalio tetapi anda harus merubah polanya. Untuk itu ada kiat yang saya peroleh dari Prof. Dr. dr. Askandar Tjokroprawiro, guru saya dari Universitas Airlangga, yaitu N.B.I. N = nikmati, artinya anda masih boleh menikmati makanan kesukaan anda. B = batasi, artinya batasi jumlahnya kalau biasanya anda makan sate 20 tusuk, sekarang pesanlah 10 tusuk untuk berdua dengan pasangan anda. Untuk anda cukup 3 tusuk. Bila sebelum sakit anda makan sate 2x seminggu, sekarang kurangi menjadi 1x dalam 6 minggu. I = imbangi, kalau sebelum sakit anda tidak pernah berolah raga, sekarang berolahragalah secara teratur. Dianjurkan 3 - 4x seminggu jalan kaki 2 - 3 km dalam ½ jam. Sebaiknya anda ikuti aktivitas Klub Jantung Sehat (KJS) Yayasan Jantung Indonesia di tempat anda agar olah raga lebih teratur dan terprogram. Pengertian & Dukungan Keluarga Terakhir yang tidak kalah penting adalah peran keluarga. Karena itu diskusikan masalah anda dengan keluarga, ajak mereka menemui dokter anda, bersama mereka kenali lebih jauh penyakit yang anda derita. Pengertian dan dukungan keluarga menjadi faktor penentu keberhasilan anda dalam menjalankan anjuran di atas. Sumber: Pusat Jantung Nasional harapan Kita
