Source
http://www.kompas. com/read.php?cnt=.xml.2008. 
03.28.02170519&channel=1&mn=175&idx=175

Resesi dan Bom Waktu Derivatif
Jumat, 28 Maret 2008 | 02:17 WIB
Oleh: Sri Hartati Samhadi



Krisis finansial yang bersumber dari kredit macet perumahan (subprime mortgage) 
dan berisiko menyeret seluruh perekonomian AS ke dalam resesi sekarang ini, 
sebenarnya sudah lama diprediksikan bakal terjadi oleh banyak kalangan. Salah 
satu tokoh pasar uang yang kencang mengingatkan adalah Warren Buffet, investor 
legendaris yang kini merupakan orang terkaya di dunia.
Booming atau pertumbuhan pesat perdagangan derivatif di pasar uang beberapa 
tahun terakhir ini, menurut dia, menyimpan bom waktu untuk terjadinya bencana 
mahadahsyat (mega-catastrophic) bagi ekonomi. Ia bahkan menyebut derivatif 
sebagai ”senjata finansial pemusnah massal” (financial weapons of mass 
destruction) karena potensinya yang sangat besar untuk meluluhlantakkan seluruh 
sistem finansial global.
Menurut catatan The Sovereign Society, transaksi derivatif ada di belakang 
semua bencana ekonomi besar yang terjadi sejak tahun 1987. Ia berada di 
belakang kejatuhan (crash) pasar saham Wall Street tahun 2001 dan 2008 yang 
dikenal sebagai Senin Kelam (Black Monday).
Dia juga berada di belakang krisis finansial Asia 1997/1998; penyebab kolapsnya 
hedge fund raksasa Long Term Capital Management (LTCM) tahun 1998; ambruknya 
bank dagang tertua Inggris, Barrings Bank; bangkrutnya Orange County di AS; 
kolapsnya Enron dan pemicu krisis ekonomi Argentina. Masih banyak lagi korban 
lainnya, bukan hanya dari kalangan perusahaan, tetapi juga perekonomian negara.
Transaksi derivatif itu sendiri sebenarnya merupakan bentuk instrumen keuangan 
yang dipakai untuk mengurangi risiko yang muncul akibat pergerakan harga. 
Tetapi, akhirnya lebih banyak jadi instrumen spekulasi bagi para investor. Di 
negara maju seperti AS, transaksi ini sudah sedemikian berkembang 
sehingga—ibaratnya—apa saja bisa dispekulasikan atau dijadikan taruhan. Mulai 
dari pergerakan suku bunga, nilai tukar mata uang, harga saham, komoditas, 
bahkan iklim.
Mesin judi Wall Street ini dikendalikan oleh bank-bank besar, perusahaan 
keuangan, dan mutual fund (reksa dana) raksasa, tidak jarang melibatkan 
praktik-praktik culas (huge-scale fraud) yang merugikan investor dan konsumen, 
dengan memanfaatkan absennya regulasi dan pengawasan ketat dari pemerintah dan 
otoritas moneter. Buffet mencontohkan kontrak yang terjadi di pasar energi AS 
yang sebagian besar didasarkan pada perdagangan derivatif dan menjadi pemicu 
kolapsnya Enron.
”Derivatif sering kali membuat laporan pendapatan yang jauh lebih besar dari 
yang sebenarnya dan didasarkan pada estimasi yang ketidakakuratannya mungkin 
tak akan pernah terungkap selama bertahun-tahun,” ujar Buffet dalam sebuah 
pesan kepada para pemegang saham perusahaannya tahun 2002, sebagaimana dikutip 
majalah Fortune. Menurut dia, tak sedikit transaksi derivatif dibuat oleh 
”orang gila”.
Volume transaksi derivatif, berdasarkan data Bank for International Settlements 
(BIS), melonjak lima kali lipat dalam lima tahun terakhir; dari sekitar 100 
triliun dollar AS menjadi 516 triliun dollar AS tahun 2007. Lonjakan ini 
lagi-lagi antara lain dipicu oleh kebijakan likuiditas longgar (cheap money) 
Bank Sentral AS.
Paul B Farrel dari Market Watch mengungkapkan betapa berbahayanya lonjakan dan 
skala transaksi derivatif yang ibaratnya phantom economy itu bagi perekonomian 
global. Dengan skala transaksi sebesar itu, pergerakan pasar derivatif bisa 
dengan mudah menggoyang perekonomian AS dan global. Sebagai gambaran, PDB 
tahunan AS sebagai perekonomian terbesar dunia ”hanya” 15 triliun dollar AS, 
uang beredarnya 15 triliun dollar AS, dan anggaran tahunan pemerintah 
federalnya 2 triliun-3 triliun dollar AS. Volume transaksi derivatif itu bahkan 
mengalahkan PDB global yang 50 triliun dollar AS dan total nilai kapitalisasi 
pasar saham dan pasar obligasi seluruh dunia yang sekitar 100 triliun dollar AS.
Tutup mata
Hipotek KPR kelas dua yang berisiko macet (subprime mortgage) adalah salah satu 
underlying asset dari sekuritas yang diperdagangkan dalam transaksi derivatif. 
Dalam kasus subprime ini, bank memberikan kredit kepemilikan rumah (KPR) kepada 
konsumen—yang menurut asas prudensial perbankan—sebenarnya tidak layak menerima 
kredit, baik karena rekam jejak kredit yang tidak baik (mungkin pernah mendapat 
kredit lain yang macet atau mengemplang) atau secara finansial tak layak 
dikucuri kredit.
Dalam banyak kasus, bank- bank itu bahkan tidak mau bersusah payah mengecek 
apakah si debitor akan mampu membayar atau tidak, atau apakah dia punya 
pekerjaan atau tidak. Banyak konsumen yang mengaku tidak dapat mencicil 
utangnya sampai 7-8 bulan, tetapi tidak pernah mendapatkan surat peringatan 
atau dinyatakan macet.
Kalaupun mereka pernah mengemplang atau utangnya macet, dengan mudah catatan 
kreditnya dipermak menjadi ”bersih tanpa cacat” kembali. Jasa memutihkan 
catatan kredit seperti ini mudah sekali didapat karena memang ada perusahaan 
yang menyediakan jasa untuk itu.
Oleh bank, melalui bank investasi atau hedge fund-nya, jaminan atau surat 
perjanjian kredit (hipotek) itu dipergunakan sebagai jaminan dari sekuritas 
(mortgage-backed securities) yang diterbitkan dan diperdagangkan di pasar 
sebagai instrumen investasi. Investor tidak tahu aset yang dipakai sebagai 
jaminan itu macet atau busuk.
Di sini, hedge fund atau bank investasi melakukan hanky panky dengan perusahaan 
pemeringkat sehingga sekuritas yang ibaratnya hanya sampah (junk) bisa 
berperingkat AAA (Triple-A). Itu pula yang terjadi pada kasus subprime mortgage 
ini.
Rasanya memang sulit percaya praktik-praktik seperti itu bisa terjadi di AS 
yang selama ini selalu menempatkan dirinya sebagai panutan bagi negara 
berkembang dalam hal transparansi, akuntabilitas, dan good governance. Tetapi, 
itulah yang terjadi. Pasar uang AS adalah pasar yang dikuasai oleh mafia 
segelintir bank atau lembaga keuangan. Mereka memiliki lobi dan koneksi sangat 
kuat ke pemerintahan dan Fed sehingga mampu mendikte regulator dan otoritas 
moneter untuk keuntungan mereka.
Mengapa pemerintahan Bush dan Fed tutup mata? Keberadaan pasar kredit subprime 
mortgage selama ini menguntungkan banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Dari 
sisi konsumen KPR, mereka bisa mendapatkan akses kredit kendati memiliki skor 
dan track record kredit buruk. Pihak hedge fund atau bank investasi sendiri 
mendapatkan fee dari penerbitan sekuritas berbasis subprime mortgage dan marjin 
sebesar selisih suku bunga pasar dan suku bunga kredit yang dibebankan pada KPR.
Para dealer atau broker sekuritas mendapatkan keuntungan dari menjual sekuritas 
berbasis mortgage ke investor dan komisi penjaminan. Bagi investor, instrumen 
sekuritas berbasis mortgage juga menawarkan peluang untuk mendiversifikasi 
portofolio investasi.
Bagi perekonomian sendiri, keberadaan instrumen ini akan memperluas sumber 
pendanaan untuk KPR, menciptakan sumber pendanaan baru bagi perbankan dan 
lembaga keuangan, serta mendorong integrasi lebih jauh pasar modal dan pasar 
uang.
Bagi pemerintah, menciptakan bubble baru dianggap merupakan cara termudah 
mempertahankan booming ekonomi yang bersumber dari bubble lain atau 
menyelamatkan ekonomi dari krisis akibat meledaknya bubble lain. Dalam kasus 
AS, mantan pimpinan Fed Alan Greenspan sendiri mengakui bubble real estat 
melalui penyaluran kredit KPR subprime memang sengaja diciptakan untuk 
mengatasi dampak krisis yang diakibatkan oleh bubble industry dot.com tahun 
2001.
Melalui bubble, kalangan Wall Street yang selama ini banyak menyumbang pada 
pemerintah atau partai meraup banyak keuntungan. Kepentingan politis Bush juga 
terlindungi. Sebab, dengan menggelontorkan likuiditas dan kebijakan suku bunga 
rendah, muncul ilusi semu di kalangan masyarakat seolah kondisi ekonomi mereka 
membaik. Suku bunga rendah merangsang masyarakat terus menambah utang dan 
berbelanja sehingga perekonomian juga bergerak. Dengan begini Bush akan lolos 
dari sorotan dan lebih leluasa menggunakan dana pembayar pajak untuk membiayai 
mesin perang.
Semua diuntungkan. Alhasil, Fed pada era Greenspan lebih sibuk mengorkestrasi 
rangkaian bubble demi bubble. Atas nama pasar bebas, moral hazard yang marak 
terjadi dibiarkan. Booming pasar dianggap cermin perekonomian yang tumbuh dan 
membuat laba melonjak sehingga investor senang. Kian derasnya dana asing ini 
memungkinkan Pemerintah AS membiayai defisitnya. Utang pun membengkak. Semua 
baru menjadi masalah besar ketika kemudian kredit subprime macet dengan naiknya 
suku bunga, dan semua ikut terseret.
Nilai subprime yang disalurkan, menurut Mortgage Finance, terus meningkat tajam 
dari tahun ke tahun. Dari hanya 120 miliar dollar AS tahun 2001 menjadi 625 
miliar dollar AS tahun 2005 dan 600 miliar dollar AS tahun 2006. Sementara 
nilai transaksi derivatif berbasis subprime mortgage ini jauh lebih besar lagi.
Karena gelembungnya sangat besar, daya rusak ledakannya juga sangat kolosal. 
Jumlah konsumen yang terancam kehilangan rumah karena kreditnya macet mencapai 
lebih dari 6 juta keluarga. Sementara itu, pembeli instrumen ini bisa siapa 
saja; mulai dari individu, perusahaan, perbankan, atau lembaga keuangan atau 
pemerintah negara-negara. Mereka semua bisa terkena dampaknya sehingga krisis 
subprime mortgage di AS dan efek dominonya yang bisa memunculkan krisis 
kepercayaan di seluruh sistem finansial dan perekonomian, bukan tidak mungkin 
memicu krisis finansial dan ekonomi di negara lain yang memiliki exposure besar 
terhadap aset-aset AS.
Ini setidaknya sudah terjadi di Inggris (Northern Rock Bank) dan Jerman (IKB). 
Sejumlah bank di Kanada juga terimbas. Di AS sendiri, seluruh bank investasi 
atau hedge fund besar dan bank-bank komersial, termasuk lima besar, kena. 
Demikian pula lembaga dana pensiun, perusahaan asuransi, dan perusahaan 
penjamin sekuritas dimaksud.
Kerugian akibat krisis subprime mortgage dilaporkan sudah mencapai 300 miliar 
dollar, bahkan tak tertutup kemungkinan menembus 1 triliun dollar AS karena 
belum semuanya terungkap. Apakah mereka semua juga harus di-bailout oleh Fed 
seperti Bear Stearns?
Sri Hartati Samhadi 

 


--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG. 
Version: 7.5.519 / Virus Database: 269.22.1/1348 - Release Date: 3/28/2008 
10:58 AM

Kirim email ke