Menurut pendapat saya, julukan untuk orang-orang yang digambarkan di
bawah ini tidak cocok.
"Ndeso" itu artinya orang yang berasal dari desa yang
perilaku/sifat-sifatnya penuh dengan kesederhanaan, polos, tanpa pamrih
(tulus), rendah hati, nrimo.
Yang cocok untuk orang yang berperilaku seperti yang ditulis oleh Mas
Prancis di bawah ini adalah: "kampungan".
Orang kampungan tuh orang yang memoles dirinya dengan
barang/aksesori/perilaku yang tidak sesuai dengan diri atau kondisi
dirinya, "seolah-olah" dia: paling kaya, paling jago, paling pinter,
paling mengerti teknologi, paling top, paling sok tahu, paling .....
Salam,
boedi dayono

On Tue, 2008-04-22 at 04:40 +0100, PRIANTO TIRTOPRODJO wrote:
> Yang menulis orang Indonesia di Perancis....mungkin kelamaan di
> France, sehingga dia sebenarnya tidak mengerti atau tidak mengetahui
> kelebihan wong Indonesia. Dari dulu hingga sekarang, sebenarnya secara
> logika tidak bisa diterima, bahwa sebagian besar orang kita
> pendapatannya  suitik banget tapi misih surfaif......walaupun dia
> bukan koruptor lho (kalau koruptor gaji sedikit maling duit banyak ya
> enggak heran).   Lihat wong nDeso, wong kampung itu, kalau dipikir
> pendapatannya sedikit...ning kok biso Urip (bukan yang ditangkap KPK
> itu lho/kasus BLBI).
> Jadi penulis soko France itu mesti mengerti keanehan wong
> Indonesia....yang hebat dari dulu sampai sekarang.
> 
> "Tjukria P.Tawaf" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>          
>         He he ..  ??/??//?//??///???
>          
>         ----- Original Message ----- 
>         
>         From: Tatang muttaqin 
>         To:  alumni unpad unpad 
>         Sent: Monday, April 21, 2008 3:42 PM
>         Subject: [milis-ika-unpad] NDESO
>         
>         
>         Sohib yang baik,
>         Menarik juga baca tulisan santai ini. Mohon maaf kalau sudah
>         membaca dan terima kasih.
>         
>         Salam, tatang
>         
>         NDESO"
>         oleh : Ika S. Creech *)
>         
>         Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak,
>         kampungan,
>         udik, shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika
>         mengalami atau
>         merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia
>         merasa
>         takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan
>         tidak
>         ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia
>         menganggap
>         hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan
>         mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus
>         mengajak orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya,
>         dengan
>         harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama
>         seperti dia.
>         
>         Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung
>         terhadap
>         langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini
>         biasa,
>         seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita
>         terus
>         berupaya untuk teru s belajar dari sejarah, pengalaman orang
>         lain,
>         serta belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak,
>         kampungan
>         alias deso.
>         
>         Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali
>         dekan atau
>         bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus.
>         Sementara si
>         Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang
>         sederhana.
>         Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada
>         pemerintah
>         Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari
>         Tokyo
>         naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat
>         Indonesia
>         naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.
>         
>         Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara
>         seremoni
>         dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat
>         menteri,
>         saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai merk
>         Holden baru
>         yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para
>         pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya
>         dengan
>         tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana
>         pengawalnya.
>         
>         Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran
>         Thailand.
>         Dia seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah
>         selesai S3,
>         sekarang lagi mengikuti program Post Doc. Dia anak serorang
>         pengusaha
>         yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya
>         malah
>         jadi pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari
>         perguruan
>         tingginya.
>         
>         Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP
>         Communicator,
>         mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran
>         ternyata
>         konsumen terbesar HP communicator adalah Indonesia . Sempat
>         berkenalan
>         juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang,
>         ternyata
>         dia anak seorang pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang
>         tak
>         kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu
>         yang di
>         pakai masyarakat Jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang
>         deso siapa
>         yaa?
>         
>         Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau
>         di
>         Australia , baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya,
>         atau
>         rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau
>         sudah tahu
>         pekerjaan dan jabatannya di perusahaan. Jangan-jangan kalau
>         orang
>         Jepang diajak ke Pondok Indah bisa pingsan melihat rumah
>         segitu gede
>         dan mewahnya. Rata-rata rumah di sana memiliki tinggi plafon
>         yang bisa
>         dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga
>         duduknyapun
>         banyak yang lesehan.
>         
>         Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara
>         dan
>         Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk
>         perang
>         ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal
>         kemewahan istana
>         raja-raja negara sekelilingnya, karena beliau punya pengalaman
>         berdagang. Ternyata beliau tidak menjadi silau terus
>         ikut-ikutan latah
>         ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan
>         dilakukan?
>         Mengingat beliau sebagai kepala negara. Jawabannya ya di
>         masjid.
>         
>         Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun
>         istana. Di
>         Mekkah nikah dengan janda kaya, di Madinah jadi kepala negara,
>         punya
>         hak prerogatif dalam mengatur harta rampasan perang dan ada
>         jatah dari
>         Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari
>         raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal
>         perut dengan
>         batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk
>         menahan
>         perih perut dan seterusnya?
>         
>         Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat
>         banyak
>         yang mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri
>         beras, minyak
>         tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa
>         diangkat
>         dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing,
>         banyak
>         seremonial yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek
>         mobil,
>         proyek mercusuar, dll, dsb, dst.
>         
>         Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas,
>         kelaparan
>         tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada
>         lagi WTS
>         (Wanita Tidak Sholat, di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") ,
>         angka
>         kriminal rendah, korupsi berkurang, punya posisi tawar
>         terhadap
>         kekuatan global. Maka orang Deso (alias norak) tidak mampu
>         mengatasi
>         krisis karena tidak bisa menjadikan krisis sebagai paradigma
>         dalam
>         menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang
>         norak
>         maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah negara normal
>         atau
>         bahkan mengikut negara maju.
>         
>         Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar
>         sementara
>         anggaran kesra-nya 100 juta, wiiieh!
>         
>         Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat
>         mengerikan dari
>         atas sampai bawah :
>         - Orang bisa antri raskin sambil pegang HP
>         - Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
>         - Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv
>         dan kulkas
>         - Orang bule mabuk krn kelebihan uang, orang kampung mabuk
>         beli
>         minuman patungan
>         - Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
>         - Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
>         - Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
>         - Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang
>         sempit
>         di Cibubur
>         - Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk
>         McDonald
>         - Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail
>         dunia persepakbolaan.
>         - Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
>         - 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
>         - Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi
>         di
>         acara tembang kenangan.
>         - Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol
>         ngebor
>         - Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan
>         wakuncar
>         - Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
>         - Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa
>         saja, kalo
>         perlu jin Tomang jg digandeng
>         
>         Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat
>         kere,
>         maka harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere
>         tidak tahu
>         dirinya kere.
>         
>         *) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini bertempat tinggal
>         di
>         Paris, Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah
>         satu
>         stasiun di Perancis.
>         
>         __________________________________________________________
>         Be a better friend, newshound, and 
>         know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
>         http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
>         
>         
>         ______________________________________________________________
>         
>         
>         
>         No virus found in this incoming message.
>         Checked by AVG. 
>         Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.2/1388 - Release
>         Date: 4/20/2008 3:01 PM
>         
>         
> 
> 
> 
> 
> Send instant messages to your online friends
> http://uk.messenger.yahoo.com 
> 
> 
> 
>  


Kirim email ke