Sebuah renungan untuk hari libur yang panjang... 
==bdy08042009================================

Bunga Sang Kaisar

Pada suatu waktu di Cina hiduplah seorang pria muda bernama Chang. Ia
cerdas dan tulus. Lebih dari segalanya, ia mencintai bunga. Tidak ada
yang lebih menyenangkannya daripada melihat bunga lilac, lili, dan peony
ketika mereka mekar di musim semi. Di musim dingin ia menanti-nantikan
munculnya bunga narcissus yang indah. Ia tidak bisa memilih sebuah bunga
favorit, karena ia menyukai bunga morning glory dan evening glory, bunga
delima, bunga peach, dan bunga teratai yang mengapung di kolam. Ia
menikmati bunga mawar yang wangi, seruni yang kokoh, dan dahlia yang
menakjubkan.

Chang mengagumi kaisar karena ia pernah mendengar bahwa kaisar juga
mencintai bunga dan mengawasi kebun indah di taman istana.

Sekarang kaisar sudah berusia lanjut. Ia tidak mempunyai putera,
sehingga ia tidak mempunyai calon penggantinya. Selama bertahun-tahun ia
memikirkan cara memilih seorang pria yang bisa ia angkat sebagai kaisar
berikutnya. Kemudian, pada suatu hari di awal musim semi ketika ia
berjalan-jalan di tamannya, ia mendapat gagasan yang sangat bagus.

Hari berikutnya, kaisar mengumumkan kepada semua pria muda di negeri itu
bahwa di akhir minggu ia akan memberikan biji-biji kepada siapapun yang
ingin menanam bunga. Kaisar mengatakan, “Siapapun yang menumbuhkan bunga
terindah yang dibawa ke hadapanku akan menjadi penggantiku.” 

Ketika Chang mendengar berita itu, ia mengisi sebuah pot biru terang
dengan lumut dan kompos, tanah subur dan pasir. Puas bahwa tanahnya
subur dan lembab, ia membawanya ke istana. Di sana ia berdiri di dalam
antrian bersama ratusan orang lain. Setiap pria muda memegang sebuah
pot: ada yang besar, ada yang kecil, ada yang bulat, ada yang tinggi,
ada yang ramping. Setiap orang menerima sebuah biji dari tangan kaisar
sendiri.

Chang menekan biji itu ke dalam tanah di pot dan dengan berhati-hati
menutupnya dengan kain tipis untuk menjaganya agar tetap hangat.
Kemudian ia bergegas pulang. 

Di rumah, Chang memelihara biji dari kaisar itu dengan pengabdian yang
sama seperti yang ia berikan ke semua tanamannya. Ia berhati-hati untuk
tidak memberi terlalu banyak atau terlalu sedikit air. Pada saat yang
tepat ia memberi pupuk, dan sangat berhati-hati dalam melindunginya dari
serangga, debu dan jamur, seperti semua tanaman lainnya.

Berbulan-bulan berlalu, tanaman lainnya telah menembus tanah dan mulai
tumbuh, tetapi Chang kecewa karena tida ada tunas yang tumbuh di pot
birunya. “Ini aneh,” katanya. “Mungkin biji ini tidak membutuhkan banyak
matahari.” Jadi, ia memindahkan pot ke ruangan lain, tetapi juga tidak
terjadi apapun. “Mungkin ruangan ini terlalu dingin,” katanya, dan ia
memindahkan pot birunya ke ruangan yang lebih hangat. Masih juga tak
terjadi apapun.

Sekarang waktu untuk menghadap kaisar sudah mendekat, dan pot biru Chang
masih kosong. Setiap kali memandanginya, ia dipenuhi rasa putus asa.
“Apa yang salah?” pikirnya. Ia mengunjungi setiap ahli perkebunan yang
ia kenal, dan kepada setiap orang menceritakan kisah bijinya. Mereka
semua menggelengkan kepala. Tak ada yang tahu dimana letak kesalahannya.

Beberapa orang mengatakan bahwa jelas ia tidak dimaksudkan untuk menjadi
kaisar. Beberapa orang lainnya mengatakan ia harus menambah tanah, atau
menambah air, atau mengurangi pupuk. Beberapa orang lain mengatakan
untuk melupakan keinginannya menjadi kaisar.

Tetapi orang tua Chang mendengarkan kekuatiran anaknya dan hanya
tersenyum. “Jangan kuatir, nak. Kamu sudah melakukan hal yang terbaik,”
kata orang tua yang bijaksana itu. “Hanya itu yang dapat kau lakukan.” 

“Tetapi aku telah gagal,” keluh Chang ketika memandangi tanah kosong di
potnya. “Sudah waktunya untuk menemui kaisar, dan aku sudah
mengecewakannya.” 

“Katakan saja apa yang telah terjadi,” kata ayahnya. “Kewajibanmu
hanyalah mengatakan kebenaran.” 

Pada hari yang telah ditentukan beberapa waktu kemudian, dengan hati
putus asa karena kecewa, Chang berjalan ke istana. Ketika tiba, air
matanya mengalir, karena di depannya, lautan pria muda berdiri,
masing-masing memegang bunga yang lebih indah dari pada orang di
depannya. Bunga-bunga anggrek yang anggun, bunga lili yang halus, bunga
peony yang berwarna-warni. Pemiliknya memeganginya dengan bangga. “Lihat
punyaku!” teriak mereka sambil memegangi tanamannya tinggi-tinggi ketika
kaisar berjalan melewati kerumunan. Ia mengangguk senang sambil berlalu,
memperhatikan bunga bell, bunga forget-me-not, bunga foxglove, bunga
dari setiap warna pelangi. 

Chang belum pernah melihat pemandangan yang begitu indah, dan
kesedihannya menguap untuk sementara waktu ketika ia menghirup aroma
bunga-bungaan dan mengagumi ukuran dan bentuk bervariasi dari
bunga-bunga itu.

Akhirnya kaisar sampai juga di hadapan Chang. Chang membungkukkan
kepalanya. “Di mana bungamu, pria muda?” tanya kaisar.

Chang melihat cahaya di mata kaisar yang membuatnya terkejut. “Baginda,
hamba telah mengecewakan baginda,” katanya dengan sedih. “Hamba telah
merawat biji yang baginda berikan, tetapi seperti baginda lihat, hamba
tak mampu menumbuhkan bunga untuk baginda. Hamba berharap baginda
memaafkan hamba.” 

Tetapi wajah kaisar bersinar dengan senyum yang lebih cerah dari pada
semua bunga yang ada di sekelilingnya. “Kamulah penggantiku,” kata
kaisar menggenggam tangan Chang.

“Tetapi, baginda, hamba adalah satu-satunya orang yang gagal,” 

Kaisar menggelengkan kepalanya. “Sebaliknya,” jelasnya, “kamu tahu, aku
telah merebus biji-biji ini sebelum aku membagikannya. Tidak satupun
dari biji-biji itu yang akan tumbuh, tetapi semua orang muda lain begitu
menginginkan kedudukanku sehingga mereka hanya ingin menyenangkan aku
dengan keindahan bunga mereka dan dengan demikian mereka berharap
mendapatkan tahtaku. Mereka tidak peduli pada kejujuran, pada kebenaran.
Hanya kamu yang telah membuktikan bahwa kamu adalah pemimpin yang
layak.” 

Dan begitulah, pria muda dengan pot kosong itu menjadi pengganti kaisar
Cina.

Tuhan bergaul karib dengan orang jujur. . . .

Sumber: Media Kawasan, edisi April 2009. 




CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.



Kirim email ke