Ada dua pemusik jalanan atau biasa disebut pengamen, dengan penampilan
dan gaya yang sama, gitar yang juga hampir sama usangnya. Mereka
sama-sama pengamen jalanan yang menjual suaranya dari kedai ke kedai,
halte, bis kota dan dimanapun mereka mendapati keramaian. Lagu-lagu
koleksi yang biasa mereka mainkan juga tidak jauh berbeda, cukup untuk
berkeliling seharian dan yang penting selalu up to date dan tidak
ketinggalan jaman. Mereka cukup hapal lagu-lagu yang tengah naik daun
dari berbagai group band terkenal, dengan modal semua itu mulailah
mereka beraksi. 

Pengamen A, sebut saja begitu, mendatangi sebuah halte dan mulai memetik
gitarnya mencoba menghibur orang-orang yang tengah menunggu kedatangan
bis. Sebuah lagu baru dinyanyikan beberapa kata, langsung berhenti
ketika seseorang memberinya sekeping uang lima ratus rupiah. Wajahnya
cemberut sambil memerhatikan orang yang memberi, dari bibirnya nampak ia
mengumpat, mungkin kata-kata dalam hatinya seperti ini, “Kayak orang
miskin saja, ngasih kok segini…”

Kemudian, sebuah bis tiba ia pun ikut naik ke atas bis. Mulai memainkan
sebuah lagu yang tentunya beda dengan lagu yang ia nyanyikan di halte,
sebab beberapa penumpang bis sudah mendengar lagu sebelumnya saat di
halte. Selesai bernyanyi ia pun mengedarkan “kantong rejeki”nya kepada
para penumpang. Nasib tengah tak berpihak kepadanya, hanya beberapa
orang saja yang memberi, sambil turun dari bis ia berteriak,
“penumpangnya orang miskin semua…”

Ia mampir ke sebuah kedai makanan, terdapat orang-orang yang tengah asik
menikmati makan siangnya. Selesai sebuah lagu, belum ada seorang pun
yang memberi. Lagu kedua terpaksa dimainkan, namun nadanya mulai
berbeda, bayangkan orang bernyanyi sambil kesal dan menggerutu. Tentu
saja tak enak didengar, bagi orang-orang yang sedang makan, malah jadi
mengganggu. Karena pengamen itu memainkan gitarnya dengan ayunan tangan
orang kesal, suaranya pun tak lagi sedap didengar. Alhasil, selesai lagu
kedua nyaris tak ada yang memberinya uang. Oh ya, ada satu orang yang
memberi itu pun lantaran ia tak mau terganggu lagi, agar si pengamen
cepat pergi.

Pengamen kedua, sebut saja namanya B. Sama seperti A, ia juga kerap
bernyanyi di halte untuk menghibur calon penumpang bis yang kadang bosan
menanti. Baru beberapa syair terlantun, ada seorang yang memberi namun
tak membuat ia berhenti memainkan musiknya. Ia terus ingin memainkan
lagu sampai selesai. Ketika ia hanya mendapatkan sekeping dua koin untuk
jerih payahnya memainkan lagu terbaik, ia tetap tersenyum.

Begitu pula saat ia bernyanyi di dalam bis kota. Ia akan terus memainkan
gitarnya dengan petikan terhebat dan suara terbaik, tanpa peduli berapa
banyak yang ia peroleh di “kantong rejekinya”. Baginya, uang receh yang
didapat bukanlah tujuan, keinginannya menghibur para penumpang bis
dengan target mengukir senyum dan hati riang menjadi tujuan utamanya. Ia
tahu persis, di dalam bis kota itu terdapat orang yang mungkin tengah
bermasalah dengan atasannya di kantor, sedang tidak akur dengan
saudaranya di rumah, suami atau isterinya sedang marah. Ia bisa mengerti
bahwa di dalam bis itu terdapat orang yang hatinya gundah, pikirannya
kalut atau perasaannya tak tenang. Atau sebaliknya, ada yang tengah
bahagia, sedang di puncak kesenangan. Ada yang baru mendapat promosi
jabatan, baru dapat jodoh atau baru memenangkan undian berhadiah.

Nah, atas dasar pengetahuannya itulah ia memainkan lagunya. Ia ingin
membuat yang sedih menjadi gembira, yang gundah menjadi tenang, yang
suntuk menjadi terhibur dan yang senang semakin senang. Yang sedang
jatuh cinta semakin berbunga-bunga, yang sedang marah menjadi pemaaf,
yang kasar menjadi lembut, yang tengah lemas menjadi bersemangat dan
yang sedang mengantuk jadi segar. Jadi, ia tak peduli pada hasil pada
“kantong rejekinya”. Ia tak sedih melihat kantong itu tetap kosong. Ia
tak marah kepada orang-orang yang tetap khusyuk menikmati santap
siangnya, justru ia berharap dengan lagunya itu selera makan orang-orang
bertambah.

Sebab ia menyebut dirinya seniman dan bukan pengamen. Seniman tidak
bernyanyi demi uang, namun demi sesuatu yang lebih luhur dan bernilai
dari sekadar uang receh. Ia bernyanyi karena ia bangga dengan
profesinya. Ia sangat menghargai pekerjaannya, karena hanya ia yang bisa
menghargai jerih payahnya itu dengan pantas. Boleh orang lain menganggap
remeh pekerjaannya, namun tidak dengan dirinya. “Jika bukan saya, siapa
lagi yang akan menghargai pekerjaan saya?”

***

Sobat, apapun profesi dan pekerjaan Anda, selama Anda yakin dan
menghargainya, maka Anda akan menjalani pekerjaan itu dengan
sungguh-sungguh dan mengerahkan kemampuan terbaik. Jangan biarkan orang
lain memengaruhi kinerja Anda dengan penilaiannya yang rendah. Bayaran
kecil bukan alasan melakukan pekerjaan semaunya, tak peduli apakah ada
yang berucap terima kasih pada jasa yang Anda berikan kepada orang lain,
sebab Anda sudah cukup senang melihat orang lain terbantu dengan
keberadaan Anda. Ya, karena Anda adalah seniman dalam profesi
masing-masing. Selamat bekerja wahai seniman. (Gaw)

Bayu Gawtama 
Life-Sharer 
http://solifecenter.com
0852 190 68581






CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.



Kirim email ke