|
From: Luluk [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, 12 May 2005 11:31 AM To: Luluk Subject: salah satu Tulisan Faiz....Kutitipkan Temanku; Calon Orang Penting di Negeri Ini!
Aku sampai pagi itu dan terkejut dengan
sambutan meriah dari teman-teman kecil di Rumah Cahaya. Usia mereka antara 5-13
tahun. Aku tersenyum dan menyalami mereka. Wah mereka ramah!. Mereka menatapku
seolah aku ini artis. Aku jadi tidak enak sekali. Aku mencoba untuk lebih akrab.
Tante Asma dan bunda membuat beberapa acara.
Ruangan mungil itu seakan hampir runtuh karena ramainya sorak anak-anak. Apalagi
saat mereka bermain tebak-tebakan dan ekspresi untuk mendapatkan banyak hadiah
imut yang kami bawa. Nah di tengah keramaian itu tiba-tiba aku melihat sesuatu,
tepat di sebelah rumah cahaya. “Tempat apa itu? Peralatan apa?” tanyaku pada
teman di sebelahku. “Itu tempat perjudian,” katanya. “Dan itu
alat-alatnya,” tambah anak berbaju biru itu lagi. “Anak-anak suka main di situ.
Padahal seharusnya itu tak terjadi.” Aku sering mendengar di daerah dekat Rumah
Cahaya ada tempat perjudian. Tapi aku tak menyangka kalau tepat di sebelah Rumah
Cahaya! Aku menyalami anak berbaju biru itu dan
berkenalan. Namanya Hengki Rifai. Lalu tiba-tiba kami sudah mengobrol seperti
teman lama. “Di sini banyak penduduk yang kesusahan. Yang
putus sekolah juga banyak,” kata Hengki. “Saya berdoa dan berjuang supaya bisa
terus sekolah.” Hengki berumur 12 tahun dan duduk di kelas 6
SD. Aku baru 9 tahun dan baru kelas III SD, tapi asyiknya obrolan kami
nyambung. “Boleh aku ke rumahmu?” tanyaku.
Hengki mengangguk. “Tapi rumahku aneh. Tidak
apa?” “Aku suka rumah aneh,” ujarku
tersenyum. Hengki tertawa, matanya yang bulat
bersinar. Perjalanan ke rumah Hengki melewati
lorong-lorong kumuh di bawah kolong tol. Aku prihatin karena
lorong tersebut kotor, gelap dan bau. Anak-anak kecil buang air besar di got
kecil yang cetek itu. Rumah-rumah di Akhirnya aku sampai juga di rumah
Hengki. Aduh rumah Hengki membuatku sedih. Rumah itu kecil,
kumuh sekali. Lebih mirip gudang. Di sebelahnya ada kandang-kandang ayam. Tapi
kata Hengki tinggal kandangnya, sudah tak ada ayamnya lagi. Aku tidak bisa
membayangkan ada orang menempati rumah seperti ini. Ya Allah aku istighfar dan
menahan airmataku yang ingin cepat turun. Ternyata Hengki anak yatim. Yang membuatku
ingin menangis lagi, Ibu Hengki sebenarnya masih hidup. Tapi pergi
meninggalkannya begitu saja. Hengki hidup bersama kakek dan neneknya. Neneknya
punya warung mungil di depan rumah mereka. Hengki sering membantu neneknya
berjualan. Aku juga ngobrol dengan nenek Hengki yang ramah. Hatiku tersayat lagi
melihat orang setua itu masih harus bekerja. Aku kagum, meski mereka kesusahan tapi sangat
mengutamakan tamu. Aku minum teh botol tapi mereka tak mau dibayar. Terang saja
aku memaksa. Aku paksa Hengki sekalian menerima sedikit tabunganku yang kubawa
hari itu. Hengki kaget. Dia malu tapi bersyukur. Rupanya dia belum bayar uang
sekolah beberapa bulan. Aku juga memberikan buku-buku karyaku pada Hengki.
Hengki tertawa. Katanya dia sudah membaca semua puisiku di Rumah Cahaya, tapi
belum punya bukunya. Dia berterimakasih sekali. Ah, Hengki. Sebenarnya aku yang
berterimakasih padamu. Kamu mengingatkanku lagi akan arti syukur dan peduli pada
sesama. Sayang, aku tak bisa lama mengobrol dengan
Hengki. Sebab acara di Rumah Cahaya belum selesai. Aku harus kembali ke
Hengki mengangguk dan menjabatku erat.
“Kamu tahu Hengki, aku yakin, meski keadaanmu
sekarang begini, suatu saat kamu akan jadi orang hebat! Orang penting! Jadi kamu
tidak boleh menyerah sekarang!” pesanku padanya. Hengki tertawa, menampakkan giginya yang
putih bersih. Aku senang melihat Hengki yang hitam manis. Dia cerdas dan baik
hati. Aku tahu suatu saat, kalau dia tetap berjuang dan dekat dengan Tuhan, dia
benar-benar akan menjadi orang penting di negara ini! “Aku akan datang lagi!” seruku. Aku melambai
pada Hengki dan nenek, sambil berusaha menahan haru. Ditemani Om Rojak, Om Joni, Om Tarjo,
preman-preman baik hati itu, aku kembali menuju Rumah Cahaya Penjaringan. Mereka
menatapku heran. Aku juga menatap mereka kagum. Preman pahlawan, aku tahu Allah akan menjaga
sahabatku Hengki Rifai. Tapi tolong ya, aku titip juga calon orang penting ini
pada kalian!
______________________________________________________________________ This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System. For more information please visit http://www.messagelabs.com/email ______________________________________________________________________ ______________________________________________________________________ This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System. For more information please visit http://www.messagelabs.com/email ______________________________________________________________________ |
