Info dari tetangga:
 
Pencairan Batubara Tidak Perlu Diragukan Lagi

Mencairkan batubara untuk menjadi minyak bumi tidaklah
rumit. "Apanya yang rumit? Idenya sangat sederhana. Lagi pula
teknologinya sudah ada sejak abad ke-19," ujar Lobo Balia, Kepala
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara
(tekMIRA).

Menurut Lobo, sudah semestinya, pemerintah mendorong program
pen­cairan batubara lebih cepat lagi. Alasannya sangat
sederhana. "Apakah kita mau terus menerus menggantungkan diri pada
minyak bumi yang harganya selalu saja naik? Jika tidak, Nah, mulai
saat ini, pemerintah sudah harus berpikir menggunakan energi
alternatif pengganti mi­nyak bumi. Salah satu jawabannya adalah
mencairkan batubara menjadi mi­nyak bumi sintetis (Crude
Synthetic Oil, CSO)," kata dia.

Kajian serta studi kelayakan mengenai program pen­cairan
batubara sudah selesai dilakukan oleh tekMIRA dari tahun 1994 sampai
dengan tahun 2002. Studi ini dilakukan Tim dari Jepang (NEDO dan
Kobe Steel) dan Tim dari
Indonesia (DESDM, BPPT, PT BA, dan
Pertamina).

"Dari pra studi kelayakan, kita sudah mendapatkan hasil bahwa
program pencairan batubara dapat dilakukan di
Indonesia . Kalau
hasilnya demikian, apayang mesti kita ragukan lagi? Mari kita atasi
krisis minyak' bumi dengan program pencairan batubara. Cara ini
tidak bisa ditawar-tawar lagi jika kita mau menyelesaikan
permasalahan bangsa", ujar Lobo.

Dijelaskan Lobo, batubara kadar rendah (low rank coal) yang
dijadikan sampel waktu itu, diambil dari tiga lokasi: Banko di
Sumatera Selatan, Mulia di Kalimantan Selatan, dan Berau di
Kalimantan Timur. Hasilnya sangat menggembirakan. Minyak bumi
sintetis yang dihasilkan dari pencairan batubara kadar rendah yang
diambil dari Banko dengan kapasitas pabrik 6000 ton per hari,
harganya sekitar USD 33 per barel. Dari Mulia dengan kapasitas
pabrik yang sama, harga minyak bumi sintetisnya sekitar USD 29 per
barel. Sedangkan dari Berau, dengan kapasitas pabrik yang sama,
harga minyak bumi sintetis sekitar USD 25 per barel.


"Coba bandingkan dengan harga minyak bumi saat ini. Jelas, jauh
lebih rendah. Hampir setengahnya. Perkiraan saya, harga minyak di
tahun-tahun ke depan akan semakin mahal atau setidaknya sekitar USD 50 per barel. Dan perlu diperhatikan, minyak bumi sintetis dari
pencairan batubara kualitasnya lebih baik dari minyak bumi. Low
sulfur, bahkan ada yang free sulfur," ujar Lobo.

Dengan harga minyak bumi sintetis yang jauh lebih rendah dari harga
minyak bumi di pasar dunia, pemerintah akan sangat diuntungkan. "Gak
perlu lagi pusing-pusing mikirin kenaikan harga BBM dan subsidi. Dan
yang pasti, akan menghemat pengeluaran negara untuk keperluan impor
BBM dan produk minyak," ujar Lobo.

Tidak itu saja. Dengan memanfaatkan sumberdaya batubara kadar
rendah yang sangat besar, program pencairan batubara ini
mempunyai efek ganda (multiplier effect) yang tidak terkira. "Kita
bisa membuka tambang baru sekeias KPC dan Adaro, misalnya. Dengan
dibukanya tambang baru, tenaga kerja akan banyak diserap. Jadi,
nilai tambahnya bagi bangsa ini besar sekali," ujar Lobo.


Hanya saja, lanjut Lobo, untuk meyakinkan semua pihak bahwa program
ini bisa diandalkan, perlu dibangun pilot plant terlebih
dahulu. "Dari pihak Jepang sendiri, sebetulnya sudah ingin langsung
membangun commercial plant. Kitanya yang tidak mau. Kita perlu bangun pilotplan dulu, lah. Kalau nanti ada masalah dengan
commercial plant, kita gak perlu jauh-jauh pergi ke Jepang. Tinggal
datang ke pilot plant saja," ujar Lobo.

Pilot plant untuk program pencairan batubara lokasinya di Palimanan,
Cirebon . "Baru pada akhir tahun 2004 lalu, pemerintah akhirnya mau
menyisihkan dananya untuk membangun pilot plant 1 ton per hari.
Jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Kita mengharapkan pihak Jepang
juga mau memberi bantuan. Sebagai perbandingan saja, untuk membangun
pilot plant Upgrading Brown Coal (UBC) kita cuma perlu dana sekitar
empat miliar rupiah," ujar Lobo.

Maksud dari dibangunnya pilot plant adalah untuk lebih meyakinkan
semua pihak bahwa program pencairan batubara bisa dilakukan. "Seeing
is believing," ujar Lobo. Teknologi yang akan digunakan di
Indonesia, kata Lobo, adalah teknologi improved Brown Coal
Liquefaction (iBCL) yang dikembangkan oleh Jepang. "Pihak Jepang
sudah membangun pilot plant dengan teknologi ini untuk 50 ton
per hari di Victoria , Australia ."

Ditegaskan Lobo, untuk mewujudkan program pencairan batubara dari pilot plant hingga commercial plant haruslah ditangani oleh
pemerintah. "Untuk membangun pabrik dengan kapasitas 6000 ton per hari saja butuh investasi sekitar USD 1,3-1,5 miliar. Sedangkan
untuk pabrik dengan kapasitas 12.000 ton per hari butuh investasi
sekitar USD 2,3-2,6 miliar. Tidak mungkin tekMIRA membangun pabrik
pencairan batubara yang kelasnya hampir sama dengan Kilang Minyak Balongan. Ya, harus pemerintahlah yang memulai. Ini sudah menyangkut
keputusan politik pema­merintah di bidang energi," ujar Lobo.

Dan untuk menangani masalah pencairan batubara ini, menurut Lobo,
harus dibentuk lembaga tersendiri yang mengurusinya.

"Saya sih mengusulkan agar pemerintah mendirikan BUMN baru yang tugasnya menangani pencairan batubara," kata Lobo.

Sumber : Majalah WARTABARA, edisi Juni 2005, hal. 8.

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Kirim email ke