Kemarin petang sahabatku datang main ke rumah. Membicarakan tentang kata-kata yang tak berujung, satu diantaranya adalah tentang rezeki.
"Aku bingung dengan perilaku Tuhan, yang memudahkan peroleh rezeki kepada dia, memberi kemudahan kepadanya sehingga dia kaya, sementara aku ini miskin, padahal apa kurangnya aku ? usaha sudah kulakukan dengan keras sekuat tenaga, berdoa minta rezeki juga rajin tapi kenapa tak dikabulkan-Nya..!" Katanya penuh tanya.
Pertanyaan diatas sering menghinggapi fikiran kita, dan rasanya tak mampu kita untuk membuka tabir rahasianya lebih lanjut. Teringat pesan yang disampaikan Ayatullah Muhammad Taqi Misbah, yang sedang berkunjung ke Indonesia dan memberikan Studium General Filsafat Islam, di ICAS–Paramadina, dan Universitas Indonesia, serta beberapa tempat lainnya, saya mencoba menjelaskannya kepada sahabatku. Apa yang diucapkan oleh beliau dengan harapan membuka pemahaman dan pencerahan kepada sahabatku itu.
-o0o-
Rezeki itu dianugerahkan Tuhan bisa dari jalur khusus dan juga jalur biasa,
dalam beberapa riwayat ada kemudahan rezeki yang diberikan kepada umatnya secara langsung, seperti menghidangkan makanan yang lezat untuk Nabi Zakariya dan sebagainya. Riwayat keajaiban semacam itu banyak terjadi. Namun kebijaksanaan Tuhan menuntut bahwa manusia selalu terbuka bagi ujian dan bahwa kesempurnaannya terpebuhi melalui pilihannya sendiri.
Apabila orang melihat makanan mereka telah siap, diturunkan dari langit setiap hari, mereka tidak merasa memerlukan dan tak akan menyadari kenyataan bahwa mereka adalah mahluk yang sepenuhnya membutuhkan.
Apabila manusia tidak harus berusaha untuk mendapatkan rezekinya, pengetahuan dan industri di dunia tidak akan berkembang, dan kebijakan Ilahi serta hikmah Tuhan dalam penciptaan tidak akan diketahui. Dan, secara alami kemajuan material dan evolusi spiritualpun tak akan dicapai oleh manusia.
Apabila rezeki manusia tercapai tanpa jerih payah dan kesulitan, maka masalah halal dan haram tidak akan diajukan dalam bisnis dan perdagangan. Tidak akan diketahui bahwa orang telah melanggar atas hak orang lain atau tidak, dalam bisnis bicaranya selalu merasa benar atau hanya menipu, ketika memperoleh nikmat tidak lagi menafkahkan hak-hak orang lain atau tidak, tidak lagi merasa perlu menolong orang miskin, kaum kerabat, dan kaum duafa. Dan masih banyak kemungkinan lain seperti itu, justru melalui ujian dan cobaan dalam berbagai bentuk dan cara, kita memahami hal-hal yang ditanyakan diatas, bahwa ada larangan juga ada yang diutamakan untuk dikerjakan.
Oleh karena itu, di balik usaha dan ujian, ada kebijaksanaan tertentu yang sekiranya tidak ada maka jalan dari sekian banyak kesempurnaan akan tertutup bagi manusia.
Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
| Philosophy beauty product | Philosophy | Philosophy beauty |
| Philosophy of | Philosophy amazing grace | Philosophy hope in a jar |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "filsafat" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
