|
Essay:
Prokencong-prokencong Waru
Dhoyong
Beberapa tokoh dalam dunia wayang kulit
suka mengeluarkan kata-kata pembukaan sebelum memulai pembicaraannya, kata-kata
ini tak bermakna, seperti orang yang menceracau dan kacau sekali. Dan
masing-masing tokoh memiliki kata-katanya yang khas sendiri. Sang Hyang Pukulun
Bathara Naradha misalnya, sebelum medhar sabda-nya, biasanya akan
bergumam begini: prokencong-prokencong, pak-pak pong, waru dhoyong ditegor
uwong... Lain lagi dengan Semar: laeeee-laeee...
mbegegeg ugeg-ugeg, sadulit-dulita, hemel-hemel... Pandhita Durna juga
memiliki kata-katanya yang khas: Lole-lole soma lole soma rante, woh gembol
monyor-monyor...
Entah kenapa, kata-kata yang kacau dan tak
bermakna seperti itu kadang justru bisa menembus makna yang paling dalam.
Bandingkan dengan lirik Lewis Carrol (Through The Looking Glass,
1872) di bawah ini:
Twas brillig, and the slithy toves did gyre
and gimle in the wabe, all mimsy were the borogoves, and the mome rath
outgrabe...
Mungkin karena kata-kata yang nampaknya kacau
tersebut, jika dirasakan ternyata menyajikan sebuah harmoni: harmoni
yang mengatasi segala konsep, yang tidak bisa disampaikan dengan kata-kata
yang terikat pada konsep. Dan satu-satunya cara untuk mengungkapkannya adalah:
menggunakan kata-kata yang telah dilepaskan dari konsepnya.
Dan kalau kita amati, alam semesta pun nampaknya
begitu: kelihatan kacau, tapi menampilkan sebuah harmoni. Seperti musik
jazz-lah! Saya masih teringat ketika saya iseng-iseng belajar melukis.
Ketika pertama kali berusaha menggambar obyek, saya mengira bentuk dan
warna obyek-obyek itu begitu teratur dan tertib. Tapi semakin dalam saya
mengamati obyek yang ingin saya lukis: sebatang pohon pisang misalnya, saya
menyadari betapa nampak kacau bentuk dan warna segala sesuatu. Ranting-ranting
pohon, daun-daun, batu-batu kerikil yang berserakan di tanah, awan putih, bulu
ayam... seolah semuanya nampak acak dan tidak mengikuti pola tertentu.
Namun dari 'kekacauan' tersebut, tercipta sebuah harmoni dan pemandangan
yang sedap dipandang mata: sawah ladang, sungai, gunung dan
awan.
Terdapat Kekuatan Luar Biasa (yang di dalam film
The Star Wars disebut sebagai The Force). Kekuatan yang sanggup menciptakan
harmoni dari kekacauan. Dan konon pada mulanya bumi pun tak
berbentuk dan kosong...
The earth was formless and void, and darkness
was over the surface of the deep, and the Spirit of God was moving over the
surface of the waters. (Genesis 1:2, NASB).
Salam,
****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ******************************************************
SPONSORED LINKS
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe __,_._,___ |
