Ada otokritik dari cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid. Menurutnya, 
dewasa ini dunia Islam praktis merupakan kawasan bumi yang paling 
terbelakang di antara penganut agama-agama besar. Negeri-negeri Islam 
jauh tertinggal oleh Eropa Utara, Amerika Utara, Australia dan 
Selandia Baru yang Protestan, oleh Eropa Selatan dan Amerika Selatan 
yang Katolik Romawi, oleh Eropa Timur yang Katolik Ortodoks, oleh 
Israel yang Yahudi, oleh India yang Hindu, oleh China, oleh Korea 
Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura yang Budhis-Konfusianis, 
oleh Jepang yang Budhis-Taois, dan oleh Thailand yang Budhis. Praktis 
tidak satu pun agama besar di muka bumi ini yang lebih rendah 
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya daripada Islam. Dengan 
perkataan lain, di antara semua penganut agama besar di muka bumi 
ini, para pemeluk Islam adalah yang paling rendah dan lemah dalam hal 
sains dan teknologi. Demikian ungkap Cak Nur (Kaki Langit Peradaban, 
1997). 

Pernyataan menyedihkan dari cendekiawan Muslim kita itu menjadi 
ironis tatakala dalam literatur sejarah Islam pernah tertoreh nama 
emas seperti al-Khawarizmi Bapak Aljabar, Ibn Haitsam Bapak Optik, al-
Biruni jenius tokoh besar eksperimental, Umar Khayyam penyair yang 
merintis geometri analitik, al-Thusi sebagai teolog, matematikawan, 
astronom dan banyak lagi ilmuwan muslim lainnya semisal –yang umum 
kita kenal seperti al-Kindi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd.

Mengapa kemerosotan itu terjadi? "Etos keilmuan umat Islam mengalami 
kemerosotan yang drastis ketika teologi dan epistemologi yang umumnya 
dianut oleh umat dan secara formal diresmikan penguasa ketika itu 
adalah bercorak irasional, dikotomis, ekslusif, parsial, anti-kosmik 
dan anti-tropik," kata Husain Heriyanto dalam seminar Filsafat, Sains 
dan Agama oleh Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI) Depok (yg 
diadakan beberapa tahun silam –webmaster). Contoh prinsip teologi dan 
epistemologi tersebut, adalah penolakan terhadap hukum kausalitas. 
Penolakan terhadap hukum rasional primer ini tentu saja merubuhkan 
landasan utama eksistensi sains, karena setiap landasan ilmiah 
berlandaskan pada prinsip kausalitas tersebut. Nah, sejak teologi dan 
epistemologi yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar 
pengembangan sains dan teknologi tersebut menguasai pola pikir umat, 
maka aktivitas-aktivitas ilmiah umat Islam benar-benar pudar, sekarat 
dan digantikan dengan aktivitas-aktivitas ritual-formal yang tidak 
mendorong kreativitas intelektual umat.

Teologi ortodoks ini, demikian menurut istilah Husein, sangat 
menekankan kemisteriusan Tuhan, kegelapan akan zat, sifat dan 
perbuatan-Nya yang sama sekali tak dipahami oleh akal pikiran 
manusia, dan keterjangkauan Tuhan sedikit saja dari pengenalan oleh 
kesadaran kemanusiaan. Pandangan kemisteriusan Tuhan tersebut 
mempunyai dua konsep fundamental yaitu qudrat (kekuasaan) dan iradat 
(kehendak). Pemahaman iradat Tuhan yang dianut teologi ortodoks 
adalah irasionalitas. Bahwa kehendak Tuhan itu sama sekali di luar 
jangkauan pemahaman rasio manusia. Tujuan penciptaan alam semesta, 
misalnya, tidak dapat dipahami oleh akal pikiran dan tak terjelaskan 
oleh akal manusia.

Pemikiran teologi yang bercorak seperti ini, ada dua tokohnya yang 
terkenal seperti al-Ghazali dan Asy'ari yang menganggap sifat dan 
perbuatan Tuhan itu irasional. Dengan demikian, pandangan teologi ini 
akan mereduksi dan dapat mematikan daya kreativitas dan intelektual 
manuisia,.

Jelas jika teologi semacam ini dipertahankan akan mengakibatkan 
kemerosotan dalam hal intelektual. Sudah seyogyanya dicari sebuah 
teologi yang mampu memberikan daya dorong terhadap pengembangan 
intelektual umat. Teologi yang coba ditawarkan untuk merelasikan 
keimanan dan sains adalah sebuah teologi yang memandang bahwa kajian 
terhdap alam merupakan jalan menuju pengenalan terhadap Tuhan. Ini 
berimplikasi kepada pengetian bahwa penyingkapan potensi-potensi 
kemanusiaan, alih-alih dipandang sebagai penentangan Tuhan 
sebagaimana yang dipersepsi oleh penganut teologi ortodoks, justru 
merupakan jalan atau cara yang teintegrasi secara organis dalam 
perjalanan menuju Tuhan.

Sebagaimana kata Iqbal, manusia yang paling bebas dan mulia adalah 
manusia yang paling dekat dengan Allah, karena Allah sumber kemuliaan 
dan kebebasan. Begitu pun mestinya, orang yang semakin dekat dengan 
Allah mestinya semakin kreatif, dan cenderung kepada ilmu pengetahuan 
dan kebijaksanaan, karena Tuhan adalah zat kreatif (pencipta), Maha 
Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Implikasi dari teologi dengan metodologi ini adalah secara ontologis 
kajian alam kosmos dan manusia menjadi bagian integral dan organis 
dalam pengenalan Tuhan. Dari aspek epistemologis akan menjamin 
pendayagunaan rasionalitas, transparansi dan verifikasi yang kemudian 
secara aksiologis membuat tanggung jawab sebagai nilai utama karena 
berfikir adalah bertanggung jawab.

Dengan begitu, Husain Heriyanto menyimpulkan bahwa faktor pendorong 
sarjana fisikawan Muslim klasik menekuni studi-studi fisika tidak 
terlepas dari pandangan dunia tauhid yang melihat alam raya sebagai 
tanda-tanda Tuhan. Meneliti alam adalah suatu ibadah sebagaimana 
halnya dengan membaca al-Qur'an.

Mempelajari alam dan al-Qur'an merupakan dua kegiatan ibadah untuk 
lebih mengenal Tuhan. Etos pengkajian alam dan wahyu adalah 
penyingkapan kebenaran. Oleh karena itu, para sarjana Muslim klasik 
sangat giat, tekun, dan kreatif mengembangkan studi terhadap fenomena-
fenomena. Bagi mereka, alam raya adalah anugerah Tuhan yang harus 
dikenal, dipelajari, ditelaah, dan dipahami sebagai jalan menuju 
pengenalan Tuhan. 

Menurut Seyyed Hossein Nasr, fisikawan seperti Ibnu Haitsam dan 
astronom ulung, Quthbuddin al-Syirazi yang meneliti sifat-sifat 
cahaya dan mengembangkan studi optik didorong oleh motivasi ilahiah 
dan filsafat iluminasi. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran, bahwa 
Allah menyebut dirinya sebagai an-Nur (Cahaya) dan yang diajarkan 
filsafat iluminasi bahwa alam semesta adalah pancaran manifestasi 
Cahaya Tuhan, maka mereka demikian bersemangat meneliti sifat dan 
karakter cahaya sebagai bagian dari upaya mengenal Tuhan[]

(Majalah 'Syiar' Edisi Oktober 2002) 
http://www.icc-jakarta.com

</wibi>

 




******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke