Suatu pagi di hari Minggu yang agak mendung tiba-tiba handphone
temenku berdering nyaring. Ternyata Sisi (istrinya) yang menelepon
dari Semarang. Berikut cuplikan diskusi kami:

    "Mas, kamu jangan niru Aa Gym ya?"

Dia berkata dengan nada bercanda. Tetapi aku tahu bahwa dia cukup
was-was juga.

"Tentang poligami itu ya? Emang kenapa? Boleh ngga aku berpoligami?"
Ya, aku sudah tahu bahwa kekuatiran istriku itu menyeruak kala
santernya berita Aa Gym menikah lagi. Dan aku yakin tidak hanya
istriku yang khawatir, tetapi berjuta-juta istri yang lain.

    "Weks… kamu boleh menikah lagi tapi kupotong-potong dulu anumu dan
kusate, biar tahu rasa."

Itulah jawaban dari Sisi yang gemas sambil (tentu saja) becanda.


Terus terang jawaban Sisi ini meniru kata-kata sadis kakak sulungku
ketika menanggapi guyon suaminya tentang poligami. Maklum, bukan kali
ini saja ada keramaian tentang poligami. Sebelumnya sudah ada. Bukan
hanya sekali, tetapi berkali-kali. Dan biasanya banyak suami menjadi
terinspirasi untuk berpoligami.
Kampanye Poligami

Mungkin kita masih ingat beberapa waktu yang lalu ketika ada seseorang
yang mengkampanyekan poligami. Ya, dia adalah pemilik RM Wong Solo
yang terkenal itu. Dengan dibantu Neno Warisman mereka mengkampanyekan
poligami. Tidak hanya itu, mereka bahkan membuat Poligami Award yang
tentu saja dimenangkan oleh Wong Solo itu (weks… KKN ya?).

Setelah sukses dengan bisnis rumah makan dan Poligami Award-nya,
gerakan pemilik Wong Solo ini tidak berhenti begitu saja. Dengan
bangganya dia menerbitkan Tabloid Poligami. Kampanye bisnis atau
kampanye poligami? Keduanya dapat ditemukan di tabloid tersebut.

Ketika beberapa waktu yang lalu karena terpaksa aku dan bos menjamu
tamu dari luar Jawa ke RM Wong Solo, kami mendapati sebuah menu khas
poligami di sana, yaitu "Jus Poligami." Sejujurnya bukan tujuan kami
mengajak para tamu ke RM Wong Solo. Tetapi hanya karena sudah
kemalaman dan sudah berputar-putar mencari restoran dan kebanyakan
telah tutup dan kami mendapati hanya RM Wong Solo yang masih buka,
maka dengan terpaksa kami makan di situ. Tetapi rupanya para tamu
cukup senang makan di sana. Mungkin bukan karena makanannya yang enak,
tetapi candaan tentang poligami yang membuat suasana jadi lebih meriah.

Salah satu becandaan kami adalah tentang jumlah cabang rumah makan
Wong Solo. Mengingat jumlahnya yang konon ada 12 (atau 14 ya?) di
seluruh Indonesia, mungkinkah pemiliknya memiliki jumlah istri
sebanyak itu? Tentu ini hanya becanda semata. Kami tahu bahwa RM Wong
Solo itu adalah bisnis franchise, jadi mungkin cabang-cabang itu tidak
dimiliki sendiri oleh pemilik Wong Solo, tetapi mungkin hanya
franchise saja.

Becandaan bertambah ketika kami memesan Jus Poligami. Mengapa
dinamakan Jus Poligami? Ketika ditanyakan kepada pelayan, jawabnya
ternyata karena jus tersebut dibuat dengan campuran 4 buah yang
berbeda. Keempatnya diblender dan menjadi sebuah jus. Lalu rasanya
bagaimana? Hihihi… kayak "nano-nano": manis-asam-pahit… ramai rasanya.
Poligamis Yang Terpuruk Oleh Sebuah Pertanyaan

Wong Solo yang tenar itu suatu saat menjadi tamu dalam acara Om Farhan
di salah satu stasiun TV nasional. Dengan penuh kebanggaan dia
bercerita tentang kesuksesannya mengelola bisnis dan rumah tangganya.
Yang lebih membanggakan adalah cerita sukses rumah tangganya bersama
beberapa istrinya. Sorry, aku lupa jumlah istrinya. Yang jelas lebih
dari 2, kayaknya sih 4. Bersama dengan Farhat (suami Nia) yang tampil
memukau dengan pembenaran poligaminya, rasanya mereka bakal berhasil
jika menjadi jurkam (juru kampanye) partai poligami.

Dalam acara itu juga ditampilkan artis wanita (lupa namanya) yang
tidak setuju dengan poligami. Yang jelas acaranya agak seru. Terjadi
saling silang pendapat. Kubu poligami setuju dan menyarankan poligami
dan yang satu mewakili kaum wanita dan tidak setuju dengan poligami.

[ Tambahan: Kalau aku menilai "agak seru" karena memang acara debatnya
"tidak terlalu seru". Mengapa? Karena sang artis anti poligaminya
beragama Kristiani yang tentu saja sesuai dengan ajaran Kristiani
tidak setuju poligami. Seharusnya wakil oposan diambil dari muslimah
yang tidak setuju dengan poligami sehingga debat sesuai dengan konteks
agama dan tidak bakal keluar dari ajaran Islami. Maklum, poligami ini
tidak diajarkan di agama Kristen. Jadi memanggil tokoh anti poligami
pria beragama Kristen pun bakal sama pendapatnya, yaitu sama-sama anti
poligami, alias tidak harus dari kaum wanita saja. ]

Betapa nampaknya kebanggaan Wong Solo itu dan bercerita dengan jumawa
bahwa para istrinya dapat menerimanya dan dapat hidup dengan rukun.
Tetapi seketika itu sebuah pertanyaan meruntuhkan kedua pelaku
poligami tersebut: "Apakah Anda meminta ijin terlebih dahulu pada
istri pertama (istri sebelumnya) untuk menikahi istri kedua dan
selanjutnya? Atau Anda menikahi istri selanjutnya dulu baru kemudian
minta ijin pada istri pertama (sebelumnya)?"

Untunglah kedua pelaku poligami itu sangat jujur dan berkata bahwa
mereka "menikahi istri kedua & selanjutnya terlebih dahulu" baru
"meminta ijin" pada istri pertamanya. Hihihi… rupanya mereka menganut
azas "terlanjur" terlebih dahulu baru kemudian mencari "excuse". Tentu
ini bertentangan dengan aturan poligami yang "konon" sudah diatur,
yaitu bahwa untuk menikahi istri kedua dan seterusnya harus melalui
restu dari istri pertama (atau istri sebelum calon istri berikutnya).
Kesetaraan?

Jelas jawaban dari pelaku poligami yang bangga dengan praktek
poligaminya itu sangat menyudutkan kaum wanita, terutama istri mereka.
Walau pun akhirnya istri tersebut rela dimadu tetapi hanya karena
"sudah terlanjur" alias "terpaksa" karena sudah terjadi. Aku jadi
tidak yakin bahwa mereka benar-benar merestui suaminya berpoligami
jika para suaminya itu meminta ijin terlebih dahulu. Selain karena
alasan perasaan juga banyak alasan yang bakal menjadi dasar keberatan
para istrinya, misalnya tentang anak-anak, kebersamaan, rejeki, dan
lain-lain.

Tetapi melihat fakta tersebut, tampak bahwa kehadiran istri pertama
mereka itu tidak dianggap sebagai istri yang sejatinya memiliki
kesetaraan dalam kehidupan berumah tangga. Seharusnya para istri ini
adalah mitra suami dalam kehidapan mereka. Tetapi malah mereka
dimarginalkan dengan tidak diajak berdiskusi tentang langkah-langkah
sang suami. Dan sang suami langsung main "hantam kromo" menikahi
wanita lain tanpa sepengetahuan sang istri. Setelah "terlanjur" dengan
"sengaja" barulah sang suami berterus terang kepada sang istri.

Sedihkah sang istri? Pastilah! Walau pun sang suami penuh kebanggaan
memamerkan istri-istrinya di depan publik, dan mengaku bahwa para
istrinya dapat hidup berdampingan dengan ruku, tetapi bagaimana dengan
perasaan istri pertamanya yang sesungguhnya?
Ketika Sang Tokoh Berpoligami

Ketika Wong Solo itu secara perlahan meredup pamornya, kini dunia
poligami santer dengan hadirnya seorang poligamis baru, yaitu Aa
Gymnastiar. Tidak hanya dunia agama yang heboh, dunia entertainment
pun heboh luar biasa. Maklum, Sang Tokoh ini sangat dikagumi
orang-orang Indonesia, tidak hanya penganut Islam, tetapi juga
penganut ajaran/agama lain. Sang Tokoh dengan ajaran kasih sayangnya
itu memang "agak berbeda" dengan para da'i kondang lainnya. Pendekatan
dan ajarannya yang "agak berbeda" ini justru menjadikannya dapat
diterima semua orang dari segala lapisan, golongan, kelamin bahkan
agama. Alhasil tidak hanya banyak orang menjadikannya panutan tetapi
juga banyak penganut ajaran/agama lain turut belajar darinya.

Apa yang terjadi ketika Sang Tokoh ini berpoligami? Hehehe… yang jelas
lebih menginspirasi para suami. Tidaknya hanya para suami muslim, juga
para suami non-muslim. Kalau Wong Solo itu kurang cukup menginspirasi
para suami hanya karena omongannya yang sering nggak jelas, tanpa arah
dan nggak lancar, lalu bagaimana dengan Sang Tokoh ini yang
jelas-jelas omongannya bagaikan sabda dan penuh wibawa?

Syukurlah bahwa Sang Tokoh ini cukup arif dan bijaksana terutama dalam
berkomentar dan memberi penjelasan. Sang Tokoh juga telah meminta maaf
kepada para umat (-nya) karena dia hanya manusia dan bukan manusia
sempurna. Dia juga meminta agar tindakannya berpoligami tidak menjadi
contoh bagi para suami untuk berpoligami. Jadi, walau pun berpoligami,
Sang Tokoh berpesan agar tindakannya itu tidak diteladani alias jangan
ditiru.

Lho? Bagaimana mungkin? Bukankah Sang Tokoh itu selalu memberikan
pengajaran yang luar biasa? Bukannya jarang, tetapi sering sekali dan
rutin Sang Tokoh tampil di stasiun TV atau pada acara-acara khusus
keagamaan untuk memberikan pelajaran kehidupan dan beragama, termasuk
kehidupan dalam berumah tangga. Bahkan dulu Sang Tokoh sempat ditanya,
apakah beliau juga akan berpoligami? Dan waktu itu doi hanya berkata
bahwa dia tidak akan berpoligami karena sudah cukup berbahagia dengan
keluarganya. Berarti Sang Tokoh sudah berubah pikiran. Semoga Sang
Tokoh tidak berubah ajaran ya?
Poligami Sebagai Senjata Para Suami

Saya yakin dampak dari berpoligaminya Sang Tokoh bakal sangat luar
biasa. Para suami bakal dapat pembenaran kecenderungan perilaku
poligaminya. Dan para istri bakal ketar-ketir akan tingkah laku dan
kecenderungan para suaminya. Lha wong Song Tokoh yang notabene idola
itu pun berpoligami padahal semua kata-katanya itu penuh ajaran, tentu
saja perilakunya pun dianggap sebagai teladan bagi para pengikutnya.

Minggu sore ini aku menyempatkan diri menelepon Sisi dan berkata:
"Jangan suka rewel ya? Kalau nggak, kamu akan kupoligami." Hihihi…
poligami juga dapat menjadi senjata bagi para suami.

Salam.



******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke