Herodotus menceritakan mengenai kebudayaan yang berbeda mempunyai 
kode moral yang berbeda pula. 

Apa yang dianggap benar oleh satu kelompok mungkin justru menjijikkan 
bagi anggota dari kelompok lain, dan sebaliknya. 

Harus kah kita makan jenazah orang atau membakarnya ? 

Jikalau orang Yunani, maka mereka akan membakar jenazah orang tua 
yang meninggal. Namun jikalau orang Callatia (salah satu suku bangsa 
India), mereka biasanya memakan jenazah orang tuanya ketika 
meninggal. 

Sehingga jikalau beranggapan konsep kita tentang yang benar dan yang 
salah harus dianut oleh semua orang lain dan untuk segala zaman, kita 
menjadi naif. 

Sosiolog William Graham Sumner menulis, bahwa jalan yang benar adalah 
jalan yang ditempuh oleh para pendahulu dan yang telah diturunkan. 
Tradisi itu menjadi pembenaran dirinya sendiri. 

Kebudayaan yang berbeda mempunyai kode2 moral yang berbeda. Karenanya 
tak ada kebenaran objektif dalam moralitas. 
Benar atau salah hanyalah soal pandangan. 

Dalam sebuah kebudayaan di mana orang yakin bahwa makan (daging) sapi 
adalah tindakan keliru -- walau tidak ada makanan cukup, sapi tetap 
tidak boleh disentuh --, tampaknya mempunyai nilai2 sangat berbeda. 
Namun benarkah demikian ? 

Mereka menjawab bahwa mereka percaya sesudah kematian jiwa manusia 
tinggal dalam badan binatang terutama sapi, maka seekor sapi bisa 
jadi adalah nenek seseorang. 

Dapatkah kita mengatakan bahwa nilai2 mereka berbeda dari kita ? 
Tidak. Sebab kita setuju bahwa kita tidak akan makan nenek kita 
sendiri. 

Perbedaan itu terletak dalam sistem kepercayaan, bukan pada nilai2. 
Kita hanya berbeda dalam kepercayaan bahwa sapi itu adalah (bisa 
jadi) nenek kita. 

Ada nilai2 moral yang bagaimanapun sistem kepercayaan kita, dianut 
secara bersama2 oleh semua masyarakat. Misalnya nilai untuk melawan 
kebohongan dan pembunuhan. 

Kebudayaan2 boleh jadi berbeda mengenai apa yang dipandang sebagai 
kekecualian yang sah dari aturan, namun perbedaan ini 
dilatarbelakangai oleh kesamaan mengenai nilai2 lain yang lebih 
besar. 

Socrates yang skeptis bertanya, apakah perilaku seseorang itu benar 
karena dewa2 memerintahkannya, ataukah dewa2 memerintahkan hal itu 
karena hal itu benar ? 

Tentu saja karena hal itu memang benar. 

Mencoba melihat dunia secara jelas, dari sudut pandangan nilai moral. 
Menjadi terbuka namun selektif, kritis, suatu pandangan yang sejati, 
karena banyak praktek dan sikap yang kita anggap begitu wajar 
ternyata hanya hasil kultural. Terkadang kita melakukan kekeliruan 
dalam penilaian kita. 

Bagaimana menemukan nilai ? 

Tentu saja dengan me-refleksikan ke dalam diri sendiri, dan menemukan 
suatu perasaan "ketidaknyamanan" yang muncul dalam diri. 
Itulah fakta yang sesungguhnya ; perasaan (David Hume)

Dan tentu saja, kita akan memulai suatu perkenalan dengan sikap 
terbuka di atas.

Siapa nama mu ? Ya, betul. Who Am I.






******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke