Sebuah tulisan mengingatkan saya pada legenda sangkuriang. Legenda ini
bukan hanya sebentuk cerita, tapi juga merupakan siloka/ metafor yang
menggambarkan bagaimana masyarakat sunda wiwitan memandang dirinya
sendiri.

Sangkuriang berasal dari kata Sang Kuring/ Ingsun yang berarti aku/
sang aku. Dialah pemeran utama dalam cerita ini. Ingsun adalah
gambaran manusia sebagai individu-individu. Dalam legenda Sangkuriang,
Orang tua/ penyebab kelahiran Sangkuriang adalah Dayang Sumbi dan Si
Tumang, seekor angjing hitam berekor kuning.

Tumang berasal dari bahasa kawi yang artinya dapuran api/ tungku,
mengandung makna hawa nafsu. Sementara Dayang Sumbi terdiri dari dua
kata. Dayang adalah sebutan untuk perempuan, arti lainnya adalah
Dangiang/ danghyang, yaitu sejenis lelembut. Sementara Sumbi artinya
tajam dalam pertimbangan (sing seukeut nya nimbang), dan kalau
dipisah, kata ini berasal dari penggalan sum (sumsum=saripati)
bi(perempuan=ibu pertiwi=bumi).
Jadi, Dayang Sumbi mengandung arti harus tajam dalam menimbang, halus
dalam meraba hati dan rasa. Harus mengetahui secara teliti bahwa wujud
diri hakekatnya berasal dari saripati tanah.

Sangkuriang lahir melalui Dayang Sumbi yang menikahi Tumang setelah
sumpah yang terlanjur terucap. Dari kisah itu, siloka yang
tersampaikan adalah bahwa Ingsun terlahir ke dunia atas dua unsur,
saripati bumi dan hawa nafsu. Wujud serta kehendak. Selama hidupnya Si
Tumang selalu mengikuti Sangkuriang. Hal ini memperlihatkan bagaimana
nafsu selalu mengikuti Ingsun. Namun Ingsun melihat wujudnya yang
merupakan perwujudan Sumbi dan selalu tergerak untuk membahagiakan
wujudnya (sebagaimana manusia bekerja dan berusaha untuk selalu
memenuhi kebutuhan jasadiahnya). Sehingga Tumang terbunuh dalam upaya
pemenuhan keinginan Wujud tersebut. Dayang Sumbi sangat marah pada
tindakan Sangkuriang yang membunuh Tumang (Wujud tak menghendaki
ketiadaan nafsu dalam Ingsun), walau ditujukan untuk membahagiakannya,
tapi tindakan Sangkuriang harus dibayar dengan pembelajaran berupa
pukulan di dahi yang meninggalkan bekas permanen, disini digambarkan
bahwa Ingsun harus menempuh rasa sakit untuk mendapat pengetahuan
(mungkin ini yang disebut pengalaman).

Dalam kepercayaan Sunda, Ingsun / Sang kuring bukan sifat lahir, juga
bukan sifat batin tapi yang dilahirkan dan dibatinkan. Ingsun adalah
zat yang berasal dari Yang Maha Suci dalam wujud manusia
"sa-kuring-kuring na" (setiap individu).

Ingsun lalu mengembara hanya ditemani bekas pukulan tersebut (
berbekal pengalaman), namun walaupun perjalanan ditempuh sejauh
apapun, akhirnya ia kembali pada hakekat wujudnya. Dayang Sumbi
diceritakan tetap tampak cantik walaupun sudah berusia tua. Ini
melambangkan bagaimana manusia begitu mencintai wujudnya dan
seringkali tak berkehendak untuk meninggalkan wujudnya. Hal ini
mendorong Ingsun untuk menunggal dengan wujud. 

Walau demikian kecintaan berlebihan pada wujud tidaklah dibenarkan
(ini mengingatkan saya pada legenda narcis yang jatuh cinta pada
bayangannya sendiri). Hal ini membuat Dayang Sumbi menetapkan syarat
yang sangat berat. Sekali lagi Ingsun dihadapkan pada kehendak wujud
yang seringkali tak masuk akal. Sebuah perahu harus siap untuk
dilayarkan di danau Bandung yang luas. Dalam melaksanakan keinginan
wujud tersebut, Ingsun dibantu oleh Guriang tujuh  (=Guru Hyang
Tujuh), yang maksudnya tujuh pengawal Ingsun yang diciptakan bagi
dirinya ; kekuasaan, kehendak, nafas, pendengaran, penglihatan, ucap
dan penciuman.

Namun  Dayang Sumbi menggagalkan usaha Sangkuriang dengan
membentangkan karembong dan daun kingkilaban sehingga ayam jago
menyangka hari sudah pagi.  Dalam ajaran sunda wiwitan, ada tiga unsur
dalam diri manusia yang bisa berkuasa pada perintah diri yaitu
kekuatan akal, kekuatan rasa, dan kekuatan jati Ingsun. 
Bila ketiga unsur tersebut dapat dikuasai untuk menemukan hakekat
diri, maka walaupun tak dapat bersatu dengan jasad namun Ingsun tetap
dapat mengarungi danau kehidupan . Namun bila ketiga unsur itu justru
menguasai Ingsun, maka amarahlah yang tercipta hingga akhirnya perahu
tak dapat dikendarai karena terbalik oleh tendangan Sangkuriang.

Mungkin itu cuma dugaan, tapi semua orang memang hanya menduga-duga...kan?

Caaaag ah...
(nembe 'cenah')




******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke