|
Sering
kali aku berkata, ketika orang memuji
milikku, bahwa sesungguhnya
ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya
titipan Nya, bahwa rumahku hanya
titipan Nya, bahwa hartaku hanya
titipan Nya, bahwa putraku hanya
titipan Nya, tetapi, mengapa aku tak
pernah bertanya, mengapa Dia
menitipkan padaku? Untuk apa Dia
menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus
kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya ? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai
musibah, kusebut itu sebagai
ujian, kusebut itu sebagai
petaka, kusebut dengan
panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita. Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang
cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin
lebih banyak harta, ingin lebih banyak
mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah ... semua
"derita" adalah hukuman bagiku. Seolah ... keadilan dan kasih
Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah
derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia
kerap menghampiriku. Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas "perlakuan
baikku", dan
menolak keputusanNya yang tak sesuai
keinginanku, Gusti, padahal tiap hari
kuucapkan, hidup dan matiku
hanyalah untuk beribadah... "ketika langit
dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja" (WS Rendra). Kindest
regards, nobody
but friend |
_______________________________________________ formiskat mailing list [email protected] http://groups.plnkalbar.co.id/mailman/listinfo/formiskat
