Pers, Demokrasi dan Perubahan China
Oleh: Fadjar Pratikto*

China merupakan negara yang paling garang menghadapi
penulis internet. Saat ini, 50 orang blogger mendekam
di penjara Cina. Demikian tercatat dalam laporan akhir
tahun organisasi "Wartawan Lintas Batas" yang
dipublikasi awal tahun 2007 ini. Laporan ini
memperkuat kenyataan adanya pembungkaman pers di
negara komunis yang sistem ekonominya kapitalistik.
(lihat
http://www2.dw-world.de/indonesia/Politik_Wirtschaft/1.212435.1.html)

Sebelumnya Organisasi Reporters Sans Frontieres (RSF)
yang berkedudukan di Paris pada 4 Januari 2006 silam
juga melaporkan bahwa kasus penahanan terhadap
wartawan sepanjang tahun 2005 paling banyak terjadi di
China. (Kompas, 5 Januari 2006). Data yang dikumpulkan
organisasi reporter lintas negara itu menunjukan
sampai 1 Januari 2006 lalu, jumlah wartawan yang
ditahan di negara komunis itu sebanyak 32 orang.
Jumlah itu bisa lebih besar mengingat rejim komunis
China sangat pandai dalam menutupi kasus. 

Laporan RSF tersebut sebenarnya bukan hal baru. Selama
rejim komunis China berkuasa, media dikendalikan
secara ketat sesuai kepentingan partai. Berbagai kasus
dengan korban wartawan seringkali terjadi, tidak hanya
penahanan, namun juga teror terhadap pimpinan media
yang mengkritik kebijakan Partai Komunis China (PKC).
Pembredelan dan penyitaan terhadap media juga biasa
dilakukan. Tahun lalu bahkan menurut laporan kantor
berita Xinhua, sebanyak 79 surat kabar telah
dibrangus, dan 169 juta penerbitan disita,  (Kompas,
19 Januari 2006).

Perlakuan yang dialami wartawan di China, bagaimanapun
menggambarkan masih terkekangnya kebebasan pers.
Padahal kebebasan pers adalah salah satu tolak ukur
perkembangan demokrasi di suatu negara. Biasanya
semakin bebas pers, semakin demokratis negara
tersebut. Begitu juga sebaliknya, semakin pers
dikekang, negara itu  semakin jauh dari demokrasi.
Sudah bisa dipastikan sistem politiknya otoriterian,
atau totaliter. Sebab tidak memberi kesempatan pada
pers untuk menjalankan misi sejarahnya sebagai alat
kontrol sosial.

Tulisan ini mencoba mengupas kondisi pers di negara
komunis China yang terbelenggu, serta bagaimana rejim
komunis menghadapi pers alternatif yang beredar di
luar Daratan. Sebuah ironisme sejarah di tengah
“kejayaan” pertumbuhan ekonomi negara itu yang maju
pesat. 

Corong Partai
Seperti umumnya di negara yang menganut ideologi
komunis, kebebasan pers menjadi barang yang langka di
negeri China. Sistem totaliter yang sangat represif 
membuat semua media harus tunduk di bawah kendali
partai. Semua pemberitaan harus sejalan dengan garis
politik PKC, yang disensor oleh Departemen Propaganda.
Selain sejumlah media baik cetak maupun elektronik
yang sengaja didirikan partai untuk menyokong agitasi
propaganda mereka, pengendalian secara ketat pun
dilakukan terhadap media swasta.

Seiring dengan reformasi ekonomi yang digulirkan oleh
Deng Xioping, celah demokrasi sempat terbuka sedikit.
Hal itu ditandai dengan munculnya kelas menengah yang
independen, dan semakin kritisnya mahasiswa, serta
keberanian pers untuk mengungkap fakta. Realitasnya
setelah peristiwa pembantaian mahasiswa di lapangan
Tianamen pada 4 Juni 1989, celah demokrasi ditutup
rapat kembali. PKC pun kembali menunjukan watak
hakikinya. Sejak itu, pers bak macan ompong yang tidak
memiliki gairah lagi untuk menyuarakan kebenaran.

Sebagai contoh dalam kasus Falun Gong. Media massa
baik elektronik maupun cetak di China sangat berperan
besar dalam mengelabui masyarakat berkaitan dengan
berita-beritanya yang menyesatkan tentang pelarangan
Falun Gong. Mereka tidak menempatkan diri sebagai
suatu media yang independen, yang betul-betul obyektif
dalam mengungkap masalah ini. Lebih tepatnya mereka
hanyalah corong dari penguasa komunis di bawah kendali
Jiang Zemin. 

Paling menyolok peran mereka dalam kasus “bakar diri”
di lapangan Tiananmen, Beijing pada 23 Januari 2001
lalu yang menggemparkan dunia. Kasus yang secara nyata
merupakan rekayasa ini, diberitakan oleh Xinhua dan
stasiun TV resmi pemerintah pusat CCTV, sebagai
kebenaran—tanpa suatu penyelidikan. Dan, justru dari
tayangan CCTV yang janggal itulah terbongkar kedok
mereka. Pada 2 Pebruari 2001, Washington Post Philip
P. Pan menurunkan hasil investigasinya yang
bertentangan dengan laporan kedua media komunis itu.
Belakangan organisasi pengembangan pendidikan
internasional PBB (IED) pada 2001 mengeluarkan
pernyataan bahwa, “Pihak penguasa Tiongkok mencoba
mempergunakan peristiwa bakar diri di lapangan
Tiananmen untuk memfitnah Falun Gong.” 

Di tengah padang tandus itu, ada segelintir penerbitan
yang berani membela kebenaran. Belum lama ini, BBC
melaporkan kasus pemecatan Yang Bin, pemimpin redaksi
The Beizing News, bersama dua editor seniornya. 
(Laporan radio BBC, 3 Januari 2006). Selama ini, koran
ini telah menerbitkan berita yang cukup kritis
terhadap pemerintah setempat. Bulan Juni 2005 lalu,
koran ini membeberkan penindasan berdarah yang dialami
petani di Dingzhou, Propinsi Hebei, China utara. Enam
petani terbunuh dalam insiden ini. 

Keberanian The Beizing News tersebut telah merisaukan
pejabat sensor di Partai Komunis, yang secara
tradisional memegang kendali yang ketat atas semua
media. PKC akhirnya mengambil tindakan untuk
mengendalikan koran tersebut. Koran itu tetap terbit,
namun banyak berita diambil dari laporan kantor berita
Xinhua milik partai, bukan hasil liputan sendiri.
Masalah ini menunjukan pergulatan yang semakin seru
dalam mengendalikan pemberitaan. Buntutnya, sekitar
100 staff koran itu mogok kerja memprotes kebijakan
itu pada 3 Januari 2006 lalu.

Pers Alternatif
Di bawah sistem totalitarian yang secara ketat
mengendalikan media, muncul pers alternatif yang
secara berani mengungkapkan kebenaran dan keadilan,
serta mendorong demokratisasi. Salah satu media cetak
yang memiliki sikap kritis itu adalah Dajiyuan. Sejak
Juli 2000, Dajiyuan mulai beroperasi di Beijing atas
usaha sekelompok orang yang mendedikasikan dirinya
sebagai jurnalis independen. Tanpa rasa takut, koran
ini membongkar berbagai kasus pelanggaran HAM termasuk
penganiayaan yang dialami praktisi Falun Gong. 

Dalam jangka waktu 3–4 tahun, koran di bawah jaringan
Dajiyuan telah menjadi media Mandarin yang sangat
berpengaruh. Pada 2001 dengan keluarnya versi bahasa
Korea, koran ini berkembang pesat, dan mulai
diterbitkan dalam beberapa bahasa. Koran Dajiyuan
dalam bahasa inggris—The Epoch Times diterbitkan pada
2004, yang disebarkan di wilayah Amerika, Kanada,
Australia, Inggris dan Singapore. Sampai 2005,
Dajiyuan telah menjadi media multi bahasa yang
penyebarannya paling luas di dunia yang mencakup 28
negara.

Perkembangan koran ini yang begitu pesat membuat
penguasa komunis China kebakaran jenggot. Karena itu,
dengan berbagai upaya,berusaha mengganggu penerbitan
ini. Bentuk gangguan itu tidak hanya teror terhadap
wartawannya khususnya yang di Daratan China, namun
juga termasuk pencurian koran, intimidasi dan tekanan
terhadap pemasang iklan, serta keluarga wartawan. 

Sejak 16 Desember 2000, lebih dari 90 staff Dajiyuan
telah menjadi sasaran penyelidikan Kementrian Keamanan
Nasional, dan lebih dari 30 orang telah ditangkap.
Sedikitnya puluhan wartawan Dajiyuan telah dijatuhi
hukuman penjara selama 3-10 tahun. Mereka antara lain:
Zhang Yuhui, Meng Jun dan Shi Shaoping yang dituntut
hukuman penjara 10 tahun, serta Huang Kui yang
dituntut hukuman 5 tahun. Beberapa diantaranya dikirim
ke kamp kerja paksa. Kebanyakan dari mereka adalah
para intelektual lulusan universitas ternama.

Wartawan asing tak luput dari pengendalian. Pada April
2004 lalu, penguasa  komunis menangkap Ching Cheong,
koresponden The Straits Times Singapura yang bertugas
di Hongkong. Ia dituduh sebagai mata-mata.
Kenyataanya, penangkapan itu berhubungan dengan
upayanya memperoleh dokumen pembicaraan almarhum Zhao
Zhiyang, bekas Perdana Menteri China yang menjalani
tahanan rumah setelah tragedi di lapangan Tiananmen
1989. 

Tidak hanya media cetak, media elektronik juga
mengalami hal yang sama.Dunia cyber pun tak lepas dari
kontrol. Penggunaan internet di China dipantau secara
ketat oleh polisi cyber yang populer dengan sebutan
“The Great Firewall of China". Satuan polisi ini
bertugas memantau dan mensensor kegiatan akses
internet selama 24 jam sehari. Untuk kepentingan itu,
bahkan mereka membeli saham Yahoo dan Google,
perusahaan provider internet terbesar di dunia. 

Dalam versi  Mandarin-nya, perusahaan search engine
tersebut menyensor kata-kata serta topik yang dianggap
”subversif” di China seperti “demokrasi”, “kebebasan”,
“Hak Azasi Manusia”, Dalai Lama, “Falun Gong” dll.
Bahkan Microsoft, perusahaan perangkat lunak terbesar
dengan portal internetnya “MSN Spaces” demi
kepentingan ekonomi sesaat mematuhi sensor yang
diterapkan PKC. (Loren Baker di
www.searchenginejournal.com, 14 Januari 2006)

Bukan hanya itu. Siaran stasiun televisi satelit
berbahasa Mandarin, New Tang Dinasty Television
(NTDTV) yang menjangkau seluruh dunia termasuk Asia
juga sempat diganggu. Dalam sejarah China, stasin TV
yang berpusat di New York ini adalah media elektronik
pertama yang memberikan informasi secara bebas dan
obyektif. Menurut data statistik 3 tahun yang lalu di
Daratan China ada sekitar 30-40 juta satellite
receiver, sekarang tentu lebih banyak lagi, di
beberapa tempat bahkan setiap rumah ada satellite
receiver. Dengan demikian, NTD dapat mengcover
mayoritas daerah di China, jika rata-rata setiap
receiver mempunyai 5 penonton, maka ada sekitar 300
juta penonton yang potensial.

Siaran NTD adalah satu-satunya stasiun televisi yang
tidak dapat diblokir oleh pemerintah China, sepanjang
W5 menyiarkan program NTD, maka pemerintah China tidak
bisa membendung.  Pada saat tokoh politik Zhao Ziyang
meninggal, beberapa channel TV HK yang bisa diterima
oleh pejabat tingkat tinggi di Guangdong bahkan
diblock. Sebaliknya mereka menerima siaran NTD yang
memberitakan meninggalnya Zhao disertai analisa
kritisnya.

Kenyataan itulah yang membuat rejim komunis China
berusaha dengan segala cara seperti ekonomi,
diplomatic dan politik  untuk menghentikan Eutelsat
yang menyiarkan program NTD.  (Lihat www.boxun.com, 15
Maret 2005). Selama ini TV satelit ini menggunakan
jasa Eutelsat. Atas tekanan penguasa China, perusahaan
penyedia pemancar satelit milik Eropa ini, sempat
berencana mengakhiri kontrak kerjasama pada 15 April
2004 tanpa alasan yang jelas. Belakangan karena
banyaknya petisi dan dukungan dari seluruh dunia,
kontrak tersebut akhirnya diperpanjang. Kini, stasiun
televisi ini terus berkembang dengan berita-berita dan
analisanya yang tajam mengenai situasi China.

Tiongkok Baru
Berbagai kasus pengekangan dan pembrangusan terhadap
media massa di China, sudah lama menjadi perhatian
organisasi asosiasi jurnalis internasional, seperti
RSF. Kelompok-kelompok HAM juga terus mengecam
perlakuan buruk terhadap jurnalis di negeri itu.
Selain kasus penahanan terhadap sejumlah wartawan,
penguasa komunis juga dikritik atas tindakannya yang
mengendalikan sumber-sumber informasi dengan ketat,
seperti buku dan internet. 

Kecaman dunia internasional terhadap masalah kebebasan
pers di China, bagaimanapun telah memberikan semangat
juang bagi pers alternatif untuk memerankan misi
sejarahnya. Selama dekade terakhir ini, peran mereka
dalam mendorong proses demokratisasi dan perubahan di
negeri berpenduduk terpadat di dunia itu sangat besar.
Bahkan ada orang yang dengan gagah berani, berhasil
menyiarkan tayangan sela di stasiun TV resmi milik
penguasa komunis, mengenai situasi penindasan yang
terjadi di negeri itu selama beberapa menit.  

Sejumlah media alternatif secara aktif juga
memberitakan gerakan rakyat yang menuntut keadilan dan
demokrasi, penindasan terhadap kaum agamawan dan
pengikut Falun Gong, serta memuat statmen para tokoh
pembela HAM yang mulai bermunculan belakangan ini
seperti Gao Zisheng, Guo Guoting, Zhu Jiuhu, Li
Jianqiang, Guo Feixiong, dan Chen Guangcheng.  
 
Koran Dajiyuan dengan jaringan internasionalnya bahkan
telah mengkampanyekan pengunduran diri dari
keanggotaan PKC melalui laporan sisipannya yang telah
dibukukan dengan judul Jiuping, atau “Sembilan
Komentar Mengenai Partai Komunis”.  Saat ini bahkan
sudah hampir 20 juta anggota partai yang mengundurkan
diri, dan mereka yakin tak lama lagi PKC akan runtuh.
Dengan teknologi sederhana, tayangan sela tentang film
dokumentasi Jiuping bahkan pernah disiarkan di
sejumlah stasiun TV lokal di negeri Tirai Bambu itu.

Pengekangan terhadap kebebasan pers yang dilakukan
penguasa komunis China ternyata hanya efektif untuk
media setempat yang dikontrol secara langsung oleh
partai. Di luar itu, pers alternatif baik cetak maupun
elektronik dalam batasan tertentu masih bisa menembus
blokade media. Dengan demikian, peran pers alternatif
disini menjadi faktor yang sangat signifikan dalam
proses menuju demokratisasi dan perubahan politik di
Daratan China.

Bagaimanapun laju pertumbuhan ekonomi China yang pesat
telah menciptakan kelas menengah yang relatif
independen. Kaum terpelajar ini sudah biasa mengakses
segala informasi dari luar, sehingga relatif bisa
melihat kondisi yang terjadi di dalam negeri secara
obyektif. Tampilnya sejumlah kaum intelektual seperti
Professor Jiao Guobiao yang berani mengkritisi
kebijakan penguasa komunis China, adalah salah satu
bukti adanya kesadaran sosial. 

Bersamaan itu, warga di pedesaan yang mencakup hampir
800 juta orang yang tidak diuntungkan dalam
pembangunan ekonomi, yang dilanggar haknya, semakin
berani menyuarakan aspirasinya melakukan gerakan
protes sosial. Kasus reaksi perlawanan warga atas
penggusuran tanah secara paksa di Shanwei, dan
intervensi pemilihan kepala desa yang demokratis di
Taishi, Guandong beberapa bulan lalu adalah bukti
keberanian mereka.

Semangat demokratisasi dan perubahan nampaknya sudah
tak terbendung.. Seruan Dajiyuan atau The Epoch Times
agar rakyat melepaskan diri dari ikatan partai itu,
terus membahana. Di tempat-tempat keramaian,
jalan-jalan raya, bahkan di mata uang kertas muncul
banyak pernyataan pengunduran diri dari PKC. Tiongkok
baru tanpa partai komunis, kini menjadi harapan
sebagian besar rakyat di negeri berpenduduk terbesar
di dunia ini.*** 

Penulis adalah journalis senior dari Jakarta, kini
bekerja disebuah NGO di Aceh



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke