Rekan Rzain dan miliser FPK,
Untuk mengatasi banjir Jakarta, apakah tidak perlu suatu perlakuan terpadu, 
alias kombinasi-kombinasi yang fisibel, alias "MULTI TREATMENTS"? Umpamanya, 
kombinasi antara reboisasi daerah hulu, sumur2 resapan di daerah hulu, relokasi 
pemukiman yang menempati bantaran2 sungai yang kritis (Ciliwung, Cisadane, 
etc.), perampungan Banjir Kanal Timur, plus gagasan Bang Faisal Basri ( kruk 
muara dan normalisasi sungai), plus gagasan Menristek KK (revitalisasi sungai2 
purba di bawah permukaan tanah dan membuat waduk2 resapan), sumur2 resapan bagi 
pemukiman, perkantoran, apartemen, pertokoan dan bangunan lain2 di DKI. 
Ungkapan bahwa air kotor tidak boleh masuk ke dalam aquifer air tanah, adalah 
sangat rasional. Oleh karena itu, maka air kotor semestinya diberikan perlakuan 
pembersihan (secara fisik-mekanis) terlebih dahulu, setelah itu baru  
disuntikkan ke perut bumi.
Salam
IBA
  ----- Original Message ----- 
  From: rzain 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, March 02, 2007 2:52 PM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Atasi Banjir Jakarta


  Nampaknya pak KK terpukau oleh gagasan geolog. Kalau sungai purba 
  berupa rongga sudah sejak lama terisi dengan air tanah atau 
  barangkali sudah. Kalau belum, bagaimana menyuntikkan air banjir, 
  berapa daya tampungnya, berapa biayanya, dampak lingkungan sebab air 
  kotor tidak boleh masuk ke dalam aquifer air tanah dll kendala.
  Gagasan Ekonom Faisal Basri jauh lebih layak dan tehnis (kok tau die)
  bahwa untuk mengatasi banjir Jakarta keruk muara dan normalisasi 
  sungai.

  rzain

  

Kirim email ke