Pak Imron,

Komentar anda membingungkan saya, anda bilang UU Kewarganegaraan sudah 
diskriminatif sama anak-anak asli Indonesia, tapi kemudian anda JELAS-JELAS 
DISKRIMINATIF ma anak Indo, kesannya terus terang juga pernyataan anda pada ibu 
Ratih menjadi SANGAT TIDAK SOPAN DAN MELECEHKAN. Soalnya anda cuma 
mempertimbangkan urusan punya anak (terutama anak Indo) cuma dari segi materi 
dan bisnis? Kalau anda punya pikiran dan persepsi begitu jangan lantas 
dituduhkan atau disamaratakan pada orang lain. Lebih keterlaluan lagi anda 
bilang bu Ratih cengeng padahal sudah diistimewakan?

Apa sih yang diistimewakan dari mereka yang kawin antar bangsa dengan punya hak 
2 WN ganda? Apa bapak tidak sama sekali tahu selama ini mereka sering menjadi 
"korban" pemerasan para aparat yang mengurusi surat perpanjangan ijin tinggal? 
Memang semua yang kawin dengan orang asing lantas kaya raya? Gimana yang 
ditinggal mati/bercerai dan tidak ternafkahi secara baik?

Urusan jodoh itu sudah garis hidup yang ada pada setiap orang pak, kebetulan 
saja peraturan di Indonesia sangat patriarki bahkan karena dulu semua aturan 
kita masih produk peninggalan Belanda, maka akan selalu tidak menguntungkan 
buat orang Indonesia, terutama perempuan.  Peraturan lama kita tidak bisa 
secara otomatis perempuan langsung bisa minta anaknya jadi WNI, tapi sang anak 
otomatis ikut WN ayahnya, ini yang kemudian menyulitkan para ibu yang biasanya 
mengalami problem yang mengakibatkan mereka berpisah/bercerai dengan suaminya 
atau suaminya meninggal.

Pak Imron, pernyataan anda ini sama dengan statemen Jusuf Kalla yang 
menghebohkan itu ketika pidato saat acara Pariwisata, JK "menyarankan" depan 
para biro-biro jasa untuk mendukung wisata di daerah Puncak yang marak diikuti 
dengan kawin kontrak dengan orang asing (mayoritas Arab), kata JK ini pasti 
menguntungkan karena akan menghasilkan "keturunan yang lebih baik yaitu 
anak-anak cantik dan ganteng dan kelak bisa jadi pemain sinetron".

Pernyataan JK yang bodoh dan tidak pantas ini kemudian mendapat kecaman banyak 
pihak karena dinilai tidak menghormati nilai-nilai perkawinan, kehormatan 
terhadap nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan dan merendahkan martabat 
perempuan; kali ini diulang pak Imron mengulang dengan menertawakan lagi  
Ironisnya ini jadi bukan sekedar melecehkan bu Ratih dan orang-orang yang 
bernasib sama menikah dengan orang asing, tapi anda sudah melecehkan juga 
seolah-olah orang yang menikah dengan sesama Indonesia bisa dibilang "kurang 
bernasib baik" karena tidak punya bakat cantik dan ganteng, barangkali pintar.  
Jadi pak Imron sudah rasis nih, karena menganggap gen di luar Indonesia adalah 
mutlak lebih unggul.

Walau fenomena persinetronan dan keartisan kita ada diwarnai banyak wajah Indo, 
pasti orang tuanya dulu lantas mesti bercita-cita menjadikan anaknya harus 
terjun di bidang artis.  Toh jumlah muka asli Indonesia juga banyak dan tidak 
sedikit mengukir berprestasi lebih banyak.  Kalau sudah di dunia artis tidak 
Indo tidak ndeso pak,  kalau sudah pintar dan disenangi karena bakatnya ya 
bakal punya penggemar sendiri, lagi juga tampang biasa bisa lebih cantik dan 
ganteng karena kemudian dipoles make up dan didandani pantas, apalagi kalau 
sudah ada penghasilan baik maka otomatis penampilan semua orang bisa lebih 
menarik.  Lihat aja wajah manis Desi Ratnasari, Rina Hasyim, Nani Wijaya; semua 
asli turunan Indonesia.  Ingat juga Mandra, Tukul, Omas, Ratmi B29, Benyamin S, 
Jaja Miharja; orang bilang wajah mereka ndeso, tapi karena bakat artisnya ada 
ya iso ngetop rek. Jadi soal tampang Indo, asli Indonesia atau ndeso tetap dan 
berpeluang sama, tinggal bagaimana setiap orang berusaha
 dalam menghadapai tantangan dan pandai menyiasati peluang, ini yang menjadi 
kunci keberhasilan orang.

Walau anda bilang pernah di LN, saya meragukan pengetahuan dan wacana anda 
tentang perbandingan hukum di negara maju dengan negara kita yang masih harus 
terus ditingkatkan mutunya, terutama yang tidak diskriminatif bagi perempuan.

Soal ada kesempatan berkewarganegaraan ganda sampai 18 tahun bukan sebuah 
keistimewaan pak, biasa aja.  Malah bisa jadi ini sebenarnya bisa sempat 
membuat anak bimbang dan jadi repot juga karena harus memilih, dan pilihan 
mereka tidak kemudian selalu berdasarkan "dimana mereka nyaman dari segi 
materi/fasilitas negara" pertimbangannya pasti karena "Dimana saya nyaman 
dengan keluarga".  Apalagi kalau sudah pertimbangan ada nasionalisme yang 
terbentuk dari lingkungan dan keluarga, lain lagi ceritanya. 

Jadi hak yang dimiliki anak-anak dari perkawinan antar bangsa dengan memiliki 
ganda kewarganegaraan tidak istimewa dari anak WNI asli, karena mereka jugakan 
tidak bisa milih mau lahir di keluarga yang mana, jadi ini memang hak yang 
sudah seharusnya diberikan pada hak mereka.

Anak saya dan semua anak yang lahir dari perkawinan sesama Indonesia juga tidak 
lantas kemudian menjadi terdiskriminasi hanya karena bisa jadi WNI.  Suatu 
kelak mereka karena perkawinan atau karena apa ya pengen melepas WNI kan bisa 
aja pindah ke LN, selama ketentuan hukum bisa dipenuhi semua orang bisa aja 
pindah jadi WNA'kan? Inikan sekali lagi soal hati kalau urusan enak mau jadi 
orang mana? urusan WN bisa jadi urusan kertas, banyak orang kita karena soal 
politik dulu jaman '65 terpaksa menjadi WNA atau malah tanpa kewarganegaraan, 
kalau dasarnya punya nasionalisme tetap aja hatinya merah putih.  Atau banyak 
orang non Indonesia macam Romo Magnis, Alm.Princen karena merasa sudah tetap 
nyaman di Indonesia ya dia pindah aja jadi WNI, tapikan bukan berarti mereka 
lantas tidak lagi mencintai "negeri asalnya".  Urusan cinta dan kemanusiaan, 
sekali lagi tidak bisa dibatasi teritorialnya. Apalagi urusan orangtua dan 
anaknya seperti ibu Ratih alami.  Saya juga pernah tinggal
 setahun lebih di Europa, setelah paham perbedaan negara kita dengan negara 
lain seperti Inggris dan Belanda dalam perlindungan terhadap hak anak dan 
perempuan, tentu kita juga merasa perlu mendorong perubahan negara untuk bisa 
lebih melindung anak dan perempuan termasuk bagi mereka yang melakukan 
perkawinan campuran.

Setiap tindakan, misalnya perkawinan antar bangsa atau sesama bangsa tetap akan 
ada resikonya, terutama biasanya perempuan dan anak sering menjadi korban.  
Namun kita patut sedikit syukuri karena banyak peraturan di negeri ini sedikit 
demi sedikit bisa mengalami perubahan untuk bisa lebih melindungi perempuan dan 
anak, sekali lagi ini bukan sebuah keistimewaan, tapi karena memang hak yang 
tertunda diberikan negara pada warganya.
 
Saya pikir kita akan lebih bijak anda tidak membela siapa-siapa tapi tidak pula 
menginjak-injak perasaan siapa-siapa, apalagi pada perempuan/pria Indonesia 
yang karena menikah dengan bangsa lain kemudian mempunyai problem dengan 
kewarganegaraan anaknya.  Ibu Ratih cuma satu contoh korban diskriminasi aturan 
lama, semua sudah terlanjur dan sudah dilaluinya, maka kalau bu Ratih sempat 
sedikit "menyesali nasibnya" kenapa aturan ini baru direformasi sekarang dan 
bukan pada saat dia dulu membutuhkan, namun kita jelas melihat bukan berarti bu 
ratih tidak mensyukuri ini akan akan meminimalisir jumlah korban seperti 
dirinya.


Salam,



Nia Sjarifudin








Imron <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Bu Ratih Yth,
 
 Justru itulah yang saya maksudkan. Kenapa sih anda dan juga pasangan kawin 
campur lainnya begitu cengeng?? Permintaan anda tsb justru melukai pasangan 
Indonesia lainnya yang tidak mengalami keistimewaan dan keberuntungan seperti 
anda itu. karena itu, ketika negara cq pemerintah memberikan sebuah status 
hanya untuk mereka yang kawin campur, maka pasangan2 Indonesia lainnya juga 
mengkritik, kenapa harus ada diskriminasi spt itu. Mereka2 yang kawin campur 
itulah tentunya sudah harus menrima resikonya. Jangan cuma enaknya aja, ingin 
punya dua kewarganegaraan hanya untuk kepentingan pribadi.
 
 Jadi tolong dijawab pertanyaan saya, kenapa tidak langsung anak anda diakui 
kewarganegaraan Indonesia saja. Untuk itu, lakukan diskusi dengan suami atau 
pasangan anda. Kalau memang disepakati, bahwa si anak mengikuti kewarganegaraan 
Bapaknya, dengan alasan mngkin menjadi warganegara Jerman lebh menguntungkan 
dibanding dengan menjadi warga Indonesia, nah itu adalah sebuah keputusan. 
jangan lah kemudian memaki2 negara/pemerintah.
 
 Maaf Bu Ratih, saya bukan membela imigrasi atau pemerintah. Tapi yang saya 
kecam adalah keputusan yang justru diskriminatif.
 
 Jadi, kalau sekarang pmerintah Indonesia memberikan kemudahan kepada anda, 
maka saya pikir tidak pada tempatnya kekecewaan anda itu anda simpan terus. 
Sepatutnya anda tersenyum dan kalaupun anak2 anda sayangnya tdk mendapatkannya, 
itu namanya sudah nasib. Bukankah hidup ini penh ditandai oleh fakta kebetulan? 
Kebetulan anda menikah dengan orang asing dan sayangnya kebetulan belum ada 
peraturan yang memihak kepada anda.
 
 PS: Beruntunglah mereka yang bertampang Indo. Wajah seperti ini sangat disukai 
oleh produse sinetron. Wajah relatif ganteng, dapat kemudahan dan punya 
pendidikan yang baik. Dibanding wajah Kamirun yang relatif ndeso. rejekinya 
susah. 
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                       

 
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke