Dear Mbak Wahyu,
   
  Saya benar-benar penasaran pada nama kecamatan yang disebut Fatumnasi. Namun 
sayangnya,
  tak ada sama sekali penjelasan tentang TTS. Itu kepanjangannya apa? Saya coba 
menebak-nebak,
  tapi takut keliru. TTS = Timor Timur Selatan? 
   
  Mohon petromaksnya...
   
   
  salam,
   
  rd
  

wahyu adiningtyas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          SIARAN PERS

WARGA FATUMNASI DITANGKAP PAKSA POLRES TTS
KINI MENDERITA LUKA DI KEPALA

Setelah ditangkap paksa di rumahnya di Desa Kuanoel, Kecamatan
Fatumnasi, TTS, Jumat lalu (23/2), Yosafat Toto kini harus menderita
luka bengkak dan sobek sedalam 3 cm yang cukup parah di kepala.

Meski begitu, Yosafat yang kini ditahan di LP Oelatimu-Soe, tetap
tidak diijinkan untuk mendapat perawatan medis apapun. Tidak hanya
itu, istri Yosafat, Erna Toto, pun selalu mendapat hambatan untuk
bertemu dengan suaminya. Usaha untuk bertemu dilakukan Erna sejak
Sabtu (24/2), namun baru pada hari Senin (26/2) lalu Erna berhasil
menemui Yosafat suaminya. Itupun setelah di-ping pong oleh pihak
Polres TTS selama kurang lebih 4 jam.

Perlakuan Polres TTS ini sungguh mencerminkan watak represif aparat
keamanan yang sama sekali tidak menganggap penting prosedur hukum yang
seharusnya dijalankan. Penangkapan Yosafat dilakukan secara paksa,
tanpa surat panggilan apapun, dan disertai tindak penganiayaan fisik
oleh sekelompok polisi yang datang bersama preman bayaran PT.Teja
Sekawan ke Desa Kuanoel dan Desa Fatumnasi, Jumat (23/2) lalu.

Ditengarai peristiwa ini memang tidak terlepas dari persoalan
penolakan tambang marmer di Desa Kuanoel dan Desa Fatumnasi. Awalnya
kedatangan sepasukan polisi berseragam lengkap dengan mobil Dalmas ke
Desa Kuanoel, Jumat (23/2) lalu, dimaksudkan sebagai upaya penangkapan
seorang pelaku pencurian sapi. Demikian laporan yang mereka sampaikan
kepada Kepala Desa Kuanoel, Yolsem Oematan. Namun, para polisi yang
datang disertai kurang lebih 4 preman bayaran PT.Teja Sekawan itu,
kemudian meneruskan perjalanan mereka ke Desa Fatumnasi. Di sana,
mereka memaksa tiga orang tokoh masyarakat, Wellem Oematan, Matheos
Anin dan Melkisedek Oematan untuk ikut ke Soe. Tidak ada dari ketiga
tokoh tersebut yang bersedia untuk ikut, karenanya sempat terjadi
perkelahian antara anak-anak Matheos Anin dengan beberapa polisi.
Salah seorang dari mereka bahkan sempat ditodong dengan pistol oleh
salah seorang polisi. Perkelahian tersebut terhenti karena polisi pada
akhirnya memutuskan untuk pergi setelah melihat jumlah massa yang
mendatangi rumah Matheos Anin semakin banyak.

Namun, rombongan polisi tidak segera kembali ke Soe. Tanpa surat
panggilan apalagi surat penangkapan, tiga orang polisi memasuki rumah
Yosafat Toto dan membawa paksa warga Desa Kuanoel itu. Ia ditarik,
dipukul dan didorong naik ke atas mobil Dalmas. Di atas mobil tersebut
salah seorang polisi menendang kepala Yosafat. Tindakannya diikuti
oleh Neri Oematan, salah seorang preman bayaran PT.Teja Sekawan, yang
memukul Yosafat juga di bagian kepala.

Dalam pertemuan dengan Yosafat, Erna Toto mendapat informasi bahwa
suaminya ditangkap berkait kasus pemotongan kaki Yosafat Toto oleh
Desti Nope, pekerja PT.Teja Sekawan. Hanya kali ini Yosafat tidak
dihadirkan sebagai korban, tetapi sebagai pelaku kejahatan karena
menurut polisi parang yang digunakan oleh Desti adalah milik Yosafat.
Desti Nope sendiri telah ditetapkan polisi sebagai tersangka untuk
kasus yang sama, namun sampai saat ini masih bebas berkeliaran tanpa
upaya penangkapan dari polisi ##

Soe, 1 Maret 2007

Aksi Perlawanan Rakyat Kuanoel-Fatumnasi

Kontak:
Yati : 0852 89329345

======================

Kronologi Peristiwa Penangkapan Paksa Warga Kuanoel, Kec.Fatumnasi, TTS.
Terkait Aksi Penolakan Tambang Marmer oleh Warga Desa Fatumnasi dan
Desa Kuanoel.

Jumat, 23 Februari 2007
Pukul 9:00 Wita
Polisi, petugas intel dan pekerja tambang tiba di Desa Kuanoel dengan
mengendarai mobil Dalmas. Pekerja tambang yang dikenali masyarakat
adalah Nikolas Sila, Ebenhaezer Maf dan Neri Oematan. Sedangkan polisi
yang dikenali oleh masyarakat adalah Kapospol Kapan, Niko Tanaof.
Awalnya mereka masuk ke kantor desa Kuanoel dan menyampaikan maksud
kedatangan mereka adalah untuk menangkap pencuri sapi di Desa Kuanoel.
Namun setelah menyampaikan maksud mereka itu, hanya tiga orang anggota
yang diutus untuk menjemput orang yang mereka sebut sebagai pencuri
sapi. Sedangkan sisanya langsung menaiki kembali mobil Dalmas untuk
menuju ke Desa Fatumnasi. Vika Mael, organizer OAT, yang saat itu ada
di kantor desa sempat menanyakan mengapa polisi ke Fatumnasi, tetapi
mereka tak menjawab dan segera berangkat.

Pukul 9:30
Rombongan polisi, intel dan pekerja tiba di Fatumnasi. Mereka langsung
menuju ke rumah Bapak Wellem Oematan, Matheos Anin dan Melkisedek
Oematan. Mereka dipaksa untuk naik ke mobil Dalmas dan ikut ke Soe.
Tidak ada dari antara mereka yang mau.

Pukul 10:00
Anak-anak Bapak Matheos Anin yang ikut membela ayah mereka justru
ditantang. Stef Anin mendapat todongan pistol dari salah seorang
polisi (dengan ciri-ciri tubuh tinggi, kulit putih dan berseragam
lengkap tanpa jaket). Mereka kemudian terlibat dalam perkelahian.
Mendengar suara orang berkelahi, masyarakat Desa Fatumnasi yang saat
itu sedang kerja bakti di kantor desa, segera datang. Melihat warga
yang datang berjumlah lebih dari 100 orang, polisi lari. Dengan
kecepatan tinggi mereka kembali ke Desa Kuanoel.

Pukul 11:30
Tiba di Kuanoel, palang jalan dalam keadaan tertutup. Disaksikan oleh
sekitar 7 orang mama yang berdiri depan posko (kediaman Bapak Yosafat
Toto sekeluarga), salah seorang polisi (petugas intel etnis Bali)
turun dengan marah,"Siapa yang ikat palang?!" dan berusaha untuk
membuka palang tersebut. Karena sulit ia lalu menggunakan pisaunya
untuk memotong tali pengikat palang. Itupun gagal. Akhirnya ia bersama
3 orang petugas intel lainnya berbalik dan memasuki posko. Dengan
marah-marah mereka mencari Yosafat Toto di setiap kamar. Mereka
menemukan Bapak Yosafat Toto yang saat itu baru saja pulang dari
kebun, di dapur. Saat mereka memaksanya untuk ikut ke Soe, ia sempat
berteriak,"Pak bawa saya, saya salah apa?" tapi polisi-polisi itu
tidak menjawab. Mereka terus menariknya dengan paksa. Di depan posko,
Bapak Yosafat Toto kembali berteriak,"Pak! Saya belum makan!" tapi
tetap tidak digubris. Bapak Yosafat Toto dinaikkan ke atas mobil,
dengan cara ditarik, dipukul, ditendang dan didorong. Di atas mobil,
salah seorang polisi menendang kepala Bapak Yosafat Toto. Neri Oematan
juga ikut memukul. Saat itu, warga yang mengejar dari Fatumnasi sudah
dekat dengan lokasi posko, sehingga rombongan polisi itu segera lari
dengan kecepatan tinggi.

Pukul 12:30
Rombongan polisi berhenti di depan kantor camat karena bertemu dengan
tiga orang anggota dan pencuri sapi yang tertangkap. Si pencuri
langsung dinaikkan ke atas mobil. Ia mendapat pukulan yang lebih parah
dari Bapa Yosafat Toto. Rombongan segera menuju Soe dan tidak ada
kabar lagi setelah itu.

Sabtu, 24 Februari 2007
Pukul 14:00
Istri Bapak Yosafat Toto, Erna Toto, bersama dengan Yati Kase, salah
seorang warga Desa Kuanoel, berangkat dari Kuanoel menuju kantor
Polres TTS di Soe.

Pukul 15:00
Tiba di kantor Polres TTS, Erna Toto dan Yati Kase melihat banyak
anggota polisi berdiri di depan pintu. Namun begitu melihat kedatangan
mereka berdua, polisi-polisi itu menghindar. Termasuk Yeter Selan,
Kasatreskrim Polres TTS. Tidak ada yang menanggapi pertanyaan Erna
Toto tentang keberadaan suaminya. Saat mencek daftar tahanan, Erna
Toto juga tidak menemukan nama suaminya. Ia menangis dan
berteriak,"Saya punya suami ditangkap, tidak salah! Kalau memang ada
salah, harus ada surat panggilan! Bukan tangkap langsung saya punya
suami di rumah!" tapi tidak ada polisi yang menggubris. Polisi Kase,
yang saat itu bertugas piket pun tidak memberi jawaban apapun.

Pukul 18:00
Setelah 3 jam tidak digubris, hanya di-ping pong ke sana kemari, Erna
Toto dan Yati Kase kemudian memutuskan untuk pulang.

Minggu, 25 Februari 2007
Pukul 11:00
Masyarakat berkumpul di posko. Semua orang berjaga-jaga karena ada isu
100 orang bayaran investor akan mendatangi Kuanoel-Fatumnasi.

Pukul 16:00
Yati Kase mendapat informasi dari salah seorang kerabat di Soe, bahwa
Bapak Yosafat Toto dititipkan oleh polisi di Rumah Tahanan di Soe.

Senin, 26 Februari 2007
Pukul 9:00
Erna Toto bersama Yati Kase kembali ke Soe, untuk menjenguk suami
Erna, Yosafat Toto, di kantor Polres TTS. Kali ini Erna membawa anak
bungsunya yang berumur 2 tahun.

Pukul 10:32
Erna Toto dan Yati Kase tiba di kantor Polres TTS, bertemu dengan
petugas piket, Melki B. yang menyuruh keduanya untuk menanyakan
keberadaan Yosafat Toto di bagian reskrim. Di bagian reskrim, Erna
Toto dan Yati Kase menemui petugas Daniel Da Silva yang menyuruh
keduanya untuk mengambil surat ijin membesuk tahanan di kantor
kejaksaan. Rupanya tanpa prosedur penyidikan di kantor polisi selama
21 hari, Yosafat telah dimasukkan dalam tahanan di LP Oelatimu, Soe.

Dari pihak kejaksaan mereka mendapat surat ijin yang isinya memberi
kesempatan bagi Erna Toto untuk menemui suaminya selama 15 (lima
belas) menit pada hari-hari kunjungan, Senin dan Kamis setiap
minggunya.

Pukul 11:26
Erna Toto dan Yati Kase tiba di LP Oelatimu, Soe. Di sana mereka
menemui Yosafat dalam keadaan pucat. Ia tidak membawa pakaian apapun
saat ditangkap paksa kecuali oblong dan celana pendek yang
dikenakannya saat itu. Kepada Erna dan Aryo anaknya ia menunjukkan
luka bengkak dan sobek sedalam 3 cm di kepalanya, akibat tendangan
polisi di atas mobil Dalmas.

Selama 15 menit pertemuan itu, Yosafat terus menangis. Menurut
ceritanya , ia ditangkap karena pada saat bentrok tanggal 11 Januari
2007, ia membawa parang dengan maksud menyerang para pekerja tambang.
Padahal yang terjadi adalah ia membawa parang dengan maksud
menakut-nakuti para pekerja yang menyerang warga, namun kemudian dalam
perkelahian justru Desti Nope, salah seorang pekerja, lah yang
memotong kaki Yosafat Toto. Atas kejadian bentrok dan pemotongan itu,
Desti Nope bersama Patje Lona telah ditetapkan sebagai tersangka.
Namun sampai dengan saat ini, tidak ada tindakan apapun atas keduanya.


         

Kirim email ke