Kalau kita yakin bahwa demokrasi dan reformasi sedang kita rayakan, kenapa kita
takut dengan somasi. Hadapi dan lawan saja. Kalau memang kita benar, kenapa
mesti takut. Kalau belum apa-apa sudah gembar sana gembor sini, merasa
terancam, ini semakin kelihatan bahwa acara ini hanya untuk meraih keuntungan,
terutama bagi para penggagasnya yang ketiban uang iklan, bukan menawarkan
solusi. Tunjukkan bahwa acara ini merupakan hasil olah pikir seorang doktor
komunikasi yang seminimal mungkin mengundang kontroversi dan semaksimal mungkin
memunculkan simpati. Bukankah ini yang sering digambar-gemborkan Effendi
Gazali ketika mengkritik pemerintah. Tunjukkan bahwa Anda bisa berbuat, bukan
memperpanjang mimpi pemirsa.
salam
raja
Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya malah melihat sebaliknya. Para presiden di republik BBM ini
adalah presiden impian saya, karena mereka bisa melucu, bisa
mendngarkan dan bisa diajak bicara. Dan ketika mereka dikritik mereka
bisa mengangguk setuju, bisa juga menolak dan berargumentasi
dengan gayanya masing-masing.
Rasanya damai sekali. Saya tidak melihat ada kejelekan di antara
mereka, saya melihat kebahagiaan, kekompakan.
Misalnya ketika tema tentang "wanita listrik" buat saya itu pembahasan
solusi yang luar biasa. Begitu juga ketika episode banjir, Gus Mur,
Jarwo Kuat dll ikut memakai jas hujan dan menggulung celananya sebagai
keprihatinan. Jangan sampai acara ini dicabut.
Satu lagi tanda bagi kemunduran luar biasa di negeri ini.
Salam, Mariana