Bu Isti,
Saya ikut prihatin ya, anak-anak Indonesia payah dalam bidang IPA (Science) dan 
Math. Saya sendiri dulu juga begitu Bu, hehe..
Tapi kalau kita mau obyektif, anak-anak AS yang negaranya paling ditakuti di 
seluruh jagad ini juga payah di bidang ini, masih kalah dengan anak-anak 
Jepang, Korea dan Taiwan. Mohon di cek kembali apakah data ini masih valid.
Seperti kita ketahui ketiga negara itu menerapkan metode "drill" a la militer 
dalam sistim pendidikan, yang bagi orang tua Indonesia terasa "sadis". Bu Isti 
mungkin juga tahu, atlit-atlit bulutangkis putri Korea, kalau kalah atau salah 
menerapkan instruksi pelatih (pria) langsung digampar - di lapangan pula. Ini 
contoh ekstrim saja Bu.

Tentunya mendidik anak berbakat atau AJI (Anak Jenius Indonesia) tidak perlu 
sampai digampar begitu Bu. Saya sependapat dengan Bu Ratna, AJI perlu 
diperlakukan secara istimewa, karena mereka juga istimewa.

Salam. 
 




----- Original Message ----
From: Cornelia Istiani <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, March 4, 2007 9:39:36 AM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kemampuan Anak Berbakat Perlu Dioptimalkan 
Sejak Dini

Pak John,

Ok kalau konsep FOKUS = Freedom of Talk, Think and Speak…tapi membaca 
penjelasan konsepnya kok rasanya kurang nyambung, tapi apakah boleh saya 
katakana bahwa yang anda maksudkan sebenarnya adalah memberi tempat bagi si 
anak berbakat untuk berkembang seperti yang anak tersebut inginkan sehingga 
guru lebih berfungsi sebagai fasilitator, teman (diskusi dan “berantem”), dan 
sebagainya.. setahu saya seperti juga diungkapkan oleh bu Ratih anak berbakat 
memang khusus..mereka focus dalam arti konsisten pada apa yang menjadi minatnya 
dan selalu “bergerak” dengan segala apa yang dipikirkannya. .(dan metode drill 
yang bapak sebutkan kurang tepat diterapkan untuk mereka).

Tentang keampuhan metode “drill” yang membawa piala-piala olimpiade fisika 
pulang “kandang”..metode ini memang ampuh tapi hanya sesaat. Kita bisa 
observasi lembaga bimbingan belajar yang ada, mereka menggunakan metode drill 
ini untuk kepentingan sesaat demi tujuan sesaat pula, misalnya menjelang UN, 
tes penerimaan mahasiswa baru, dan sebagainya…kurang lebih ya begitulah dengan 
olimpiade-olimpiade tersebut, mereka (para peserta/siswa pilihan terlepas 
berbakat atau tidak??) dikarantina lalu dengan metode tersebut mereka berlatih 
setiap hari dengan intens..betul kata bapak 

“Ibaratnya, pendekar silat berlatih 7 x 24 jam minus istirahat hasilnya pasti 
oke, Bu. Apalagi kalau pendekar itu "bibit unggul" dan dilatih oleh "jawara"”
..tapi jangan lupa pak John ini bukan pertandingan silat atau bulutangkis, 
masih bagus silat ada seninya, strategi dan permainan, serta proses 
pembelajaran dan refleksi yang menghasilkan pemahaman komprehensif tidak saja 
tentang silat itu sendiri tapi juga tentang kehidupan. 

Memang melegakan hati melihat masih ada yang berprestasi menjadi juara 
international, tapi coba kita lihat hasil dari kompetisi mutu akademik 
antarbangsa melalui Programme for International Student Assesment (PISA) 2003, 
menunjukan bahwa dari 41 negara yang disuvei, untuk bidang IPA, Indonesia 
menempati urutan ke 38, untuk Matematika dan kemampuan membaca menempati urutan 
ke 39, begitu juga masih senada hasilnya dari TIMMS (Trends in International 
Mathematics and science Study)...

Maaf mungkin perbandingannya terlalu mencolok, buat saya pribadi tidak suka 
membuat perbandingan dengan negara lain misalnya US (aple to aple 
begitu)..dalam konteks Indonesia, masyarakat yang sedang berkembang menghadapi 
lebih banyak tantangan yang "menakutkan" karena kurangnya lingkungan yang 
kondusif (secara politis, budaya dan geografis) untuk pembelajaran; terbatasnya 
pengalaman dalam mekanisme partisipatif (termasuk M & E ). Karenanya 
membandingkan manfaat berdasarkan hasil saja dapat memberikan penekanan yang 
kurang proporsional terhadap hasil-hasil yang dapat diukur atau diperiksa saja. 
Dengan hanya memperhatikan hasil, juga akan mencegah orang/siswa untuk berani 
ambil risiko dalam situasi-situasi dimana inovasi-inovasi (yang mau tak mau 
mengandung unsur risiko)..merupakan hal yang diharapkan atau penting.

salam,
Istiani

john simon <paloalto_fiesta@ yahoo.com> wrote: 

Bu Isti, terima kasih atas dukungannya.
FOKUS = Freedom of Talk, Think and Speak (hehe istilah saya saja Bu). 
Maksudnya, kalau Majornya Physics misalnya, ya tidak perlu diberi pelajaran 
yang tidak "nyambung" (silahkan Bu isti cari sendiri, jangan ditanyakan lagi ke 
saya).

Untuk metode "drill" yang sangat ampuh itu, barangkali Prof. Yohannes Surya 
bisa memberikan jawaban yang lebih detail Bu. Tetapi yang saya tangkap dari 
berbagai liputan di mass media, metode "repetitif" dalam berlatih soal-soal 
Fisika itu sukses membuat Tim Olimpiade Fisika kita berjaya di tingkat 
internasional. Ibaratnya, pendekar silat berlatih 7 x 24 jam minus istirahat 
hasilnya pasti oke, Bu. Apalagi kalau pendekar itu "bibit unggul" dan dilatih 
oleh "jawara".




Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke