Saya pikir saat ini tidak dirasakan perlunya wajib militer bagi pemuda usia 18 
th ke atas. Karena saat ini tidak ada ancaman2 nyata kepada keamanan nasional, 
dan TNI dipandang masih mampu mengamankan wilayah RI.
Kalau untuk disiplin, saya kira juga tidak tepat. Seperti yang dikemukakan oleh 
salah seorang anggota milis, tidak ada jaminan kalau seorang mengikuti wajib 
militer kemudian kehidupannya menjadi disiplin. Disipin menurut saya kembali ke 
dirinya sendiri, dan kepada komunitas luas bergantung pada pelaksanaan 
peraturan hukum. 

sebagai contoh para pengendara di jalan, baik kenadaraan umum maupun pribadi. 
Seandainya memang ada penegakan hukum yang jelas, memberikan denda yang tinggi, 
mencabut surat ijin mengemudi bagi mereka yang kedapatan melakukan pelanggaran 
lalu lintas, pasti pengguna jalan akan kapok utk melakukan kesalahan. Di negara 
lain yang sistem hukumnya sudah maju, memberikan denda yang tinggi dan mencabut 
surat ijin mengemudi bagi pengguna kendaraan terbukti sangat ampuh dalam 
menekan angka pelanggaran lalu lintas.
Contoh yang lainnya juga terjadi di sektor pembangunan perkotaan. setupa orang 
yang membangun atau merubah rumahnya harus mendapat ijin dari dinas tata kota. 
Bagi yag melanggar akan dikenakan denda yang sangat tinggi.

Jadi, disiplin bergantung pada diri kita sendiri dan juga pada penegakan hukum 
yang ada. saya jadi inget pesen Bapak saya. Dia bilang kalau kita tidak mau 
dibilang golongan budak, maka patuhilah hukum. Karena budak itu biasanya akan 
melanggar aturan yang ada kalau pengawas sedang tidak mengawasinya. 
nah maukah kita dimasukkan ke dalam golongan budak. Kalau memangh kita 
mengklaim golongan masyarakat berpendidikan dan beradab, tentunya kita akan 
menunjukkan jati diri kita sebenarnya.

Atau...memang bangsa Indonesia masih kategori Budak yaa??!! Yah buktinya, 
tenaga kerja Indoensia di luar negeri kerjanya ya seperti budak. Oh 
malangnya....

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke