Cerita tentang tingkah-laku elit kita yang hobi mengendarai HD 
(Harley Davidson) memang menarik. Beberapa tahun lalu saya pernah 
membaca berita di media massa tentang heboh beberapa HD inventaris 
DLLAJR (Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya) DKI Jakarta yang 
dipinjamkan dalam jangka waktu lama kepada Gubernur Sutiyoso. Saya 
tidak tahu bagaimana kelanjutan berita tersebut. Tapi dalam hati 
saya berharap, bahwa Sutiyoso sudah mengembalikan HD tersebut dan 
membeli yang baru dengan uang dari kocek sendiri.

Ketika pada tanggal 27 Juli 2006 meledak kerusuhan di Jakarta, maka 
TNI (dahulu ABRI) sempat kelabakan untuk mengerahkan pasukan. Orang 
yang bertanggung-jawab untuk mengeluarkan dana membiayai pengerahan 
pasukan, yaitu Kasum (Kepala Staf Umum) Letnan Jenderal Suyono 
sedang tidak ada di Jakarta. Ia sedang dirawat di sebuah rumah sakit 
di Sulawesi karena cedera ketika sedang melakukan hobinya tur 
mengendarai HD di pulau tersebut. Menurut berita, ketidak-hadiran 
Letjen Suyono di Jakarta ketika situasi sedang genting membuat Pak 
Harto naik-pitam. Konon kabarnya dana untuk membiayai pengerahan 
pasukan terpaksa harus ditalangi dulu oleh beberapa konglomerat. 
Itulah alasan mengapa ketika kembali ke Jakarta ia langsung 
diberhentikan sebagai Kasum. 

Sama halnya seperti Fauziah Swasono, saya juga tak keberatan kalau 
para elit punya hobi mutar-mutar naik HD, sepanjang HD itu dibeli 
bukan dari hasil nyolong, sepanjang konvoi itu tidak mengganggu 
kepentingan orang lain, dan sepanjang hobi tersebut tidak mengganggu 
pekerjaan mereka (para abdi negara).

Suatu ketika di Hotel Puncak Pass saya pernah melihat serombongan 
penggemar HD sedang beristirahat. Lama saya terpikir-pikir tentang 
fenomena tersebut. Sebagian besar dari mereka kelihatan sudah lebih 
tua dari saya (di atas 50-an). Tapi tampaknya mereka sangat "pe-de". 
Memakai sepatu boot berhak tinggi, celana ketat dan jaket kulit, 
bandana, syal serta berbagai aksesoris lainnya yang dikeluarkan oleh 
HD. (Di sebuah majalah saya membaca bahwa 50% dari pendapatan pabrik 
HD di AS sana diperoleh dari hasil penjualan aksesoris).

Saya kagum melihat keberanian dan rasa percaya diri para elit 
penggemar HD itu. Saya bertanya-tanya dalam hati, "Kalau seandainya 
saya kaya, apakah saya punya keberanian dan rasa percaya diri untuk 
memakai sepatu hak tinggi, celana ketat dari kulit, dan dompet yang 
pakai rante itu?" Akh, saya rasa saya tak berani. Saya adalah orang 
yang paling risih untuk berganti penampilan. Dari dulu saya hanya 
tahu memakai celana hitam atau biru tua yang komprang, dengan kemeja 
motif kotak-kotak dominan biru yang juga komprang. Jangankan memakai 
celana dan baju ketat dari kulit, memakai yang berwarna lain (di 
luar hitam dan biru) pun saya tak punya nyali.

Kemudian saya pikir-pikir lagi, apalah kata sanak-saudara saya (para 
petani penyadap enau dan kemenyan) yang tinggal di pedalaman 
Tapanuli Selatan sana nanti tentang saya? Lalu apa pula kata isteri 
saya nanti, kalau ia melihat saya runtang-runtung di jalan raya 
dengan perempuan-perempuan yang jauh lebih cantik dan muda dari 
dirinya? (Memang, mereka mungkin tidak duduk di goncengan HD saya; 
tapi duduk di goncengan salah seorang teman saya).

Saya pikir-pikir, kalau saya punya banyak waktu luang dan sama kaya 
seperti mereka, maka untuk menyalurkan energi (baca: kelasakan) dan 
memanifestasikan diri, alih-alih membeli HD saya akan mendirikan 
saja taman bacaan untuk anak-anak dan melakukan "story telling" 
setiap hari Sabtu dan Minggu. Dunia LSM yang berkaitan dengan 
pengembangan minat baca tokh juga banyak dipenuhi oleh aktivis 
perempuan yang muda dan cantik. Ha-ha-ha-ha! Disana ada Yessie 
Gusman, Putri Suhendro dll. Tapi saya rasa isteri saya pasti akan 
bisa menerima hobi saya itu. Saya tokh hanya akan berdiri bersama 
perempuan-perempuan muda dan cantik itu, bercerita di depan anak-
anak. Saya tidak runtang-runtung di jalan raya. 

Memang saya tidak kaya. Tapi hobi runtang-runtung naik "HD" di jalan 
raya sebenarnya sudah puas saya jalani ketika masih kecil. Dulu, 
kami sekelompok anak-anak Kampung Baru, senang mengikatkan balon di 
dekat jari-jari sepeda. Bila sepeda itu dikayuh maka akan keluarlah 
bunyi "brebeb-brebeb-brebeb" menyerupai bunyi sepeda motor. Dalam 
fantasi kami, kami sedang berkonvoi mengendarai HD berkeliling kota 
Medan.  Ha-ha-ha-ha,

Horas,

Mula Harahap

     


In [email protected], "fauziah swasono" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Ide cemerlang... :)

walau bertentangan dg program hemat energi dan ramah lingkungan. Tapi
gak apa2lah.. sekali2..kasian kebelet pengen muter2 dg HD diliat 
orang.

Ini sebenernya bisa dilihat dari 2 sisi. Kalau mau lihat sisi
property. Hak mereka yang mampu dan mau untuk membeli barang mewah
(asal tidak gelap, saya dengar masih banyak yg gelap tuh). Asal
uangnya bukan nyolong.

Disisi lain, kita hidup dalam satu lingkungan. Ada banyak saudara 
kita sebangsa, yang hidupnya jauh lebih tidak beruntung dibanding 
kita. Kalau orang kaya merasa tidak perlu peduli dg perasaan 
saudara2nya yg miskin, ya artinya memang nilai toleransi dan 
persaudaraan berbangsa itu sudah tergerus. 

Saya pribadi nggak pengaruh soal konvoi2 barang mewah ini. Tidak
ngiler. Tidak iri. Masih banyak hal lain yang lebih menarik. Selama
uangnya bukan uang nyolong dan mengikuti peraturan (ingat mereka 
punya hak buat pake barang mereka, orang lain punya hak juga buat 
tidak diganggu di jalan). Tapi ada banyak sekali saudara2 kita yang 
masih harus mikir apa yang bisa dimakan hari ini. Masa sih kita 
tidak mau bertenggang rasa? Tapi yah kembali ke orang masing2 ya..

salam,

-fau

ps. di Tokyo kalo saya melihat jaguar, porche, bentley berseliweran
rasanya menarik. Mengkilat, jalanannya juga rapi dan tertib, mobil2
sebelahnya juga mengkilat2, kalo yg convertible nggak ada yang
nyamperin ngamen, ngasong, atau nodong, orang2 yang nyebrang jalan
juga rapi2... udaranya juga adem... jadi pas.. cocok dg keseluruhan
lingkungan. Nggak ada yang terlalu miskin.

Coba di jkt. Mobil klakson2, bodinya tergores2, macet, orang nyebrang
susah, ada peminta2, bus kota dg standar emisi jebol... blass ga
keliatan indahnya jaguar disitu :D yang keliatan hanya ironi 
kehidupan metropolitan.

oya, saya nggak pernah liat ada konvoi HD di tokyo :)



Kirim email ke