Ini tulisan yang bagus, dan saya suka isinya. Memang betul, rata-rata bahasa 
Asia tidak "terbuka" terhadap perkembangan iptek. makanya, kalau harus 
menerjemahkan teks iptek dari bahasa asing, sulitnya bukan main. Sebaliknya, 
bahasa-bahasa ini sangat kaya dengan ungkapan emotif, yang terkait dengan 
perasaan pribadi. Soal serapan, bukan cuma bahasa Indonesia yang giat 
melakukan. Bahasa-bahasa Asia lain juga giat melakukan serapan dan pinjaman d 
ari bahasa-bahasa Barat, khususnya Inggris.
   
  Bahasa Inggris sendiri banyak meminjam dari bahasa Gaelik, bahasa Latin, 
Bahasa Jerman, dan bahasa Prancis. jadi, tak banyak yang "murni" Inggris. Dan 
mereka tetap aja pede tuh? Kok nggak pada panik soal nasionalisme segala.
   
  Jangan dilupakan juga bahwa bahasa kita ini adalah bahasa "buatan" yang 
awalnya dipakai untuk tujuan perjuangan. Sebetulnya, komposisinya terdiri atas 
bahasa Melayu, Arab, Sanskrit, Cina, Belanda, Inggris, bahasa-bahasa daerah 
(Jawa, Sunda, dsb), dan bahkan juga Jepang. Jadi, sulit bicara soalnasionalisme 
dari perspektif bahasa.
   
  manneke

Gunawan Misrah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Saya tidak tahu persis apakah persoalan bahasa juga mempengaruhi nasionalisme 
seseorang. Kalau memang bahasa menjadi salah satu indikator nasionalisme, akan 
banyak sekali orang Indonesia yang bisa dikatakan kurang nasionalis. Tapi 
mungkin tidak adil jika berkata demikian. Hampir di seluruh pojok nusantara ini 
sedikit banyak menggunakan bahasa atau minimal kata-kata asing meskipun dirubah 
pengucapannya sehingga menjadi kata serapan yang akhirnya masuk dalam kamus 
ilmiah populer.

Hampir seluruh perusahaan swasta ini menggunakan istilah-istilah yang hampir 
tidak ada bahasa Indonesia yang murni. Dalam dunia perbankan, keuangan, 
politik, pendidikan dan sebagainya kebanyakan menggunakan bahasa serapan yang 
biasa kita sebut kata ilmiah. Bahasa Indonesia asli itu sendiri yang mana, 
apakah istilah-istilah yang dipakai di Kepolisian, TNI atau Pramuka seperti 
catur prasetya, sapta marga, bhayangkara, trikora, dwikora, dan seterusnya? 
Kalau tidak salah itu adalah bahasa Sansekerta.

Istilah-istilah ilmiah yang kita gunakan sekarang hampir semuanya adalah bahasa 
serapan yang kebanyakan dari bahasa Inggris. Apakah ini juga menunjukkan 
keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia sehingga tidak mampu mewakili kata-kata 
ilmiah tersebut dalam bahasa Indonesia? Misalkan kata-kata seperti; sinergi, 
intertekstualitas, filantropi, humaniora dan masih banyak lagi yang bisa 
saudara-saudara sebutkan jauh lebih banyak dari saya..
Dunia semakin berkembang dengan berbagai macam bentuk istilah-istilah baru yang 
mewakili penjelasan-penjelasan yang panjang. Bukanlah hal yang mudah membuat 
istilah-istilah baru itu dalam bahasa Indonesia.

Istilah-istilah ilmiah yang sering kita gunakan itu juga hasil dari 
kerangka-kerangka berpikir yang panjang, hasil dari penelitian-penelitian yang 
terus menerus. Berapa sih hasil penelitian orang Indonesia dan menjadi satu 
kerangka berpikir lalu menjadi satu istilah ilmiah yang mengglobal? Seandainya 
penelitian-penelitian dan proses-proses berpikir seperti itu dilakukan oleh 
orang Indonesia dan digunakan secara global karena terbukti berguna dan 
bermanfaat, mungkin istilah-istilah itu akan berbahasa Indonesia. Tapi 
kenyataannya, kita adalah bangsa yang masih muda, yang masih harus menentukan 
istilah-istilah kita sendiri. 

Buah karya pemikiran dari bangsa kita pun masih kalah jauh dalam hal jumlah 
maupun kualitas. Memang orang-orang pintar bangsa kita semakin banyak, 
intelektual semakin banyak. Kebanyakan intelektual dari bangsa kita hanya 
mengolah dan bermain-main dengan sumber, referensi dan data yang tidak kita 
pungkiri kebanyakan dari luar. Penelitian yang bersifat mendasar sangat kurang. 
Bangsa kita harus mencetak profesor lebih banyak lagi, orang-orang yang 
berdedikasi dalam dunia penelitian-penelitian mendasar dan menghasilkan 
teori-teori baru sehingga akan menghasilkan istilah-istilah baru pula dalam 
bahasa kita.

Kita selalu menerjemahkan buku-buku asing untuk mendapatkan referensi yang 
lebih banyak dan lengkap. Banyak pula istilah-istilah yang sulit ditemukan 
padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Ini juga berpengaruh dalam pembentukan 
popularitas bahasa.
Mungkin saja pada masa pak Harto dulu sangat memimpikan bahasa Indonesia bisa 
menggema, banyak istilah-istilah dalam pemerintahan beserta program-programnya 
yang berbau entah bahasa Indonesia, bahasa Sansekerta, bahasa serapan Jawa 
ataupun bahasa daerah lainnya.. Jika memang demikian, saya salut terhadap 
beliau terlepas dari segala kekurangannya.

Kalau memang bahasa sangat berpengaruh terhadap nasionalisme, mungkin harus ada 
pengkajian mendalam oleh ahli bahasa dan budayawan kita bersama dengan 
pemerintah. Yang jelas, meskipun sudah dicanangkan suatu program untuk membuat 
bahasa Indonesia lebih bergema tanpa diimbangi mengembangkan 
penelitian-penelitan dan pemikiran-pemikiran yang bisa mengalahkan 
pemikiran-pemikiran asing, maka program itu toh juga juga hanya akan sekedar 
kembali menjadi wacana bahkan hilang. Karena pada dasarnya manusia akan lebih 
memilih yang lebih baik. Globalisasi menciptakan ruang pertarungan yang sangat 
ketat. Bahasa pun tidak lepas dari jerat pertarungan dalam ruang globasasi ini.

Maka dari itu marilah bersama-sama kita mengembangkan terus dunia pemikiran dan 
penelitian sehingga melahirkan istilah-istilah kita sendiri. Kalau punya anak, 
diberi nama yang berbau Indonesia seperti, Kinanti Pitaloka, Dyah Seka Mawar, 
Abdi Bangsa, Lintar Sastra. Indonesia banget geto loh… he he he… 


                
---------------------------------
 Inbox full of unwanted email? Get leading protection and 1GB storage with All 
New Yahoo! Mail.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke