Apakah cuma "lingkungan pergaulan dan keretakan rumah tangga
  orang tua" saja yang jadi sebab masalah narkoba ini?
  Soalnya di sebuah majalah ada artikel tentang keluarga seorang
  bintang sepak bola Indonesia yang anak-anaknya ber-Narkoba!
   
  Lingkungan pergaulannya kalangan orang baik-baik plus rumah tangga
  orang tuanya tidak retak (malah adem ayem bahagia)
  tapi ya entah bagaimana anak-anaknya tak bisa hidup normal tanpa
  narkoba.
  Bagaimana kalau begini?
   
  Syukurlah anak-anaknya sudah sembuh dan kembali ke jalan yang benar
  bersama kasih sayang orang tuanya yang berjuang buat mereka...
   
  Jadi pertanyaannya adalah "adakah sebab-sebab lainnya yang masih misterius
  dan perlu diselidiki" yang menyebabkan siswa SMA jadi konsumer narkoba?
  Who knows?
   
  Salam
  Las.
  
Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/06/metro/3363041.htm
=========================

jakarta, Kompas - Dibandingkan dengan siswa SMP, mahasiswa, atau 
pemuda putus sekolah lainnya, kalangan siswa SMA di Jakarta Barat 
paling banyak mengonsumsi ganja dan putaw. Pemicunya adalah 
lingkungan pergaulan dan keretakan rumah tangga orangtua. 

Demikian disampaikan Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Jakarta 
Barat Komisaris Aldrin Hutabarat dan Kepala Polsek Kebon Jeruk 
Komisaris Imam Saputra seusai acara penyuluhan tentang dampak 
negatif narkoba, pencegahan, dan penanggulangannya, Senin (5/3) di 
SMAN 65, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. 

Hadir dalam acara itu, antara lain, adalah Direktur Narkoba Polda 
Metro Jaya Kombes Bambang Arman Depari serta Kepala Polres Jakarta 
Barat Komisaris Besar Edward Syah Pernong. 

Di wilayah Polres Jakbar, tahun 2004 ada 109 siswa SMA mengonsumsi 
narkoba. Tahun 2005, jumlahnya naik lebih dari dua kali lipat, yaitu 
318 siswa. 

Tahun 2006 bertambah lagi menjadi 393 siswa. Pada periode yang sama, 
hanya 83 siswa SMP yang mengonsumsi narkoba. Tahun 2005 menjadi 193 
orang dan bertambah menjadi 247 orang di tahun 2006. 

"Pemicunya lingkungan pergaulan, menyusul keretakan rumah tangga 
orangtua siswa," ujar Hutabarat. Tentang mengapa jumlah siswa SMA 
lebih banyak mengonsumsi dibandingkan dengan yang lain, ia 
menjawab, "Masa-masa itu menjadi masa penuh gaya. Masa saling 
mempertontonkan kisah keberanian, nyali, dan daya tahan fisik 
mereka. Sementara di sisi lain, faktor pengendalian diri 
terabaikan." 

Data serupa disampaikan Imam. Di wilayahnya, tahun 2005 ada 10 siswa 
SMP, 11 siswa SMA , lima mahasiswa, dan tujuh pemuda drop out 
mengonsumsi narkoba. Tahun berikutnya, 19 siswa SMP, 40 siswa SMA, 
lima mahasiswa, dan empat pemuda drop out. 

"Selain soal pergaulan yang buruk di tengah masa pencarian jati 
diri, kondisi rumah tangga orangtua yang tidak harmonis ikut 
mendorong mereka terpikat narkoba," ucap Imam. 

Untuk menekan tingkat pengguna narkoba di lingkungannya, tiga bulan 
lalu Imam mulai membentuk Satgas Kawasan Bebas Narkoba tingkat RW. 
Di setiap kelurahan ada satu RW yang memiliki satgas ini. 

"Penentuan mengenai RW mana yang pantas memiliki satgas umumnya 
adalah wilayah RW yang dianggap paling rawan," kata Imam. Kehadiran 
satgas ini mempertajam kehadiran badan narkotika tingkat kota yang 
ada di kecamatan dan kelurahan. 

"Saya mengadopsi sistem ini dari Jepang. Di Jepang, di setiap blok 
rumah ada sebuah rumah yang berfungsi, antara lain, sebagai pos 
pengaduan pengguna narkoba," tutur Imam. 

Dia mengingatkan, para pengguna narkoba berpotensi melakukan tindak 
kriminal. Apalagi saat membutuhkan narkoba. (WIN) 



         

 
---------------------------------
 Get your own web address.
 Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke