Ada baiknya judulnya diluruskan sedikit. Tulisan aslinya cuma bilang kalau lebih dari separuh penduduk Singapura menentang foreign worker. Sama yang mengirimkan email ini lantas diplesetkan menjadi lebih separuh penduduk Singapura membenci pekerja Indonesia, mungkin biar provokatif. Artinya kan jauh berbeda.
Latar belakangnya adalah karena saat ini sekitar 15% penduduk Singapura adalah warga negara asing yang bekerja menggunakan Employment Pass atau Work Permit. Orang-orang asing ini, terutama yang baru datang biasanya bersedia digaji "berapa saja" agar kakinya bisa melangkah memasuki pintu. Hal-hal yang seperti ini pada gilirannya menekan gaji pada umumnya di Singapura menjadi rendah. Yang tidak mereka sukai sebenarnya bukan para TKI atau pembantu rumah tangga dari Indonesia. Kalau itu sih malah sebaliknya. Mereka tidak bisa hidup tanpa pembantu rumah tangga. Ekspatriat dari Indonesia yang jadi manajer atau peneliti umumnya juga tidak dipermasalahkan karena posisi itu tidak menyangkut "hajat hidup orang banyak". Yang mereka cemaskan sekarang adalah mulainya lapangan pekerjaan yang biasanya hanya utuk WN Singapura diambil oleh para pemegang Employment Pass ini. Pekerjaan ini umpamanya pekerjaan administrasi, pekerjaan teknisi, customer service, dan pekerjaan yang bergaji menengah lainnya. Orang Singapura umumnya berada pada kisaran ini. Kalau lapangan pekerjaan ini pun gajinya ditekan karena bersaing dengan pendatang dari Cina, India, Indonesia, dan Filipina, maka yang terbayang di benak mereka adalah masa depan yang suram dengan gaji rendah dan biaya hidup tinggi. Terakhir, yang ngumpul-ngumpul di Orchard itu umumnya pembantu dari Filipina. Kalau mau ketemu teman sebangsa, main-mainlah ke Geylang di sekitar Es Teler 77. Disanalah para TKI kita kumpul-kumpul. Andi --- In [email protected], john simon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau kita amati kawasan Orchard Rd S'pore, tepatnya di sekitar Lucky Plaza, utamanya hari Sabtu-Minggu, daerah itu secara "de facto" sudah jadi "Little Indonesia" lho (walaupun mayoritas berprofesi PRT). Nggak heran kalau warga S'pore jadi "kepanasan" begitu. > > > ----- Original Message ---- > From: mulyadi stephanus <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Monday, March 5, 2007 12:03:20 PM > Subject: RE: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: More than half Singaporeans hate Indonesian workers? > > Salam, > > dugaan saya, ke depan akan semakin banyak putera-puteri terbaik Indonesia bekerja di luar negeri. Ada banyak faktor yang menyebabkan itu. Antara lain saya kira kejadian seperti yang diceritakan pak Wal itu. > > Program beasiswa oleh negara maju untuk putera-puteri terbaik Indonesia adalah salah satu program negara tersebut untuk mencari bibit "unggul" untuk bekerja di negeri pemberi beasiswa. > > Saya punya 2 orang teman puteri, satunya dapat beasiswa saat dia masih kelas 1 SMU dari Singapura. Dia memang pintar. Dia dapat beasiswa sampai PT, dan sekarang bekerja di perusahaan bagus di Singapura. Karena sudah langsung dipesan oleh perusahaan saat dia masih kuliah. > > Teman kedua juga puteri. Atas biaya sendiri kuliah Tehnik Arsitektur di Weimar, Jerman. Selesai kuliah hanya dua minggu di Indoesia, dan langsung terbang ke Singapura. Sekarang dia sudah menjadi Arsitek jajaran kelas Internasional dan berkantor di Singapura. > > Ketika saya tanya kenapa tidak mau kerja di Indonesia, keduanya kompak bilang di LN mereka merasa lebih aman, nyaman, dapat tantangan untuk terus berprestasi, dan terakhir juga jujur diakui....pendapata n lebih baik dari di Indonesia. > > Saya pernah punya pengalaman kerja di salah satu BUMN di Indonesia. Memang gajinya untuk ukuran lulusan baru sangat besar. Saat itu saya dapat gaji bersih lebih dari 3 juta/bulan, belum ditambah tunjangan ini-itu. > Tapi saya hanya tahan kerja di sana dua tahun, dan hampir stress. Kebetulan tugas saya bagian penerimaan pegawai baru. Setiap hari dapat "surat sakti" dari orang penting, agar saya memberi nilai tertinggi bagi calon titipan, dengan demikian calon diterima. Karena tidak bisa melakukan itu kalau calonnya payah, saya terus diancam, dimarah dan bertengkar dengan atasan, dll. Akhirnya saya pilih keluar dari pada mati muda. > > Sekarang saya tenang di negeri orang. Bukan tidak cinta tanah air, tapi di sini saya bisa memperoleh hidup, dan hidup dalam kedamaian. Kenapa tidak? > > Sedikit info bagi yang minat, untuk negara Jerman dalam 5-10 tahun kedepan akan mengalami krisis tenaga kerja. Karena tenaga yang sekarang akan tua, dan di Jerman kekurangan anak muda. Hal itu terjadi juga di bidang tenaga kerja profesional/ ahli. Ini menurut saya peluang bagi putera-puteri Indonesia yang berkualitas untuk bersaing memperoleh pekerjaan itu. > Tak tahu saya, apakah info saya ini baik atau buruk atau tidak cinta tanah air, silahkan masing-masing menilainya. > > Salam > Mulyadi >
