Boleh percaya, boleh tidak, tadi malam saya bermimpi, Presiden
mengundurkan diri dari jabatannya. Dalam pidato pengunduran dirinya,
beliau menyatakan bahwa sejak diangkatnya beliau menjadi presiden
bencana di Indonesia datang silih berganti, dari Bencana Gempa dan
Tsunami di Aceh dan Nias pada tahun 2004, dalam suasana natal,
menyusul gempa di Sumbar, gempa dan tsunami di Pelabuhan Ratu, gempa
di Yogya, semburan lumpur panas Lapindo, Tenggelamnya kapal Senopati
Nusantara, Kecelakaan Adam Air, banjir di Jakarta, Longsor di NTT,
Terbakarnya kapal Levina, gempa di Solok Sumbar dan terakhir
meledaknya pesawat Garuda di Yogya.

Dalam doanya beliau bertanya2 kepada Tuhan, Apakah dosaku ya Tuhan?,
sehingga dalam masa lima tahun kepemimpinanku sebagai presiden ini
bencana datang silih berganti. Apakah ini karma dari dosaku atau
balasan atas dosa warga negaraku dan elit2 bangsaku yang kurang eling
lan waspodo? Apakah ini cobaan? Apakah ini tantangan untuk
berprestasi? Apakah aku terlalu lamban bergerak dan bersikap, sehingga
alam menggeliat seakan2 berteriak agar aku lebih gesit dan cekatan?
Apakah aku sang pembawa malapetaka? Apakah aku yang menyebabkan
malapetaka ini? Aku sudah berbuat banyak ya Tuhan, namun kenapa
bencana ini datang silih berganti?

Akhirnya malam dini hari itu, sang presiden membacakan pidato
pengundurdiriannya, karena ia adalah orang yang bertanggung jawab.

Percaya atau tidak?
Sehabis mimpi ini aku mau tidur lagi ahh.
Aku mau tidur lagi dan bermimpi yang indah-indah untuk Indonesiaku,
Indonesia kita yang tercinta. Indonesia yang lebih indah dan
mendebarkan hati.


--- In [email protected], Lisman Manurung
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Begini rekan-rekan.
>
> Ada dua hal yang berhubungan dengan masalah ini.
> Pertama adalah teori rasionalitas afiliasi. Ini teori
> baru dan sudah ditest. Nah, test nya sekarang di
> Indonesia. Teori ini adalah: Kalau di satu himpunan
> orang-orang yang melakukan A terdapat orang yang tidak
> melakukan standar A, maka pantaslah orang itu
> dikeluarkan.
> Nah, dengan kasus Menteri Perhubungan, di mana dia
> justru terbukti selalau melakukan A, maka apa
> urusannya dia harus dikeluarkan dari jabatan Menteri?
> Catatan : A = ini yang masih perlu diteliti barang apa
> ini.
>
> Kedua adalah kontrak jabatan. Dalam kontrak jabatan
> Menteri katanya tidak dinyatakan secara eksplisit
> bahwa human error adalah tanggung-jawab Menteri.
> Karena human error adalah urusan langit, dan itu tidak
> bisa dikategorikan kesalahan Menteri, lantas  mengapa
> Menteri harus mundur?
>

Kirim email ke