Lha kalo banyak mbak-mbak di sini yang jelas-jelas perempuan bilang bahwa 
asumsi Anda keliru, tapi Anda masih ngotot percaya bahwa asumsi Anda benar, 
maka saya jadi bingung nih: Anda ini kekeh karena merasa lebih tahu tentang 
perempuan daripara perempuan itu atau memang nggak mau dengar apapun kata 
orang, meski yang mengatakan itu adalah perempuan sendiri (lebih dari satu 
lagi)?
   
  Yang manapun jawaban Anda, dua-duanya sama-sama akan membawa Anda terperosok 
dalam arogansi laki-laki. Merasa lebih tahu tentang perempuan daripada 
perempuan sendiri, dan tak mau dengar apa yang dikatakan perempuan tentang diri 
mereka sendiri. Sudah terang banyak perempuan bilang pandangan Anda keliru, 
tapi masih tetap mau dipertahankan.
   
  Soal siapa yang memimpin, Pak Andi, sebetulnya soal kecil. kalo yang mimpin 
berjiwa besar, rendah hati, toleran, memahami sepenuhnya orang yang 
dipimpinnya, egaliter, mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan 
sendiri, maka tak akan ada masalah. Tapi, seorang pemimpin yang memiliki 
ciri-ciri itu semua akan menolak disebut pemimpin. He he he...
   
  manneke

si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Hahaha kalah taruhan Anda, Pak. Kami di rumah tak punya pembantu. 
Jadi isteri saya sudah terbiasa tega melihat saya masak-nyuci-ngepel, 
apalagi kalau cuma ngangkat tas golf (yang "cuma" kira-kira 20 
kiloan).

Tapi saya masih percaya kalau perempuan itu lebih senang dipimpin 
(walaupun mbak-mbak di sini tidak mau mengakui...hehehe). Soal apakah 
si lelaki nanti menjadi lebih akomodatif itu hasil dinamika hubungan 
keduanya kalau sudah mapan dan juga tuntutan keadaan.

Masih banyak amunisi saya, sebenarnya. Sayang tiga hari kedepan saya 
tidak ada akses internet dan topik ini akan hilang sudah ditelan 
gelombang.

Andi

Kirim email ke