Dear temans,
Dalam memperingati Hari Perempuan Sedunia, Saya mencoba menggoreskan sedikit
catatan pinggir tentang perempuan melalui sebuah analogi yang bertema LILIN,
untuk bahan renungan-- khususnya bagi para lelaki, dan pelaku rehab rekon
di Aceh--, di website lokal milik Aceh Insitute, pada kolom Oase,
www.acehinsitute.org
Tidak banyak yang bisa saya lakukan, selain memcoba berbagi pikiran yang
secuil ini. Semoga bermanfaat.

Bila sulit download, di sini saya lampirkan narasi utuhnya.

*LILIN*
(Zubaidah Djohar)

Kecil barangnya, besar khasiatnya. Terbukti dengan cahayanya yang
redup-redup mampu memberi kehidupan, khususnya lagi di tengah suasana gelap
gulita. Kehadirannya juga dibutuhkan dalam mendukung kekhidmatan suatu acara
–untuk mengesankan sepi dan hening-- seperti ketika berkabung atau saat
mengharap kedamaian hati.

Lilin tak hanya menebar cahaya, tetapi juga menebar wangi. Namanya lilin *
aromatherapy* yang berfungsi untuk menenangkan kondisi psikis. Bagi mereka
yang sedang kelelahan dan membutuhkan relaksasi maka lilin
*aromatherapy*bisa menjadi jawabannya. Stres hilang dan fikiran pun
terasa lebih enteng.
Bahkan bagi mereka yang berbaring di *bathtub* akan kurang lengkap tanpa
lilin jenis ini. Tujuannya untuk menambah kenyamanan tubuh dan fikiran.
Senyum pun mulai tersungging, dan hati yang tersinggung pun mulai bernyanyi
kembali.

Lilin juga bisa menjadi sumber inspirasi. Lihat saja penyair mampu
melahirkan bait demi bait lagu, mulai dari Jaipong Es Lilin yang populer di
Parahyangan hingga C*andle in the wind-*nya Elthon John. Bahkan lilin pun
bisa menjadi simbol kebajikan, sekaligus kebodohan. Ketika kepedihan
menerpa, jerih payah tak berbalas, maka lahirlah semboyan; hidup bagaikan
lilin. Menerangi, namun terus membakar diri, meleleh dan akhirnya habis.
Namun sebaliknya, ketika hati tengah memuja, lilin pun mampu menjelma
seperti Dewi Fortuna, mampu menerangi kebutaan meski tubuhnya sendiri habis
terbakar. Tak jarang pilihan ini dimanipulasi untuk kepentingan-kepentingan
tertentu. "Luar biasa, jadilan seperti lilin" begitulah seruan mereka.

*Ibarat lilin, demikianlah nasib perempuan.*
            Si pemberi kehidupan yang sering terlupakan. Ketika semua berada
dalam kegulitaan: disaat sang suami frustasi dan tak tahu melakukan apa,
hadirlah istri menggantikan posisi memburu rupiah; disaat semua laki-laki ke
medan pertempuran tanpa kepastian tanggal kembali, istri tetap setia dan tak
patah arang* *menghidupi anak-anak; ketika semua tak bernyali, perempuan
berani melewati jalanan mencekam demi menghantar bantuan bagi korban; ketika
tsunami datang, perempuan lah yang pertama sekali menjadi juru selamat.
Namun sayang, sering "sinar" itu tak berbayang. Seperti lilin, seakan
kehadirannya hanya untuk melengkapi suasana saja, bahkan cukup diperlakukan
sebagai "pemanis" ketika bicara perdamaian.

Seperti lilin, perempuan tak hanya menebar cahaya, tetapi juga mampu menebar
wangi. Ketika suami bertingkah dan bermasalah, adalah isteri sebagai juru
selamat dan berdiri menjadi sosok yang menanggung salah –dianggap tak becus
mengurus diri, suami, anak, dan rumah; ketika perang bergelora, adalah
perempuan yang menjadi tameng (objek seksual dan target penyiksaan) demi
melindungi lelaki terkasih yang sedang jadi incaran; ketika suami
berselingkuh, adalah istri yang meralat isu miring itu di tengah hati yang
hancur lembur; ketika suami berpoligami dan dicerca sebagian masyarakat,
adalah istri melindungi dengan kata mengizinkan meski tak rela; ketika dana
pendidikan hanya tersedia untuk satu anak, maka anak perempuan lah yang
mengalah meski ia lebih pintar –karena besarnya nanti toh kembali ke dapur
juga.

Bahkan lebih dari itu, sebagai lilin, perempuan adalah *aromatherapy*-nya.
Saat suami *stress* jadilah istri sasaran umpatan; ketika hutang tak
terbayar jadilah anak perempuan sebagai penebusnya; ketika laki-laki butuh
suasana baru, tanpa berdosa mengincar aroma "lilin" yang lain*,* dan
melupakan "lilin" yang pernah ia nyalakan. Sayangnya, banyak di antara kita
yang masih bisa tersenyum di tengah luka dan nestapa itu. Akibatnya banyak
perempuan yang akhirnya buta akan arti kesehatan, tak memiliki pendidikan
ataupun keterampilan, karena waktu telah begitu lama membelenggu mereka
menjadi pemberi sinar yang habis di makan oleh waktu.

Banyak yang takjub dengan perempuan yang mampu berperan seperti lilin.
Banyak pujian, sanjungan, kebanggaan atas peran tersebut. Ia dikagumi karena
kegigihannya bertarung melawan kerasnya dunia, dipuja karena tidak berontak
meski haknya telah tercabik, dibanggakan ketika ia mampu bangkit setelah
terjerembab mendaki gunung kehidupan, diagungkan karena ia mampu melahirkan
kehidupan dan melupakan dirinya sendiri. Namun, ketika tiba pada bab
kesejahteraan untuk mereka, semua pihak bungkam! Kita lebih merasa cukup
hanya dengan tetap memuja tanpa mau berbagi hak dan keadilan. Dengan dalih
takdir perempuan adalah dari tulang rusuk laki-laki, lebih mengalah, lebih
sabar, berdiam di ruang tiga* *(kasur, sumur dan dapur), siap dimadu, tidak
intelek, dan menderita. Atas nama takdir itu pulalah tanpa sadar kita telah
membenarkan kekerasan dan serangkain ketidakadilan terjadi atas perempuan.

Maka filosofi itu pun terbenarkan; semakin menderita perempuan, semakin
mulia lah ia; semakin sabar ia dari makian, makin lengkaplah kewanitaannya;
semakin tahan ia dari kekerasan, semakin salehah lah ia. Namun bila ia makin
mampu berargumentasi, maka makin keras lah "pukulan" untuknya.

Masih ingat dengan Muhammad Yunus? Kenapa ia bisa meraih nobel perdamaian
tahun lalu? Ada mutiara di balik itu. Visinya yang mampu mengangkat
"mutiara" itu dan menjadikannya berharga di mata dunia ketika mewujudkan
kedamaian yang hakiki. Ia begitu *concern* memberantas kemiskinan  yang
dimulainya dengan membuka *kran kesejahteraan bagi perempuan*. Filosofinya,
bila perempuan diberi kredit mereka lebih bersungguh-sungguh dalam bekerja,
teliti, telaten dan jujur. Mereka lebih tahu "jalan pulang" ketika telah
pegang uang. Impian selalu bermuara pada membahagiakan anak-anak. Tak pernah
mereka berfikir untuk singgah dulu ke warung kopi. Alih-alih
memikirkan *aromatherapy
*untuk diri sendiri, mereka lebih memikirkan bagaimana agar susu anak bisa
terbeli. Inilah perdamaian yang sejati yang harus diperjuangkan, yang
dimulai dengan melepaskan masyarakat dari rantai kemiskinan!

Pertanyaan buat para pemegang kekuasaan –termasuk politisi dan birokrasi--
apakah nasib dan hidup perempuan akan terbiar? Atau sedang difikirkan cara
untuk menggandeng tangan mereka dalam menciptakan kehidupan yang lebih adil
dan bermartabat di Aceh?

Untuk pelaku rehabilitasi, belajarlah mengingat nasib ibu sendiri bila
tengah menghitung lembaran trilyunan itu. Ingatlah masih banyak ibu-ibu yang
sedang menunggu disana. Saya tidak khawatir bahwa seluruh pegiat
rehabilitasi ingin membahagiakan ibu sendiri. Namun, yang Saya sangsikan
adalah bila mereka hanya tahu membahagiakan ibu sendiri dan lupa dengan
nasib ibu-ibu yang lain. Padahal hitungan trilyunan itu juga milik ibu-ibu
yang lain. Akan lebih celaka bila ternyata ibu sendiri malah ikut terlupa!

Sudah saatnya kita tidak sebatas takjub dengan sinaran lilin perempuan, tapi
berfikirlah untuk menyelamatkan raga mereka yang luluh karena membakar diri.
Jadikan dia seperti matahari, tetap bersinar tanpa harus membunuh diri
sendiri. Semakin terik sinarnya, semakin luas senyumnya, semakin bermakna
cahayanya. Dan semakin layak lah ia hidup.

Semoga Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada tanggal 8 Maret kemaren
menemukan Maknanya! Hati kita mulai terketuk dan kesadaran pun mulai
menjemput. Ingat, bahwa di sekeliling kita hadir wajah-wajah perempuan; Ibu,
kakak perempuan, adik perempuan, saudara perempuan dan ANAK perempuan.
Mampukah kita menatap wajah getir mereka di tengah gemerlapnya hidup ini?
Semoga kedamaian hakiki menjadi milik kita semua! (ZDj)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/4It09A/fOaOAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

=====================================================
Pojok Milis FPK:

1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke