Oleh ABA MARDJANI 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/11/seni/3344632.htm
=====================

Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Kilat 
menjilat sambung-menyambung seperti ingin membakar langit. Halilintar 
bersahut-sahutan tiada henti bagai ingin membelah dunia. Kedinginan 
di halte bus senja itu aku merasa benar-benar kecil. Pasrah oleh 
jilatan tempias hujan atau sesekali cipratan air yang dilindas ban-
ban mobil. Angin berkesiur liar kian kemari. Terlintas dalam benakku 
bagaimana jadinya jika aku disambar petir. Tubuh terbakar hangus 
seketika. Gosong. Atau tiba tiba air bah datang dan menghanyutkan 
tubuhku seperti sepotong kayu. Rasa sesal dan kesal menyeruak dalam 
dadaku. Betapa bodoh dan tololnya aku. Bukankah aku seharusnya turun 
di dua halte berikutnya? Kalau tidak melakukan tindakan tolol ini, 
mungkin aku sudah duduk sembari ngopi ditemani istriku di sebuah 
gubuk tempat kami mengontrak selama ini. Dalam badai petir seperti 
ini, mungkin juga aku sudah berada di tempat tidur bersama istriku, 
seorang perempuan yang tidak cantik tapi juga tak bisa disebut jelek. 
Dalam dingin apa saja bisa terjadi di tempat tidur. 

Seorang laki-laki sepantaran aku yang sejak tadi berdiri agak jauh 
mendekat. Aku bersiaga. Khawatir juga kalau-kalau ia ingin mencari 
kehangatan bersamaku. Ia tak mungkin merampok aku karena tak ada 
sesuatu pun yang bisa dirampasnya dari aku. Di dompetku cuma ada tiga 
lembar uang lima ribuan. "Punya korek?" ia menyergapku sebelum aku 
sempat menggeser. Sebatang rokok siap dinyalakan. Kurogoh saku celana 
sebelah kanan untuk mengambil korek api lalu kuberikan kepadanya. 
Setelah menyulut rokoknya, laki-laki itu menyodorkan bungkus rokoknya 
kepadaku. Buru-buru kuucapkan terima kasih seraya mengambil bungkus 
rokok milikku dari saku belakang celana. Masih tersisa dua batang. 
Kuambil satu. Agak mletot karena terduduki. Sesaat kemudian asap 
rokok kami sudah berpilin-pilin menjadi satu untuk kemudian hilang 
menyatu dengan putihnya tempias hujan. 

"Mau pulang?" laki-laki itu bertanya. Tanpa menoleh ke arahku. 

Aku berdehem. "Aku salah turun. Seharusnya di dua halte berikutnya. 
Kalau tidak, mungkin aku sudah sampai di rumah," kataku sembari 
menatap ke jalan. Senja makin lebam. Hujan masih saja lebat. Genangan 
air mulai meninggi. Angin masih berkesiur. Aku bersidakep menahan 
dingin. 

"Bekerja di mana?" laki laki itu melanjutkan setelah melepas asap 
rokoknya untuk kesekian kali. 

"Dulu. Di sebuah kantor," aku sengaja berbohong. 

"Tapi aku dipecat. Perusahaan hampir pailit karena kelebihan 
karyawan, sementara order menurun. Aku jadi korban. Sekarang 
nganggur. Kerja serabutan. Apa saja. Yang penting bisa makan." 

Laki laki itu tertawa kecil. Suaranya nyaris tak terdengar karena 
hujan begitu lebat. Tak jelas mengapa ia tertawa. 

"Kalau mau, aku bisa bantu," kata laki-laki itu kemudian. "Atau 
tepatnya mungkin kau bisa membantu aku." 

Untuk pertama kali aku menoleh ke arah laki-laki itu. Tubuhnya hampir 
tak berbeda dengan aku. Agak kurus. Agak tinggi. Hidung mancung. Mata 
dan pipi cekung. Rambut mulai banyak ditumbuhi uban. Agak gondrong. 

"Kerja apa?" aku bertanya sembari menggaruk-garuk dahi untuk 
menyembunyikan perasaan gembiraku. 

"Kenalkan dulu," ujarnya seraya menyodorkan tangan. "Namaku Sukra." 

"Sukro," aku menyebut namaku. 

Laki-laki itu tiba-tiba terbahak. "Nama kita hampir sama ya. Aneh 
juga. Tapi itu tidak penting. Yang penting kau mau bekerja sama." 

Setelah itu kami jadi lebih akrab. Kami ngobrol hingga senja hilang 
dan sinar merkuri mulai memunculkan siluet. Dan hujan tiris. Ketika 
aku akhirnya melangkah meninggalkan halte bus itu, terus terngiang 
ajakan Sukra. 

"Kita merampok," katanya getas. Aku kaget. Sukra tertawa. "Kita 
merampok orang kaya. Karena umumnya orang kaya pun perampok. Uang 
mereka pun belum tentu uang halal. Ada yang hasil korupsi, ada yang 
curang dalam berdagang, macam-macamlah. Kita ambil barang sedikit 
dari mereka. Mereka pasti tidak jadi jatuh miskin. Uang mereka 
banyak. Banyak sekali." 

Tak kuceritakan pertemuan tak terduga dengan Sukra itu kepada 
istriku. Tak ada gunanya. Lagi pula istriku selama ini tak pernah mau 
tahu apa pekerjaanku. Baginya yang penting aku pulang membawa uang. 
Seperti hari ini. Meski cuma lima belas ribuan. Malamnya, meski 
dingin menyungkup, aku jadi tak bisa tidur. Gelisah saja. Ajakan laki 
laki itu terus menggodaku. Istriku di sebelahku sudah terlelap. Dalam 
remang kulihat wajah pasrahnya. Kadang-kadang kasihan juga aku 
melihat wanita ini. Di antara empat saudaranya, hidupnyalah yang 
paling susah. Kakaknya, seorang wanita, menikah dengan seorang 
juragan beras. Adiknya, laki laki, bekerja di sebuah perusahaan cukup 
besar. Entah di bagian mana. Yang pasti, hidupnya tak pernah 
kelihatan susah. Ia memiliki sebuah mobil dan dua sepeda motor. Si 
bungsu, perempuan, menikah dengan seorang polisi. Hidupnya juga tak 
kelihatan susah. Malah yang paling makmur. 

Merampok? Ah, tak mungkin kulakukan pekerjaan itu. Aku terlalu 
pengecut untuk melakukan perbuatan penuh risiko itu. Bagaimana kalau 
yang punya rumah terbangun? Lalu terjadi perkelahian. Lalu aku 
terluka. Atau bagaimana kalau aku tertangkap warga? Bisa babak belur. 
Bisa juga dibakar massa. 

Esoknya aku bekerja tanpa gairah. Hari itu, tugasku memasang pompa 
air. Sudir, teman sekerjaku, sampai jengkel karena setiap kali 
mengangkat pipa yang akan ditancapkan ke perut bumi kulakukan dengan 
setengah tenaga. Sebentar-sebentar aku juga minta istirahat. Kubilang 
badanku kurang enak. 

Sukra tiba-tiba muncul lagi ketika aku sedang duduk berteduh dengan 
seplastik air dingin di tanganku. "Untuk apa kau bekerja keras kalau 
sebenarnya ada pekerjaan lain yang jauh lebih ringan dengan 
penghasilan yang jauh lebih besar," kata Sukra sembari mengepulkan 
asap rokoknya. 

"Merampok itu bukan pekerjaan ringan, Kra," jawabku sinis. 

Sukra mengakak. "Kalau kau takut merampok, aku bisa memberimu 
pekerjaan lainnya. Ada banyak pilihan pekerjaan, Sukro. Itu kalau kau 
mau. Kalau tidak, selamanya hidupmu susah. Selamanya miskin." 

Aku diam saja. Semilir angin membelai dan menyejukkanku. 

"Kalau kau mau," Sukra meneruskan kalimatnya. "Jadi pengedar, 
misalnya. Ada ekstasi, sabu-sabu, ganja, atau apa saja yang 
dibutuhkan konsumen." 

"Pekerjaan itu cuma merusak bangsa sendiri, Sukra!" aku membentak. 

Sukra mengakak lagi. "Kalau bukan kita yang melakukannya, orang lain 
yang mengambil alih. Sama saja. Apa salahnya justru kita yang 
mengambil kesempatan itu." 

"Kesempatan merusak orang lain? Merusak bangsa sendiri?" 

"Sudahlah kalau kau memang tak tertarik," Sukra membanting rokoknya. 
Lalu beranjak pergi dengan membawa derai tawanya. 

Sukra muncul lagi di hari ketiga ketika aku makan siang di sebuah 
warung Tegal. Ia langsung duduk di sebelahku. Tanpa basa-basi 
kepadaku, ia ikut memesan makanan. 

"Diajak merampok enggak mau, jadi pengedar enggak mau. Jadi maumu 
apa?" Sukra berkata kepadaku. Agak berbisik. Aku diam saja. 

"Oya, nanti malam, kalau kau mau, aku ada pekerjaan untukmu. Bukan 
merampok. Bukan jadi pengedar." 

"Jadi apa?" 

"Aku punya tamu. Lima turis Jepang. Mereka mau ke Bali besok sore. 
Mereka butuh teman wanita. Bisa kau carikan? Bayarannya besar, Kro. 
Upahmu seratus ribu untuk setiap satu perempuan. Ini tanpa risiko. 
Kau bisa cari di banyak tempat di Jakarta ini," kata Sukra. Lalu 
disebutnya nama sebuah hotel tempat di mana aku bisa menemuinya. 

"Itu pekerjaan haram," kataku singkat membuat Sukra tertawa. 

"Haram? Ya, mungkin kau benar. Tapi, cobalah berpikir sedikit lebih 
rasional, Sukro. Setiap hari kau bekerja keras. Untuk hasil yang 
pasti tak sepadan. Hanya cukup untuk makan. Itu pun mungkin pas-
pasan. Nah, kalau kau ambil pekerjaan yang kutawarkan ini, dalam 
beberapa jam saja kau sudah bisa mengantongi uang lima ratus ribu. 
Apalagi kalau pekerjaanmu bagus. Setiap pekan aku pasti punya tamu 
orang asing. Dan mereka membutuhkan wanita-wanita penghibur. Jadi, 
setiap pekan kau bisa membawa pulang lebih banyak dibandingkan apa 
yang sudah kau peroleh selama ini." 

Buru-buru kutinggalkan Sukra di warung Tegal itu. Ia mengakak seperti 
biasanya seraya meraih tanganku. Menahanku dengan paksa. "Tenang 
dulu, Kro! Mau ke mana kau? Baiklah kalau kau tak mau menerima 
tawaranku. Tapi setidaknya kita bisa ngobrol-ngobrol. Tentang apa 
saja." 

Dengan perasaan agak jengkel aku terpaksa duduk lagi. Mendengar 
celoteh Sukra. Tentang hidup enak dengan jalan pintas. Merampok. Jadi 
pengedar. Jadi makelar wanita. Kini entah apa lagi yang akan ia 
tembakkan dan cekokkan kepadaku di warung Tegal yang kecil dan pengap 
itu, tempat di mana aku bisa menjejalkan makanan ke perutku sampai 
kenyang hanya dengan uang lima ribuan. 

Aku mengambil sebatang rokok. Sebelum sempat kunyalakan, seorang 
perempuan setengah baya duduk di sebelah kiriku. Terpaksa aku 
menggeser sedikit, memepet Sukra. Rokok tak jadi kunyalakan. Tak enak 
juga mengepulkan asap rokok di tempat kecil itu dan di sana ada 
seorang perempuan. 

"Sudah lama kau bekerja seperti sekarang?" Sukra memulai lagi 
percakapan. 

"Sudah kubilang setelah dipecat dari sebuah perusahaan," sahutku ogah 
ogahan. 

Sukra tertawa kecil. "Maaf, aku lupa." 

Selepas makan, Sukra membawaku ke sebuah tempat di bawah pohon mahoni 
di seberang warung Tegal tempat kami barusan makan. Aku sebenarnya 
ingin buru-buru berpisah darinya. Tapi ia bilang masih ada satu 
peluang bagiku untuk mengubah hidupku menjadi lebih baik. Ia baru 
akan membiarkan aku pergi setelah mendengar tawarannya. "Kau tolak 
pun tak apa. Tapi sebaiknya kau dengarkan dulu. Siapa tahu kau 
tertarik," katanya meyakinkanku. 

Di bawah pohon mahoni yang daunnya meneduhkan dan menyejukkan itu 
kami kemudian duduk berdua di dua buah batu besar. Berhadap-
hadapan. "Aku punya tawaran pekerjaan lain yang sangat menyenangkan. 
Tak begitu berat. Secara fisik kau juga mungkin akan mendapatkan 
kenikmatan selain juga menerima bayaran yang sangat sepadan," Sukra 
memulai serangannya. Aku cuma terdiam. 

"Wajahmu cukup ganteng. Apalagi kalau sedikit kau rawat. Dan muda. 
Sebagai pekerja kasar, kau juga berotot. Kurasa pekerjaan ini cocok 
untukmu. Lagi pula, kau tak perlu bekerja setiap hari atau setiap 
malam. Kau hanya bekerja bila tenagamu benar-benar dibutuhkan. 
Sebelum atau sesudah menunaikan tugasmu, kau bisa tetap berkumpul 
bersama istrimu." 

Aku masih saja bungkam. Tetap belum dapat kutebak ke mana arah 
bicaranya. 

"Kau tahu pekerjaan apa yang aku maksud?" Sukra seperti memaksa aku 
bicara setelah terus-menerus diam mendengarkan. Aku menggeleng. 

"Aku punya dua klien. Yang pertama seorang wanita setengah baya. 
Cantik. Janda. Kaya. Kesepian. Kau bisa bekerja untuknya. Mungkin dua 
kali seminggu. Mungkin juga seminggu sekali. Tergantung kebutuhannya. 
Tapi gajimu tetap tiap bulan. Tidak tergantung pada seberapa banyak 
kau bekerja. Kau bahkan tetap menerima gaji andai klienku ini ke luar 
negeri dan kau tak bekerja dalam sebulan. Atau, bisa juga dia 
mengajakmu ke luar negeri." 

Sebelum aku berkata-kata, Sukra melanjutkan, "yang kedua adalah 
seorang pria. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darimu. 
Ia masih membujang. Ia tak suka wanita. Ia menyukai sesama jenis. 
Nah, kau juga bisa bekerja untuknya. Tidak setiap hari juga. Dan, kau 
bisa ambil klienku yang wanita saja, atau yang pria saja. Boleh juga 
kedua-duanya sekaligus kalau kau mau dan mampu. Gajimu pun jadi dua 
kali lipat?? 

"Kedua-duanya pekerjaan haram," aku berkata ketus. Sukra 
tertawa. "Mengapa bukan kau saja yang melakoninya?" 

"Kro, Sukro. Aku mau menolongmu. Aku malaikat penolongmu. Semua 
pekerjaan yang pernah kutawarkan kepadamu itu sudah kulakoni. 
Sekarang aku mau berbagi denganmu. Itu saja." 

"Aku tidak tertarik," berkata begitu, aku buru-buru meninggalkan 
Sukra. Tanpa menoleh. 

"Sukro!" Sukra berteriak. "Tunggu!" 

"Tidak! Tidak! Tidak! Kau setan! Bukan malaikat!" aku berteriak. Dan 
lari. Sampai terengah engah. 

"Ada apa, Mas?" istriku mengguncang-guncang tubuhku. Aku terbangun. 
Masih terengah-engah. Kunyalakan lampu kamar. Kuteguk air putih untuk 
menenangkan diri. Lalu kulihat diriku pada cermin di kamarku. Di 
cermin itu kulihat wajah Sukro. 

Perigi, Tanah Kusir, Desember 2006 



Kirim email ke